AGAM, FOKUSSUMBAR.COM — Universitas Negeri Padang (UNP) mendorong penguatan tata kelola kebencanaan berbasis digital di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, melalui penerapan Sistem Informasi Desa (SID), pemanfaatan teknologi geospasial, dan pengembangan aplikasi Jitupasna untuk mendukung kaji cepat pascabencana.
Program tersebut dilaksanakan melalui Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) 2026 yang melibatkan Pemerintah Nagari Koto Kaciak, Kelompok Siaga Bencana (KSB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, serta mitra teknologi CV. RUN Kreasi Teknologi. Program diarahkan untuk menjawab kebutuhan nagari terhadap pengelolaan data kebencanaan yang lebih cepat, terintegrasi, dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Nagari Koto Kaciak merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Tanjung Raya yang memiliki kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi, terutama banjir bandang atau galodo. Pengalaman bencana sebelumnya menunjukkan bahwa pendataan masyarakat terdampak masih dilakukan secara manual dan terdapat potensi perbedaan data antara tingkat nagari dengan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi proses verifikasi dan distribusi bantuan kepada masyarakat terdampak.
Ketua Tim PPUB UNP, Iip Permana, S.T., M.T., bersama tim pengabdian Dr. Zikri Alhadi, S.IP., M.A., Dr. Hasbullah Malau, Sos., M.Si., Dedy Fitriawan, S.Pd., M.Si., Syahril Rahmat, S.T., M.Sc. mengembangkan pendekatan yang menggabungkan penguatan kapasitas sumber daya manusia dengan pemanfaatan teknologi digital. Tim terdiri atas dosen dari berbagai bidang keahlian, termasuk administrasi publik, kebencanaan, sistem informasi geografis, dan geoteknik.
Salah satu kegiatan utama dilaksanakan pada 3 September 2026 berupa pelatihan Sistem Informasi Desa dan kaji cepat kebencanaan. Pelatihan SID menghadirkan Nofril Astri Putra dan Nanda Dwi Irawan dari RUN Kreasi Teknologi, sementara materi kaji cepat kebencanaan disampaikan Fikri Haykal dari BPBD Kabupaten Agam.
Dalam pelatihan tersebut diperkenalkan konsep Nagari Digital dengan prinsip “satu data, banyak layanan”. Data kependudukan, sosial, wilayah, potensi nagari, dan data sektoral diarahkan berada dalam satu fondasi informasi yang dapat dimanfaatkan untuk pelayanan administrasi, penerbitan surat, layanan mandiri masyarakat, hingga perencanaan pembangunan.
Data tersebut juga dapat dipadukan dengan informasi geospasial seperti batas wilayah, lokasi penduduk, fasilitas publik, infrastruktur, penerima bantuan, dan potensi wilayah. Integrasi data dan peta menjadi penting saat terjadi bencana karena dapat membantu mengidentifikasi wilayah terdampak, penduduk yang membutuhkan bantuan, fasilitas terdekat, serta menentukan prioritas respons
Padukan Teknologi dan Pengetahuan Lokal
Program juga memperkenalkan penggunaan teknologi geospasial untuk kesiapsiagaan bencana. Tim UNP memadukan peta dan model bahaya dari BNPB, keahlian geospasial perguruan tinggi, serta pengetahuan lokal masyarakat dan KSB.
Melalui pendekatan partisipatif, masyarakat dan KSB didorong mengidentifikasi lokasi berbahaya, wilayah yang pernah terdampak, jalur yang terganggu, lokasi aman, fasilitas penting, hingga pengalaman masyarakat saat terjadi bencana.
Informasi tersebut kemudian dipadukan dengan teknologi penginderaan jauh, Sistem Informasi Geografis (SIG), survei GNSS-UAV, dan pemetaan cepat sehingga dapat digunakan untuk mendukung mitigasi, peringatan dini, evakuasi, kesiapsiagaan, maupun perencanaan respons bencana.
Kaji Cepat Bencana
BPBD Kabupaten Agam dalam kegiatan tersebut juga memperkuat pemahaman mengenai posisi strategis KSB sebagai pihak yang paling dekat dengan kondisi masyarakat. Fikri menjelaskan bawah KSB dapat melakukan proses melihat, mencatat, memverifikasi, melaporkan, dan mendukung tindak lanjut. Informasi minimum yang dikumpulkan antara lain lokasi dan waktu kejadian, jumlah serta kondisi masyarakat terdampak, kerusakan rumah maupun fasilitas, potensi ancaman lanjutan, serta kebutuhan mendesak warga.
Fikri menambahkan bahwa data tidak hanya lengkap, namun juga akurat agar pengambilan eputusan dapat segera dilakukan dalam situasi sesaat setelah terjadi bencana. KSB dapat memulai dari pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: “apa yang terjadi, dimana, kapan, siapa yang terdampak, apa pemicu kejadiannya dan bagaimana kondisi/kebutuhan saat ini.” agar data yang lengkap dan akurat dapat dikumpulkan. Data yang bersumber dari KSB akan diteruskan ke Pusdalops BPBD Kabupaten Agam atau tim kaji cepat bencana Kabupaten Agam untuk mendukung penentuan prioritas dan pengambilan keputusan penanggulangan bencana.
Keberlanjutan PPUB UNP
Pemerintah Nagari Koto Kaciak berharap teknologi dan pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti setelah kegiatan pelatihan, tetapi terus diterapkan dalam pelayanan pemerintahan dan pengelolaan kebencanaan. Keberlanjutan program diarahkan pada penguatan tata kelola data, pemanfaatan informasi geospasial, peningkatan kapasitas KSB, serta pendampingan penggunaan SID dan kaji cepat bencana.
Tim PPUB UNP juga mendorong pembentukan pengelola sistem yang jelas, penyusunan prosedur pemutakhiran dan pencadangan data, serta keberlanjutan kolaborasi antara UNP, Pemerintah Nagari Koto Kaciak, BPBD Kabupaten Agam, KSB, dan mitra teknologi.
Dengan pendekatan tersebut, transformasi digital di tingkat nagari diharapkan tidak hanya mempercepat pelayanan publik, tetapi juga membangun basis data lokal yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan secara lebih cepat dan berbasis kondisi nyata ketika bencana terjadi. (rls)
