Oleh: Nurul Jannah*)
“Dan jika suatu hari bangsa ini benar-benar bangkit, kebangkitan itu tidak akan lahir dari pidato yang keras atau slogan yang ramai. Ia akan lahir dari hati-hati yang masih jujur mencintai negeri ini, dari mereka yang tetap memilih peduli ketika banyak orang mulai menyerah.”
Karena Indonesia tidak sedang kekurangan orang pintar.
Indonesia hanya terlalu lama kehilangan individu yang rela menjaga negeri ini tanpa sibuk mencari tepuk tangan.
Maka hari ini, di Hari Kebangkitan Nasional, pertanyaan terbesar bukan,
“Apa yang sudah bangsa ini berikan kepada kita?”
Tetapi:
“Apa yang masih bisa kita jaga, sebelum bangsa ini benar-benar lelah?”
Kadang sebuah bangsa tidak benar-benar runtuh karena dijajah. Tetapi karena terlalu lama kehilangan harapan untuk bangkit.
Hari ini, 20 Mei.
Kita menyebutnya sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Namun sesungguhnya, hari ini bukan hanya tentang sejarah. Bukan pula sekedar mengingat nama-nama besar di buku pelajaran.
Hari ini adalah hari ketika kita seharusnya bercermin kepada diri sendiri.
Masihkah bangsa ini memiliki keberanian untuk bangkit?
Dulu, para pendiri bangsa ini bangkit dalam keadaan yang jauh lebih sulit.
Mereka miskin.
Mereka dijajah.
Mereka dibungkam.
Mereka hidup dalam keterbatasan.
Namun mereka memiliki satu hal yang hari ini mulai langka, yaitu keyakinan bahwa bangsa ini harus berdiri dengan martabatnya sendiri.
Mereka tidak menunggu sempurna untuk bergerak.
Mereka bangkit bahkan ketika hidup nyaris tidak memberi harapan.
Hari ini kita memang tidak lagi dijajah dengan senjata.
Namun bisa jadi kita sedang dijajah oleh: rasa malas, ketidakpedulian, egoisme, kebencian, korupsi, ketidakjujuran, dan hilangnya rasa cinta kepada negeri sendiri.
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar.
Tetapi sering kekurangan orang yang tulus, orang yang peduli, orang yang mau bekerja diam-diam demi kebaikan bersama.
Hari Kebangkitan Nasional seharusnya bukan hanya diperingati dengan upacara. Tetapi direnungkan dengan jujur.
Karena kebangkitan sejati tidak selalu dimulai dari podium besar.
Kadang ia tumbuh dari guru yang tetap mengajar dengan hati, dari ibu yang terus mendidik anaknya dengan kejujuran, dari mahasiswa yang tetap memilih belajar di tengah kesulitan, dari petani yang tetap menanam meski hasilnya tidak pasti, dari tenaga kesehatan yang terus bertahan melayani, dari anak muda yang memilih berkarya daripada menyerah.
Bangsa ini sebenarnya masih hidup karena banyak orang baik yang tetap bertahan dalam sunyi.
Namun hari ini, kita juga harus jujur melihat kenyataan.
Masih banyak rakyat kecil yang hidup dalam perjuangan panjang.
Masih ada anak-anak yang belajar dalam keterbatasan.
Masih ada orang tua yang bekerja sampai tubuhnya nyaris runtuh.
Masih ada perempuan yang memikul beban hidup sendirian.
Masih ada anak-anak yang tumbuh tanpa pelukan orang tuanya karena tuntutan ekonomi.
Dan di tengah semua itu, Indonesia tetap berjalan.
Kadang tertatih. Kadang lelah. Kadang terluka.
Namun negeri ini belum menyerah.
Kebangkitan nasional bukan hanya tugas pemerintah. Ia adalah tugas seluruh hati yang masih mencintai negeri ini.
Karena bangsa tidak dibangun hanya dengan gedung tinggi dan jalan yang megah.
Bangsa ini dibangun oleh kejujuran, ilmu, kepedulian, keberanian, dan mereka yang tidak lelah menjaga harapan.
Hari ini, memang kita belum mampu mengubah Indonesia. Namun setidaknya, kita bisa mulai dengan tidak ikut merusak, tidak ikut menyebar kebencian, tidak ikut mematikan harapan, dan tetap menjadi pribadi yang baik di tengah dunia yang semakin bising.
Karena kebangkitan bangsa selalu dimulai dari kebangkitan hati dan kepedulian rakyatnya.
Dan mungkin, yang paling menyedihkan bukan ketika bangsa ini miskin. Tetapi ketika bangsa ini kehilangan rasa peduli.
Ketika orang pintar memilih diam. Ketika kejujuran dianggap kelemahan. Ketika kebaikan terasa asing. Dan ketika kita tidak lagi merasa sedih melihat bangsa ini terluka.
Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa negeri ini pernah dibangun oleh mereka yang rela berkorban tanpa sibuk mencari pujian.
Oleh mereka yang percaya, bahwa Indonesia harus hidup lebih lama melampaui kepentingan pribadi mereka.
Dan hari ini, pertanyaan itu kembali mengetuk hati kita, masih adakah keberanian untuk mencintai Indonesia dengan tulus dan sungguh-sungguh?
“Sebab bangsa ini tidak akan hancur karena kekurangan orang hebat. Bangsa ini akan runtuh ketika terlalu banyak di antara kita memilih untuk tidak peduli.”
Bogor, 20 Mei 2026💕
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




