Oleh: Nurul Jannah*)
Api merayap di antara akar-akar kering. Mula-mula kecil, lalu menjilat semak, memanjat batang, dan melahap pepohonan yang telah puluhan tahun tumbuh. Angin membawa bara semakin jauh. Asap pekat menggulung, menutupi langit, sementara hutan yang dahulu hijau perlahan berubah menjadi abu.
Seekor burung terbang meninggalkan sarangnya. Di kejauhan, petugas pemadam berjibaku menahan api agar tidak meluas. Tanah menghitam, ranting-ranting patah, dan pepohonan yang dahulu menjadi rumah bagi berbagai kehidupan kini menyisakan batang-batang hangus.
Puluhan tahun diperlukan untuk menumbuhkan sebuah pohon. Namun, api hanya membutuhkan beberapa jam untuk merenggutnya.
Aku membayangkan seorang ibu dengan tergesa menutup jendela rumah. Anak kecil di sampingnya masih memandangi langit yang kelabu.
“Bu, kok gelap? Kan masih siang.”
“Asap dari hutan yang terbakar, Nak.”
“Terus, burung-burungnya tinggal di mana?”
Sang ibu terdiam sejenak. Ia mengusap kepala anaknya, lalu menjawab pelan, “Semoga mereka menemukan tempat yang aman, Sayang.”
Betapa pilunya ketika seorang anak harus bertanya ke mana burung-burung mencari perlindungan, sementara udara yang dihirupnya sendiri mulai mengancam kesehatan.
Api yang Belum Usai
Karhutla bukan hanya kenangan pahit dari tahun-tahun sebelumnya. Hingga Oktober 2026, kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 202.004,30 hektare hutan dan lahan terbakar sepanjang Januari–Juli 2026. Angka tersebut belum mencakup keseluruhan tahun.
Pada 22 Oktober 2026, Kementerian Kehutanan melaporkan 808 titik panas berkepercayaan tinggi berdasarkan pemantauan hingga 21 Oktober pukul 21.00 WIB, meningkat dari 618 titik sehari sebelumnya. Kalimantan Tengah mencatat 198 titik dan Sumatera Selatan 131 titik. Titik panas merupakan indikasi anomali suhu, bukan ukuran langsung luas kebakaran.
Di balik angka-angka itu, ada hutan yang kehilangan kehijauannya, satwa yang terusir dari habitatnya, dan keluarga yang menunggu udara kembali bersih.
Di lahan gambut, api bahkan dapat menjalar di bawah permukaan tanah. Bara yang tersembunyi menyulitkan pemadaman dan dapat kembali menyala.
Api dapat padam dalam hitungan hari. Namun, hutan yang rusak membutuhkan waktu jauh lebih panjang untuk pulih.
Ketika Bumi Bertasbih
Setiap kali memandang alam, aku teringat ayat Allah:
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada apa pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.” (QS. Al-Isra: 44)
Aku membayangkan dedaunan bergoyang, air mengalir, dan burung-burung menyambut fajar. Semua berlangsung dalam harmoni, mengingatkanku bahwa setiap ciptaan memiliki caranya sendiri untuk memuji Allah.
Lalu, ketika pepohonan hangus dan burung-burung kehilangan sarang, bagaimana hati kita tidak ikut terluka?
QS. Ar-Rum ayat 41 mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut berkaitan dengan perbuatan tangan kita. Ayat itu mengajakku bercermin, menyadari bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab yang tak boleh diabaikan.
Hutan menjaga air, melindungi tanah, menyimpan karbon, dan menjadi tempat hidup beragam satwa. Ia bukan kekayaan yang bebas kita habiskan, melainkan amanah yang harus dipelihara.
Jika setiap daun bertasbih kepada Allah, bukankah menjaga tempat tumbuhnya juga merupakan wujud syukur kepada-Nya?
Cinta Sebelum Abu
Kemarau, angin, vegetasi kering, dan kondisi gambut meningkatkan risiko kebakaran. Namun, pembakaran lahan, kelalaian, serta lemahnya pengelolaan risiko juga perlu diwaspadai. Penyebab setiap kejadian harus ditetapkan berdasarkan pemeriksaan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Negeri ini membutuhkan langkah pencegahan yang sungguh-sungguh, bukan penyesalan yang kembali terulang setiap musim kemarau.
