Dr. Irwandi Nashir: Merawat Jiwa, Menjaga Kapal Kehidupan Menuju Ilahi

Kepala Pusat Kantor Urusan Internasional UIN Bukittinggi, Dr. Irwandi Nashir. (foto; ist)

BUKITTINGGI, FOKUSSUMBAR.COM — Manusia diibaratkan seperti sebuah kapal yang sedang berlayar pulang. Ia tidak diciptakan untuk menetap selamanya di samudera dunia, melainkan hanya untuk melintasinya menuju dermaga keabadian.

Demikian pesan mendalam yang disampaikan oleh Kepala Pusat Kantor Urusan Internasional UIN Bukittinggi, Dr. Irwandi Nashir, dalam Pengajian Agama Islam bagi dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi.

Acara yang langsung dihadiri Rektor UIN Bukittinggi, Prof.Dr. Silfia Hanani dan jajaran pimpinan selingkung UIN Bukittinggi, di Masjid Ulul Al Bab UIN Bukittinggi pada Jumat (31/10/2026) ini mengusung tema Risālatu as-Safīnah (Risalah Kapal Kehidupan).

Dalam ceramahnya, Dr. Irwandi mengingatkan para jamaah bahwa dalam pelayaran panjang ini, seorang kapten sering kali kehilangan arah bukan karena ketiadaan kompas, melainkan akibat gagal membedakan mercusuar hidayah dengan fatamorgana kesesatan.

Baca Juga :  Pemkab Dharmasraya dan Kejari Perpanjang Kerjasama Penanganan Perkara Perdata dan TUN

Peta Perjalanan dan Menghadapi Musibah

Membedah peta perjalanan kehidupan, Dr. Irwandi menegaskan bahwa hidup bukan garis lurus tanpa ujung, melainkan sebuah lingkaran besar bahwa kita datang dari Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu, manusia di dunia hanyalah seorang musafir yang sedang menumpang lewat (HR. Bukhari).

Kesadaran akan peta perjalanan ini menjadi fondasi penting untuk tegar menghadapi musibah. Ketika gelombang dan badai ujian menerpa kapal kehidupan, seorang hamba yang paham titik pulangnya tidak akan mudah putus asa.

Di saat yang sama, pemahaman ini menumbuhkan rasa empati yang mendalam atas musibah yang menimpa saudara sesama, sebab seluruh penumpang kapal kehidupan berada dalam nasib dan tujuan yang sama di hadapan Allah Ta’ala.

Mesin Kapal dan Gangguan Perjalanan

Baca Juga :  Pimpin FTP Unes, Irnawati Siregar Siap Tingkatkan Mutu Akademik

Lebih lanjut, merujuk pada Surah Al-A’raf ayat 29–30, Dr. Irwandi menjelaskan tiga elemen penting dalam menyeberangi samudera dunia ini denga kapal kehidupan:

(1) Mesin Kapal. Keadilan yang diwujudkan secara nyata, sedangkan bahan bakarnya adalah keikhlasan (niat batin yang murni). Keadilan merupakan refleksi keseimbangan alam semesta (mizan) dan jembatan terpendek menuju ketakwaan.

(2) Mengetahui peta perjalanan. Dalam surat al A’raf ayat 29 itu Allah Ta’ala mengingatkan peta perjalanan hidup kita bahwa kita datang dari Allah Ta’ala dan pasti dikembalikan kepada Allah Ta’ala.

(3) Gangguan Perjalanan: Bahaya terbesar dalam pelayaran adalah delusi kognitif (Dunning-Kruger Effect dalam beragama). Ini kondisi ketika seseorang merasa sangat paham dan paling benar, padahal sistem berpikirnya telah disabotase oleh ego dan bisikan setan (QS. Al-A’raf: 30 & Al-Kahfi: 103–104).

Menjaga Keutuhan Kapal hingga Pelabuhan Akhir

Baca Juga :  Jabatan Bukan Hadiah untuk Tim Sukses

Di akhir pemaparannya, Dr. Irwandi mengibaratkan kehidupan bermasyarakat seperti penumpang dalam satu kapal (HR. Bukhari). Jika ada yang merusak dinding kapal dan yang lain membiarkannya, maka seluruh penumpang akan tenggelam bersama.

“Tujuan akhir dari Syariat adalah menjaga keutuhan kapal—jiwa, akal, hati, dan ruh kita—agar tidak bocor oleh maksiat dan kezaliman. Kita ingin sampai ke pelabuhan akhirat sebagai kapal yang utuh, bukan sebagai bangkai kapal yang hancur karena kehilangan keikhlasan dan keadilan,” pungkasnya. (iouinbkt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *