Buya yang Kami Banggakan

Cerpen: Yunardi Sikumbang*

KAMI memanggilnya “Buya”. Di kampung kami, panggilan itu bukan sekadar sebutan untuk ayah, tetapi juga bentuk hormat kepada lelaki tua yang menjadi sandaran keluarga.

Kami sepuluh bersaudara, dan tak satu pun dari kami yang tidak bangga memiliki Buya.

Buya adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Sejak muda, darah perjuangan telah mengalir dalam dirinya. Beliau pernah menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia pada masa-masa genting republik ini berdiri. Ia ikut bergerilya pada Agresi Militer Belanda I dan II, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baru seumur jagung.

Dalam perjalanan sejarah Sumatera Barat, Buya juga ikut dalam pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada 1958. Peristiwa itu kelak tercatat sebagai salah satu episode paling rumit dalam sejarah bangsa, yang banyak melibatkan tokoh daerah Sumatera, termasuk di Padang dan sekitarnya.

Bagi pemerintah pusat kala itu, gerakan tersebut dianggap pemberontakan. Namun bagi Buya dan kawan-kawannya, itu adalah perjuangan menuntut keadilan.

“Dalam keyakinan kami, tak sekalipun kami melanggar Sapta Marga dan Sumpah Prajurit,” kata Buya suatu malam ketika kami duduk melingkar mendengarkan kisahnya. “Kami hanya menjalankan perintah komandan wilayah Sumatera. Kami membela kebenaran dan menegakkan Pancasila.”

Aku yang masih muda waktu itu sempat membantah, “Tapi, Buya tetap dianggap pemberontak karena melawan pemerintah pusat.”

Buya menatapku tenang. “Kami berjuang untuk keadilan. Hasil bumi Sumatera melimpah, tapi pembangunan hanya terpusat di Jawa. Di mana letak keadilan itu? Kami ingin Pancasila ditegakkan sebenar-benarnya.”

Perdebatan itu tak pernah menjadi pertengkaran. Buya mengajarkan kami bahwa mencintai negeri kadang berarti berbeda pendapat dengan penguasa. Namun, ia juga mengajarkan bahwa cinta tanah air tak boleh berujung pada kebencian.

Ketika masih menjadi tentara, Buya pernah ditembak di bagian rusuk kiri. Peluru itu menembus tulangnya. Dalam keadaan darurat, dengan bantuan seorang kawan seperjuangan, Buya mengeluarkan peluru itu sendiri sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit terdekat. Beliau tidak pernah memberi kabar pada keluarga tentang luka itu.

Kami baru tahu kisah tersebut bertahun-tahun kemudian, saat perang usai dan Buya pulang. Beliau membuka bajunya dan menunjukkan bekas luka panjang di punggungnya. Bekas itu tak pernah benar-benar hilang, seperti sejarah yang melekat di tubuhnya.

Buya pensiun pada usia 45 tahun. Pensiunnya kecil—terlebih karena keterlibatannya dalam PRRI membuat nasibnya tak seberuntung prajurit lain. Namun ia tak pernah menyesali pilihannya.

Untuk menghidupi kami, Buya berdagang ikan di Pasar Raya Padang. Selepas subuh Buya sudah berada di sawah atau ladang. Siangnya ia ke pasar. Tangannya kasar oleh lumpur dan sisik ikan, tetapi Buya memegang masa depan kami dengan kelembutan.

Tekadnya satu: semua anaknya harus sekolah. Minimal tamat SLTA. Tidak boleh ada yang putus pendidikan, apa pun alasannya.

Namun kenyataan tak selalu seindah tekad. Ketika musim ujian tiba, biaya sekolah menjadi momok. Waktu itu tak ada sekolah gratis. Ada uang SPP, uang ujian, uang pembangunan. Semua harus lunas sebelum anak boleh ikut ujian.

Aku masih ingat kisah yang Buya ceritakan tentang upayanya menemui kepala sekolah kami satu per satu. Waktu itu kakak tertua dan kedua bersekolah di SPG, kakak ketiga di STM 1, kakak keempat di SMEP, kakak kelima di PGAN enam tahun, aku sendiri kelas dua SD, dan adik-adik masih kecil.

“Kalian tunggu saja di rumah,” katanya.
Dengan pakaian sederhana, Buya mendatangi setiap kepala sekolah. Kalimat yang Buya ucapkan hampir selalu sama.