Pemerintah perlu memperkuat deteksi dini dan penegakan hukum. Perusahaan wajib mengendalikan risiko kebakaran di wilayah tanggung jawabnya. Masyarakat perlu didampingi menerapkan pengelolaan lahan tanpa bakar.
Tata air gambut harus dijaga, kawasan rusak dipulihkan, dan setiap tanda kebakaran segera ditindaklanjuti.
Hingga 22 Oktober 2026, Kementerian Kehutanan melaporkan 32 perusahaan telah dikenai sanksi administratif terkait karhutla. Penegakan hukum perlu disertai pengawasan berkelanjutan dan pemulihan kawasan terdampak.
Mencintai bumi bukan hanya menanam pohon. Cinta juga berarti menjaga agar pohon yang telah tumbuh puluhan tahun tidak habis terbakar dalam beberapa jam.
Doa di Tengah Asap
Pikiranku tertuju kepada para petugas pemadam yang bekerja di tengah panas dan asap. Mereka menghadapi medan yang sulit, berjuang mengendalikan api, sementara keluarga menunggu dengan harapan agar orang-orang tercinta kembali dalam keadaan sehat dan selamat.
Aku membayangkan seorang anak bertanya kepada ibunya.
“Ayah masih di tempat kebakaran, Bu?”
“Iya, Nak. Kita doakan Ayah, ya.”
Sang anak belum memahami beratnya tugas sang ayah. Yang ia tahu, ia ingin segera melihat Ayah kembali ke rumah.
Ada pengabdian yang sering luput dari perhatian kita. Di balik setiap upaya pemadaman, ada tenaga yang terkuras, waktu bersama keluarga yang tertunda, dan keberanian menghadapi bahaya.
Lindungilah para petugas yang sedang berjuang, duhai Allah. Berikan mereka kekuatan, kesehatan, dan keselamatan hingga dapat kembali berkumpul bersama keluarga.
Penghormatan terbaik kepada mereka bukan hanya ucapan terima kasih, melainkan kesungguhan mencegah kebakaran dan memastikan keselamatan petugas selalu diutamakan.
Rindu yang Menjadi Doa
Bagiku, hutan menyerupai pelukan seorang ibu. Ia memberi keteduhan, menyimpan air, dan menyediakan tempat bagi kehidupan untuk tumbuh. Semua diberikan tanpa meminta balasan.
Sayangnya, kita baru menyadari nilainya ketika mulai kehilangan. Kita mencari kesejukan saat udara memanas, merindukan pepohonan ketika tanah mengering, dan mensyukuri napas ketika asap mulai memenuhi dada.
Mengapa kita begitu pandai merindukan yang hilang, tetapi sering lalai menjaga yang masih ada?
Aku kembali teringat pertanyaan anak kecil tadi.
“Terus, burung-burungnya tinggal di mana?”
Aku berharap kelak ia menemukan jawabannya sendiri. Di antara pepohonan yang tetap berdiri, sarang-sarang yang terlindungi, dan hutan yang kembali dipenuhi kicau burung.
Aku ingin anak-anak berangkat sekolah tanpa cemas menghirup udara. Petani bekerja dengan tenang. Para petugas pemadam dapat kembali berkumpul bersama keluarganya, sementara hutan tetap tumbuh dan terjaga.
Ya Aziz, jagalah negeri kami. Turunkan hujan yang membawa rahmat, lindungi hutan-hutan kami, dan lembutkan hati kami agar setia menjaga amanah-Mu.
Namun, kita tak cukup berharap hutan tetap hijau jika tidak bersedia menjaga dan mengubah kebiasaan yang merusaknya.
Jangan menunggu hutan menjadi abu untuk menghargai sehelai daun. Jangan menunggu dada sesak oleh asap untuk mensyukuri satu tarikan napas.
Aku rindu langit biru.
Aku rindu pagi yang tenang, ketika burung-burung berkicau, pepohonan tetap berdiri, dan anak-anak dapat bermain tanpa takut menghirup udara.
Jika kelak Allah meminta pertanggungjawaban atas bumi yang dititipkan-Nya, aku ingin mampu menjawab bahwa aku telah berusaha menjaganya, bukan hanya menangis ketika melihatnya terbakar.
Sebab, aku tak ingin suatu hari anak cucuku bertanya, “Dulu hutannya seperti apa?”
Lalu aku hanya mampu menjawab, “Dulu indah sekali, Nak. Sayangnya, kami terlambat menjaganya.”❤️
Bogor, 23 Oktober 2026
Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan*)
