UIN Bukittinggi Pacu Hilirisasi Riset Kampus Berdampak Nyata

Guru Besar UIN Sumatera Utara Prof. Dr. H. Nispul Khoiri, M.Ag. (foto; ist)

BUKITTINGGI, FOKUSSUMBAR.COM — Selama bertahun-tahun, riset dan laporan pengabdian kepada masyarakat (PKM) perguruan tinggi sering kali berakhir sebatas dokumen di perpustakaan atau pemenuh beban kerja administratif dosen. Karya ilmiah kampus belum sepenuhnya hadir sebagai solusi transformatif yang mendongkrak kualitas hidup masyarakat secara nyata.

Kesenjangan antara teori di ruang kuliah dan realitas lapangan inilah yang disoroti dalam Workshop Peningkatan Mutu dan Kompetensi Pengabdian Masyarakat yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UIN Bukittinggi pada Rabu dan Jumat (4–6/11/2026). Agenda ini diikuti para akademisi UIN Bukittinggi serta perwakilan dosen dari pelbagai perguruan tinggi yang tergabung dalam Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Kota Bukittinggi.

Dalam lokakarya tersebut, Guru Besar UIN Sumatera Utara Prof. Dr. H. Nispul Khoiri, M.Ag., membedah peta jalan strategis lewat konsep Relasi Hilirisasi PKM Berbasis Riset. Nispul menegaskan, pengabdian masyarakat mesti menjadi muara utama dari riset yang berpijak pada data ilmiah valid demi menekan risiko kegagalan program di lapangan.

Baca Juga :  UIN Bukittinggi Jadikan OASE 2026 Panggung Jejaring Berdampak

Ia mencontohkan pelatihan mahasiswa Fakultas Syariah dalam melahirkan produk kajian hukum dan naskah akademik aplikatif. Hasil riset tersebut diarahkan menjadi rujukan konkret bagi pembuat kebijakan (policy makers).

Peta Jalan Hilirisasi

Melengkapi perspektif hilirisasi riset di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), dosen UIN Raden Mas Said Surakarta Prof. Dr. Muhammad Latif Fauzi memaparkan model hilirisasi solutif berbasis pemetaan bidang keilmuan dan hasil penelitian.

Latif menjabarkan, riset Hukum Keluarga Islam yang menyoroti peradilan agama dan sengketa waris hendaknya dihilirisasi menjadi policy brief bagi Kementerian Agama maupun Mahkamah Agung, modul mediasi keluarga sakinah, serta rekomendasi regulasi. Pada bidang Otoritas Keagamaan dan Pendidikan Islam, kajian fatwa digital hingga efektivitas pesantren diarahkan menjadi modul literasi siber, panduan pelatihan ulama, platform e-pesantren, hingga modul ajar digital.

Baca Juga :  Anggaran Terbatas, Atlet Potensial Sumbar Terancam Diboyong Daerah Lain

Lebih lanjut, Latif menekankan pentingnya penerjemahan riset Ekonomi Syariah, Moderasi Beragama, serta Teknologi dan Lingkungan ke dalam aksi nyata. Kajian keuangan syariah dan UMKM halal diwujudkan melalui pendampingan sertifikasi halal dan digitalisasi zakat, sementara evaluasi kohesi sosial dan solusi sains lingkungan diimplementasikan dalam bentuk modul dialog damai, desa sadar moderasi, hingga prototipe pengolahan limbah pesantren dan aplikasi dakwah hijau.

Menurut dia, parameter evaluasi keberhasilan hilirisasi PTKI tidak lagi dihitung dari tebalnya tumpukan dokumen, melainkan diukur dari adopsi nyata produk oleh mitra, peningkatan kualitas layanan publik/keagamaan, jangkauan serta kepuasan penerima manfaat, hingga keberlanjutan program secara mandiri.

Melalui model hilirisasi ini, tolok ukur tridarma perguruan tinggi bergeser ke keberhasilan nyata. Pencapaian diukur dari tingkat kesiapan teknologi, perubahan perilaku warga ke arah yang lebih efisien, peningkatan pendapatan, terbentuknya kelembagaan baru seperti BUMDes, hingga kemandirian mitra.

Baca Juga :  Gubernur Mahyeldi dan Wabup Ihpan Tinjau Progres Pembangunan Pelabuhan Teluk Tapang

Rektor UIN Bukittinggi Prof. Dr. Silfia Hanani, M.Si., menyambut positif paparan tersebut dan menegaskan komitmen rektorat untuk mewujudkan gagasan kampus berdampak (impactful university). Integrasi riset dosen dan mahasiswa dinilai menjadi kunci agar perguruan tinggi keluar dari menara gading dan memberi sumbangsih nyata bagi kebijakan daerah. (irwandi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *