Saat Otak dan Kalbu Tak Lagi Berjarak: Rekayasa Kansei dalam BICED ke-7 di UIN Bukittinggi

Pakar rekayasa emosi dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Profesor Ts. Dr. Anitawati Mohd Lokman. (foto; ist)

BUKITTINGGI, FOKUSSUMBAR.COM – Kurikulum terpadu yang diterapkan di berbagai lembaga pendidikan modern kerap terjebak pada formalitas penjadwalan semata. Sains, nilai spiritual, dan literasi global umumnya diajarkan berdampingan dalam jam pelajaran, tetapi hadir sebagai tiga ruang terpisah yang miskin keterkaitan emosional.

Kritik tajam tersebut mengemuka dalam The 7th Bukittinggi International Conference on Education (BICED ke-7) yang diselenggarakan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Bukittinggi, Kamis (10/9/2026).

Pakar rekayasa emosi dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Profesor Ts. Dr. Anitawati Mohd Lokman, menegaskan pentingnya menjembatani sains teknis dan pengalaman batin peserta didik melalui pendekatan Rekayasa Kansei (Kansei Engineering).

“Siswa bisa saja lulus pada mata pelajaran STEM (Science, Technology, Engineering,Mathematics), agama, dan wawasan global. Namun, mereka sering kali tak merasakan benang merah di antara ketiganya. Ini fenomena Three Boxes, Not Yet a Bridge,” ujar Prof. Anitawati.

Baca Juga :  Bupati Hendrajoni Groundbreaking Drainase 1,2 Kilometer, Targetkan Kota Painan Bebas Banjir

Menerjemahkan Perasaan Menjadi Desain

Secara filosofis, Kansei menggambarkan kondisi mental ketika kognisi, sensasi indra, dan emosi menyatu secara harmonis. Dalam dunia teknik, metodologi ini bekerja dengan menerjemahkan perasaan subjektif manusia menjadi parameter desain yang terukur melalui tiga tahapan: mengukur perasaan, menganalisis pola emosi, dan merancang respons materi.

Prof. Anitawati mencontohkan filosofi Jinba Ittai—kesatuan penunggang dan kuda—pada desain mobil sport legendaris Mazda MX-5. Keunggulannya bukan sekadar terletak pada kekuatan mesin, melainkan pada rasa kemanunggalan (oneness) antara pengemudi dan kendaraannya.

Prinsip serupa bertautan erat dengan dunia pendidikan. Kurikulum yang terpadu tidak cukup sekadar lengkap di atas kertas, tetapi harus dirancang sedemikian rupa agar benar-benar dirasakan sebagai pengalaman batin (felt experience).

Baca Juga :  Kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW, Kenapa Tidak?

Bukti Empiris dari 2.412 Mahasiswa

Melalui instrumen kuadran emosi Lokman Emotion and Importance Quadrant (L-EIQ™), penelitian terhadap 2.412 mahasiswa universitas negeri di Malaysia menunjukkan bahwa kesejahteraan peserta didik dipengaruhi secara dominan oleh rasa aman finansial, keterjangkauan biaya, dan dukungan keluarga.

Faktor-faktor emosional dan sosial ini jauh melampaui keberadaan fasilitas fisik modern maupun teknologi kampus tercanggih sekalipun.

Temuan empiris ini menegaskan bahwa rancangan pembelajaran akan gagal memberi dampak transformatif apabila mengabaikan apa yang secara nyata dirasakan dan dibutuhkan oleh peserta didik.

Peta Jalan Berpusat pada Kalbu

Untuk mewujudkan pendidikan terpadu yang menyentuh kalbu, Prof. Anitawati merekomendasikan tiga langkah strategis:

Baca Juga :  Tiga Puisi Terbaik Pengunjung Stand SatuPena Sumbar Diumumkan
  1. Pendidik:Merancang minimal satu sesi pembelajaran dalam setiap semester yang ditujukan khusus untuk menyentuh perasaan, bukan sekadar mengasah logika.
  2. Perancang Kurikulum: Merekasains materi STEM, nilai keagamaan, dan literasi global sebagai satu kesatuan pengalaman batin dan empati.
  3. Pembuat Kebijakan: Mengukur keberhasilan integrasi pendidikan berdasarkan rasa memiliki dan kesejahteraan siswa, bukan semata-mata angka tes akademis.

“Pembelajaran yang menyentuh kalbu akan melangkah jauh lebih panjang daripada pembelajaran yang hanya mengisi ruang kepala,” pungkasnya. (irwandi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *