PADANG, FOKUSSUMBAR.COM – Dewan Da’wah Islamiyah (DDI) di Indonesia, ke depan sesuai dengan konsep (Alm) Dr. Mhd. Natsir, adalah selalu mengingatkan semua ulamanya khususnya yang bernaung di bawah ”DDI” untuk tidak berhenti mendayung biduak da’wah ilallah, artinya mengajak atau menyeru manusia ke jalan Allah.
Esensi dari dakwah ilallah adalah membimbing manusia agar hanya menghambakan diri, taat, serta mengabdi kepada Allah SWT semata sebagai penciptanya. Bukan kepada manusia atau golongan tertentu yang identik dengan keduniaan.
Berdasarkan konsep tersebut, Ketua Umum DDI Pusat H. Farturrahman menegaskan bahwa kedepannya diperlukan melihat apa yang telah lewat, melihat apa yang baru serta menampilkan yang baru. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah mencari apa yang berbeda dari banyak ormas atau lembaga lainnya yang telah berbuat untuk kemasalahatan umat.
Hal itu disampaikan H. Faturrahman dihadapan pengurus DDI Pusat, Teten Romli dan Ahmad Misbahul Anam serta pengurus lainnya saat membuka Rapat Kerja (Raker) DDI Sumbar, Minggu, (4/10/2026), secara Luring dan Daring (dalam jaringan) yang berlangsung di aula Rumah Sakit Yarsi Padang.
”Pada sisi lain kita sebagai lembaga yang besar tepatnya (DDI) harus mampu menjawab dan memberikan solusi terhadap dinamika positif dan negatif yang mungkin saja terjadi di tengah-tengah masyarakat yang serba global saat ini. Kita harus punya strategi jitu dan cepat menyelesaikan persoalan sulit sekalipun itu sulit dan terasa berat bagi umat. Berikan sentuhan menyejukkan melalui da’wah yang membuat mereka jadi tenang dan menjadi maslahat,’’pesannya.
Pada bagian lain, Ketua Umum DDI Sumbar Prof. Dr. Efrinaldi, M.Ag di hadapan majelis pertimbangan Dr. Badrul Mustafa, Prof. Mukhlis Bahar dan Dr. Ahmad Kosasih serta tim Pakar H. Zainul Daulay, H. Masrul serta H. Saleh Zulfahmi dan peserta rapat lainnya, da’wah DDI itu indentitasnya adalah dengan da’wah yang ”Merangkul bukan Memukul” serta ”Mengajak bukan Mengejek”.
Dikatakan Prof. Efrinaldi, pada masa penjajahan Belanda sejarah mencatat hampir semua masyarakat kita berada dalam posisi bodoh (inlander).
Konotasi negatif, dalam praktiknya, istilah ini berubah menjadi hinaan dan ejekan untuk merendahkan martabat bangsa pribumi yang ditempatkan pada kelas sosial paling bawah dalam hierarki kolonial. Pribumi sering dicap bodoh atau malas oleh bangsa penjajah, pada satu sisi. Pada sisi lainnya, ketika itu tidak sekolah atau pendidikan formal bagi kalangan rakyat pada umumnya akan tetapi pendidikan cenderung hanya untuk kaum bangsawan.
Saat ini, kita sudah tidak lagi berada dalam era ”kolonial” tapi sudah ”milineal”, tapi terkadang cara berpikir dan bertindak sebagian masyarakat masih ada sebagian yang bersifat kolonial. Kejadian itu tidak boleh lagi di alami oleh bangsa kita. Pikiran umat kita ke depan adalah bagaimana setiap pribadi muslim itu menciptakan kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.
Salah satu cara efektif dan harus di maksimalkan adalah mewujudkan kecerdasan kehidupan bangsa sebagaimana sudah tertuang dalam Pembukaan UUD tahun 1945. Frasa lengkapnya adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia”. Dan ini adalah bagian terpenting dari Empat Tujuan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea ke-4.
Bila diartikan dalam konteks ilmiah, negara wajib membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui sistem pendidikan nasional yang merata, layak, dan bermutu. Fokusnya, maka pendidikan masyarakat yang akan dibangun oleh DDI adalah tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter, akhlak mulia, penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi (Iptek), serta literasi,’’ulasnya.
Dalam era Gen-Z saat ini, tambah Prof. Efrinaldi, berbagai penguatan untuk sektor dakwah DDI selalu bermitra dengan Yarsi dalam wujud nyata kepedulian sosial pada bidang kesehatan. ”Kita telah berbuat nyata dan memberikan hasil yang betul-betul bermanfaat bagi masyarakat. Diantaranya, pelaksanaan khitan massal di Kabupaten Kepulauan Mentawai dan Kebupaten Dharmasraya.
Intinya, da’wah adalah perwujudan kemasalahatan. Dan, tak ada bisa dicapai saat ini tanpa ada kerjasama selain melakukan sinergisitas serta berkolaborasi dengan semua elemen masyarakat,’’tegas Guru Besar Fakultas Syari’ah UIN Imam Bonjol Padang ini. (*/nal)
