Berburu Tanggal Cantik

Oleh: Nurul Jannah*)

“Nung! Bangun! Lima menit lagi!”

“Ya Allah, Din! Ada apa? Gempa?”

“Lebih gawat! Diskon 09.09 mau dimulai!”

Aku langsung menyambar ponsel. Di layar, Dinda sudah siaga dengan dua ponsel, kopi hitam, dan rambut dijepit seadanya. Wajahnya serius seperti komandan perang, padahal yang hendak diserbu cuma keranjang belanja.

Sejak SMA, sahabatku itu memang jago menciptakan keadaan darurat.

Dulu kami begadang demi ujian, sekarang demi discount dan voucher gratis ongkir. Dulu takut tidak naik kelas, sekarang takut kehabisan stok. Dinda bahkan sudah menyusun daftar incaran sejak sore, lengkap dengan alarm dan pengingat pembayaran. Aku tak mau kalah, meskipun separuh isi keranjangku masih kosong.

“Keranjangmu siap?”

“Sudah. Tapi masih mikir soal sepatu.”

“Kamu mikir beli sepatu lebih lama daripada milih mantan!”

“Ya jelas, Din. Sepatu bisa awet bertahun-tahun. Mantan? Belum tentu sampai tanggal cantik berikutnya!”

Tawa kami meledak. Tepat tengah malam, dua perempuan yang biasanya mengeluh kurang tidur mendadak berubah menjadi atlet checkout kelas nasional.

“Nung! Blender turun dari delapan ratus ribu jadi empat ratus ribu!”

“Blenderku masih bagus.”

“Ya sudah, jangan beli.”

“Tapi warnanya biru. Cantik!”

“Nah! Kamu bukan butuh blender. Kamu butuh pembenaran!”

Tak lama, giliran Dinda mengirim tiga foto tas untuk meminta pendapat. Belum sempat kubalas, semuanya sudah dibayar. Ketika kutanya mengapa tak menunggu jawabanku, ia menjawab santai, “Takut kamu bilang jangan beli!”

Begitulah persahabatan kami. Saling menjaga rahasia, menghibur saat patah hati, dan sesekali kompak menjerumuskan saldo rekening. Kalau urusan diskon, solidaritas kami nyaris tanpa batas. Sayangnya, rekening tabungan tidak mengenal arti kesetiakawanan.

Pukul satu dini hari, kami bersorak karena merasa berhasil menghemat jutaan rupiah. Kami seperti memenangkan tender besar, padahal tak satu pun berani menghitung uang yang sudah melayang. Malam itu kami tidur dengan hati puas dan keranjang kosong. Rekening kami, sayangnya, ikut terkuras.

Baca Juga :  Cinta yang Merindukan Langit Biru

Tiga hari setelah 09.09.

“Nung! Aku mau sembunyi dari kurir!”

“Kenapa? Dikejar utang?”

“Paket ketujuh datang! Suamiku sampai tanya aku mau buka minimarket atau gudang logistik!”

Aku terbahak, lalu mendadak insaf melihat empat kardus di ruang tamuku sendiri. Ada sepatu, tas, penggorengan, dan alat pembuat roti diskon tujuh puluh persen. Padahal, sarapanku hampir selalu bubur ayam di ujung gang. Alat pembuat roti itu bahkan belum pernah menyentuh adonan.

“Din, kita perlu rehabilitasi.”

“Setuju! Tapi setelah 10.10, ya?”

“DINDAAA!”

“Lho, katanya diskonnya lebih dahsyat!”

Rupanya, penyakit kami bukan kekurangan barang, melainkan kelebihan alasan untuk membelinya.

Sabtu berikutnya, di kedai kopi langganan kami di Bogor.

Dinda datang dengan tas baru dan wajah kusut. Aku sudah memesankan kopi kesukaannya. Sejak SMA, aku hafal: kalau bahagia, mulutnya tak berhenti bicara; kalau gelisah, sedotannya diputar sampai penyok.

Pagi itu, sedotannya nyaris pensiun dini.

“Nung, aku tekor.”

“Baru sadar? Kukira sedang menikmati masa kejayaan!”

“Jangan diledek dulu. Aku serius.”

Ia menunjukkan total belanja hampir tiga juta rupiah. Namun, bukan angka itu yang membuat matanya berkaca-kaca.

“Uang itu tadinya mau kupakai mengajak Ibu ke pantai.”

Aku terdiam.

“Ibu sudah lama ingin lihat laut, makan jagung bakar, terus foto berdua. Tapi aku selalu bilang nanti kalau ada uang lebih.”

“Din, kamu masih bisa mengajak Ibu.”

“Iya. Tapi malu, Nung. Tiga tas yang enggak kubutuhkan langsung kubayar. Giliran keinginan Ibu, aku sibuk menghitung biaya.”

