Oleh : Nurul Jannah*)
Cahaya yang Tidak Pernah Padam
“Ada manusia yang dikenang karena ilmunya. Ada yang diingat karena jasanya. Namun ada pula yang tidak pernah hilang, karena akhlaknya menetap… dan hidup di dalam hati banyak orang.”
Di antara deretan nama para ulama yang menapaki bumi Nusantara, terdapat satu nama yang tidak sekadar disebut, melainkan dirasakan kehadirannya.
Habib Sholeh bin Muchsin Alhamid.
Seorang wali Allah yang jejaknya tidak hanya tertulis dalam sejarah, tetapi mengalir pelan… di relung hati orang-orang yang pernah disentuh kelembutan akhlaknya.
Beliau datang dari Hadramaut.
Tidak membawa kemegahan. Tidak membawa kekuasaan. Tidak pula membawa kebanggaan dunia.
Beliau datang membawa satu hal yang paling langka: akhlak mulia.
Di usia yang masih muda, beliau hijrah ke Indonesia. Menapaki jalan dakwah yang tidak selalu mudah. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, hingga akhirnya menetap di Tanggul, Jember.
Di sanalah… cahaya itu mulai menyala perlahan. Cahaya yang menghangatkan jiwa.
Beliau membangun Masjid Riyadush Sholihin. Namun sejatinya… yang beliau bangun bukan semata bangunan masjid, melainkan hati manusia yang lama terasa jauh dari Tuhannya.
Satu per satu orang datang.
Bukan hanya yang taat.
Namun juga yang tersesat.
Yang lelah.
Yang patah.
Dan tidak ada satu pun yang pulang dengan sia-sia, ditolak.
Karena di hadapan beliau… semua diterima tanpa syarat. Tanpa ditanya latar belakang sosial. Tanpa diungkit masa lalu.
Beliau memandang manusia dengan penuh kasih, sebagaimana Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada setiap hamba.
Habib Sholeh dikenal bukan karena suara yang keras. Beliau tidak mengubah manusia dengan tekanan.
Beliau mengubah… dengan kehadiran yang menenangkan.
Dengan sapaan yang lembut. Dengan tatapan yang tidak menghakimi. Dengan kalimat singkat…yang telah didahului dengan perbuatannya, oleh karena itu langsung menembus bagian terdalam hati.
Orang-orang datang dari berbagai lapisan. Dari yang sederhana… hingga mereka yang memiliki kedudukan tinggi.
Namun di hadapan beliau… semua menjadi sama. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tidak ada yang lebih tinggi. Tidak ada yang lebih rendah.
Semua hanyalah hamba, dan di situlah letak kemuliaan akhlak beliau.
Beliau adalah lautan kedermawanan.
Memberi tanpa menghitung. Menolong tanpa menunggu diminta dan balasan.
Namun yang paling dalam… beliau menghadirkan rasa aman dan nyaman.
Rasa bahwa siapa pun yang datang, tidak akan dipermalukan, tidak akan disudutkan, tidak akan dipandang rendah.
Semua akan didekati… dengan kasih sayang yang tulus dan menenangkan.
Banyak yang datang dengan hati yang terluka. Namun pulang dengan hati yang mulai hidup kembali.
Bukan karena ceramah panjang. Tetapi karena merasakan… betapa indahnya diterima tanpa syarat.
Salah satu warisan terbesar beliau adalah Sholawat Mansub.
Sholawat yang tidak sekadar dilafalkan, tetapi menghidupkan hati yang lama terasa kering.
Dengan izin Allah, ia menjadi jalan pengampunan, pelembut jiwa, dan pembuka jalan yang terasa sempit.
Sholawat itu terus hidup, bahkan setelah beliau tiada.
Karena yang beliau wariskan bukan hanya amalan. Beliau mewariskan jalan terang pulang.
Habib Sholeh wafat dalam usia yang penuh keberkahan.
Namun kepergian beliau… tidak pernah benar-benar terasa sebagai kehilangan. Karena jejak ilmu, budi pekerti beliau tetap hidup.
Dalam setiap majelis. Dalam setiap sholawat yang dilantunkan. Dalam setiap hati yang pernah disentuh.
Dan hari ini… sehari menjelang haul beliau yang ke-50, kerinduan itu kembali mengangkasa, mengetuk hati banyak orang.
Tidak hanya di Tanggul. Namun juga di Jakarta.
Khusus untuk Jakarta, Insya Allah, haul ke-50 Habib Sholeh Tanggul akan diselenggarakan esok hari, tepatnya pada hari Ahad, 5 April 2026 Pukul 09.00 WIB, di kediaman cucu beliau, Habib Hasyim Alhamid Jl. Batuwadas No. 73A, Batu-Ampar, Condet.
Ribuan orang, Insya Allah, akan datang untuk menghadiri acara Haul Habib Sholeh.
Bukan hanya sekadar menghadiri acara. Namun juga untuk menjemput kembali rasa yang lama hilang, agar hidup kembali dengan keberkahan dan kelembutan dan sejarah serta hati seorang waliyullah, Habib Sholeh Tanggul.
Karena pada akhirnya… yang membuat seseorang dicintai sepanjang masa bukanlah kekuatan, bukan pula kedudukan.
Melainkan kelembutan hatinya, kemuliaan budi pekertinya dalam memperlakukan semua manusia.
Dan Habib Sholeh Tanggul… adalah bukti nyata bahwa akhlak yang mulia tidak akan pernah padam ditelan waktu.
Akhlak seseorang itu akan terus hidup, lebih panjang dari usianya.
Berpindah…dari satu hati yang disentuh, ke hati lain yang perlahan berubah.
Maka jika esok engkau sempat melangkah…datanglah dengan penuh semangat dan rasa haus akan keberkahan orang-orang yang dicintai Allah.
Bukan hanya untuk mengenang. Tetapi juga untuk mendoakan. Dan bisa jadi…itulah langkah awal bagi hatimu untuk berubah menjadi lebih baik❤️.
Jakarta, 4 April 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