“Saya ini seorang pejuang, Pak. Pernah kena tembak Belanda.”

Di hadapan kepala sekolah, membuka bajunya, menunjukkan bekas luka di punggungnya.

“Sekarang saya pensiun. Uang saya tak cukup membiayai sepuluh anak. Saya mohon keringanan.”

Tidak semua tergerak. Hanya satu sekolah, SPG I Padang waktu itu, yang memberi toleransi: penundaan SPP dan pembebasan uang ujian. Selebihnya tetap menuntut pelunasan.

Buya pulang tanpa marah, tapi aku tahu hatinya terluka. Namun Buya tak pernah menyuruh kami berhenti sekolah. Buya justru semakin giat ke sawah dan pasar.

Empat dari kami kemudian benar-benar menjadi guru, seperti cita-citanya. Setiap kali mendengar kabar pengangkatan salah satu anaknya, matanya berkaca-kaca.

“Inilah kemerdekaan itu,” katanya pelan. “Ketika anak-anak petani bisa berdiri di depan kelas dan mencerdaskan anak bangsa.”

Lima tahun sebelum wafat, Buya berhenti berdagang ikan. Kami tak tahu sebabnya. Buya hanya lebih sering ke sawah dan ladang.

Setelah Buya meninggal, ibu bercerita.
Suatu pagi di pasar, seorang petugas bea menagih retribusi saat Buya belum menjual satu ekor ikan pun. Uang di sakunya tak ada. Kami, anak-anaknya, kerap mengambil uang di saku celananya atas izin ibu untuk ongkos sekolah.

“Ambil saja di saku Buya,” kata ibu tiap pagi, sebab subuh-subuh ia sudah ke sawah.

Ketika petugas itu tetap memaksa menagih, Buya yang tengah lelah dan tak punya uang terbakar emosi. Buya turun dari lapak dan mengejar petugas itu dengan parang pemotong ikan. Beruntung orang-orang segera menghalangi. Buya diamankan di posko pasar.

Sejak hari itu, Buya tak pernah lagi ke pasar. Beliau memilih bertani sampai akhir hayatnya.

Tak sekalipun Buya menceritakan peristiwa itu kepada kami. Mungkin Buya tak ingin kami menyimpan luka atau kebencian.

Hari ketika Buya mengembuskan napas terakhir adalah hari paling sunyi dalam hidup kami. Kami menangis di samping jenazahnya. Ibu menegur lirih.

“Jangan kalian tangisi lagi kepergian Buya. Bukankah semua sudah tamat sekolah? Doakan saja agar dosanya diampuni dan amalnya diterima.”

Kami terdiam. Tangis kami berubah menjadi doa.

Satu hal yang selalu menjadi sesak di dada: makam Buya kini tak lagi ditemukan. Dulu sempat ada usulan agar Buya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Kuranji, namun kami tak mampu memenuhi syarat administrasinya.

Kakak keempat pernah berkata, “Makam itu tak penting. Yang penting doa kita setiap selesai shalat.”

Kini setiap kali kami mengangkat tangan, nama Buya selalu ada di ujung doa. Di antara tasbih dan air mata, kami menyadari bahwa kepahlawanan tak selalu tercatat dalam buku sejarah.

Kadang ia hidup dalam diam—di sawah, di pasar, di ruang-ruang kelas tempat anak-anaknya mengajar.

Buya mungkin tak punya pusara yang megah. Namun ia memiliki jejak yang tak terhapus dalam hidup kami: tentang tanggung jawab, harga diri, dan cinta pada negeri.

Dan bagi kami, itulah kemerdekaan yang paling sejati.[]

Sekilas Tentang Penulis

Yunardi Sikumbang, lahir di Parak Jigarang, Kelurahan Anduring, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, 13 Juli 1964. Alumni IKIP Padang (kini Universitas Negeri Padang) ini telah mengabdikan diri di dunia pendidikan, mengajar di sejumlah SMP di Sumatera Barat, dan purna tugas sebagai Pengawas SMP Disdik Kota Padang pada awal 2025.

Selain menjadi pendidik, ia aktif menulis cerpen, artikel, serta kritik sastra di berbagai media: Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, dan Mingguan Canang. Saat ini tetap produktif menulis di media online fokusumbar.com.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *