Oleh: Nurul Jannah*)
Di tengah Bukittinggi,
kau berdiri,
tegak, tenang, seolah tidak pernah lelah
menjadi saksi.
Jam Gadang,
kau bukan hanya menara.
Kau adalah nadi
yang terus berdetak
meski dunia di sekelilingmu berubah tanpa jeda.
Kau melihat mereka datang.
Langkah-langkah ringan,
tawa yang pecah di siang hari, janji yang diucapkan seolah waktu akan selalu berpihak.
Namun kau juga melihat mereka pergi.
Tanpa suara.
Tanpa tanda.
Tanpa sempat kembali menatap ke belakang.
Seratus tahun…
Kau tidak hanya menghitung detik.
Kau mengumpulkan kehilangan.
Setiap dentangmu
adalah nama yang pernah ada,
lalu perlahan menghilang
tanpa sempat dikenang.
Di bawah bayangmu,
cinta pernah tumbuh dengan cara yang paling sunyi.
Tatapan yang terlalu lama.
Diam yang terlalu dalam.
Dan harapan yang terlalu rapuh
untuk bertahan di dunia yang tidak pernah menunggu.
Namun waktu tidak pernah berhenti.
Ia terus berjalan,
menarik setiap rasa,
menghapus setiap jejak,
dan menyisakan satu hal yang paling sulit diterima:
tidak semua yang kita cintai akan tetap tinggal.
Kini orang-orang datang dengan kamera.
Mereka tersenyum.
Merekam.
Mengabadikan wajahmu
seolah bisa menyimpan waktu.
Padahal kau tahu,
waktu tidak bisa disimpan.
Ia hanya bisa ditinggalkan.
Wahai Jam Gadang…
kau telah melihat terlalu banyak.
Lebih banyak dari yang bisa diceritakan.
Lebih dalam dari yang bisa dipahami.
Namun kau tetap berdiri,
seolah mengajarkan satu hal yang paling sederhana,
dan paling menyakitkan:
bahwa hidup adalah tentang melepas, meski hati belum siap kehilangan.
Dan suatu hari nanti,
ketika kita juga menjadi bagian dari yang pergi,
mungkin dentangmu akan tetap sama.
Tidak berubah.
Tidak berhenti.
Hanya…
melanjutkan.
“Karena pada akhirnya, yang paling setia bukan manusia, melainkan waktu yang terus berjalan meski kita telah lama hilang.”
Bogor, 29 April 2026❤️🔥
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