Aku menggenggam tangannya. Dinda pernah menemaniku semalaman saat patah hati, membawakan bubur ketika sakit, dan datang tanpa diminta saat hidupku berantakan. Hari itu, ia tak membutuhkan ceramah, hanya sahabat yang mau mendengarkan.

Baca Juga :  Pemerintah Matangkan Kelembagaan BRAN, Perjelas Kewenangan Reforma Agraria

“Masih ingat kita nabung berbulan-bulan buat beli sepatu kembar waktu SMA?”

“Ingat! Uangku kurang, terus kamu pinjami.”

“Baik banget, kan, aku?”

“Baik dari mana? Kamu minta dibayar pakai cilok seminggu!”

“Namanya juga bunga persahabatan!”

Kami tertawa.

“Din, dulu punya satu sepatu baru saja bahagianya luar biasa. Sekarang lemari penuh, tapi masih merasa kurang.”

“Iya, Nung. Rupanya yang harus dikurangi bukan cuma belanja, tapi kebiasaan menuruti semua keinginan.”

“Wah! Bijaksana sekali setelah checkout!”

Ia menyikut lenganku.

“Mulai sekarang, sebelum beli kita tanya diri sendiri dulu; butuh atau cuma tergoda?”

“Setuju!”

“Kalau sudah punya, jangan beli lagi.”

“Setuju!”

“Kalau diskonnya sembilan puluh persen?”

“Jangan menguji iman sahabat yang baru bertobat!”

Tawa kami pecah. Hari itu kami sepakat membuat daftar kebutuhan dan anggaran, bukan lagi daftar pembenaran.

Sebulan berlalu. Malam menjelang 10.10.

Pukul 23.55, ponselku kembali berdering.

“Nung! Lima menit lagi!”

“DINDA!”

“Tenang, Sayang! Kali ini bukan tas!”

“Sepatu?”

“Bukan!”

“Blender biru?”

“Kamu ini sahabat atau petugas interogasi?”

Aku tertawa.

“Aku mau pesan tiket buat Ibu. Beliau sudah pilih pantainya. Katanya, yang penting bisa dengar ombak.”

“Kalau enggak diskon?”

“Ya insya Allah tetap berangkat. Aku enggak mau menunda lagi.”

Pada akhir pekan berikutnya, sebuah foto masuk ke ponselku. Dinda duduk bersama ibunya di tepi pantai, memegang dua jagung bakar yang sedikit gosong. Kerudung mereka berantakan diterpa angin, tetapi senyumnya begitu lepas.

“Nung, jagungnya mahal. Tapi Ibu ketawa terus sepanjang perjalanan. Rasanya aku enggak rugi sedikit pun.”

Aku memandangi foto itu dengan hati hangat. Tak ada voucher, tak ada hitungan mundur, tak ada barang baru. Hanya seorang anak, ibunya, dan kebahagiaan yang akhirnya tak lagi ditunda.

Baca Juga :  Dulang 9 Emas 1 Perak 1 Perunggu, Kontingen Kick Boxing kota Padang Pastikan Raih Gelar Juara Umum Porprov XVI

“Din, akhirnya dapat diskon terbaikmu!” balasku.

“Diskon apa?”

“Diskon penyesalan. Untung kamu enggak menunggu lebih lama.”

Malam harinya, aku menelepon Dinda.

“Din, tanggal cantik berikutnya kita ngapain?”

“Mau checkout lagi?”

“Enggak. Aku mau traktir kamu cilok.”

“Tumben! Dalam rangka apa?”

“Melunasi bunga persahabatan zaman SMA!”

“Nung, kamu memang sahabat paling menyebalkan!”

“Tapi tetap kamu sayang, kan?”

“Sayang! Walaupun enggak ada diskonnya!”

Kami tertawa seperti dua gadis SMA yang belum mengenal cicilan dan tagihan. Persahabatan kami tetap penuh ledekan, hanya sekarang kami mulai belajar menata keinginan. Sebab tidak semua yang murah perlu dibeli, dan tidak semua yang berharga bisa dibayar dengan uang.


Kita rela begadang demi mengejar diskon, tetapi sering menunda waktu bersama orang tercinta. Kita takut kehilangan voucher, namun lupa bahwa kebersamaan pun punya batas waktu.

Promo yang terlewat bisa datang kembali. Tetapi usia ibu terus bertambah, dan waktu bersamanya tak pernah tersedia di keranjang belanja.

Jangan sampai lemari kita penuh oleh barang yang berhasil dibeli, sementara hati menyimpan penyesalan karena terlalu lama menunda kebahagiaan orang yang paling kita cintai.❤️

Jakarta, 13 Oktober 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *