Oleh: Nurul Jannah*)
“Yang runtuh bukan dindingnya, tetapi rasa aman yang pernah kita titipkan tanpa ragu.”
Pagi itu berlalu seperti biasa. Seperti pagi-pagi lain, yang hampir selalu terburu-buru.
Seorang ibu muda menurunkan anaknya di depan sebuah daycare. Tas kecil di punggung, sepatu rapi, rambut disisir seadanya.
Semua tampak baik-baik saja dan teratur. Namun ada satu hal yang tertinggal, perasaan pilu yang tidak sempat diucapkan.
“Bentar ya, Nak… Ibu kerja dulu.”
Anak itu mengangguk. Tidak menangis. Hanya memeluk lebih lama dari biasanya. Pelukan yang seharusnya biasa, namun diam-diam seakan menyimpan pesan yang tidak dimengerti.
Dan sang ibu muda, tidak pernah tahu, bahwa pelukan itu akan tinggal lebih lama dalam ingatannya dibanding hari-hari lain yang ia lewati.
Beberapa hari kemudian, sebuah video beredar. Singkat. Tanpa banyak kata. Namun cukup untuk membuat banyak jantung berhenti berdetak.
Di dalamnya terlihat seorang anak. Diam. Bukan diam yang biasa. Diam yang terasa tidak wajar untuk usia sekecil itu. Tatapannya kosong. Geraknya kaku.
Tampaknya bukan karena ia sulit diatur. Juga bukan karena ia nakal. Tetapi terlihat seperti ada rasa takut yang tidak mampu ia jelaskan.
Sejak itu, satu kata berubah makna.Daycare Yang dulu terasa sebagai ruang bermain, perlahan berubah menjadi ruang tanya. Apa yang terjadi di sana, saat kita tidak melihat?
Bagaimana semua ini bisa terjadi?
Tentu saja, tidak ada luka yang lahir dalam satu hari. Semua selalu dimulai dari hal-hal kecil yang dibiarkan.
Bisa jadi berasal dari kelelahan yang tidak diakui. Ada pengasuh yang lelah. Bekerja tiada henti. Tanpa jeda. Tanpa dukungan yang memadai.
Atau, di sisi lain, ada tempat yang terlalu penuh, dengan tenaga yang terlalu sedikit. Pengawasan yang mulai longgar. Standar yang terlihat cukup, namun tidak dijaga sepenuh hati.
Dan di tengah semua itu, ada anak-anak yang hanya bisa diam
Yang Paling Sunyi
Anak-anak tidak tahu bagaimana menjelaskan. Mereka tidak menulis laporan. Tidak juga menyusun kalimat. Mereka hanya berubah. Menjadi lebih pendiam. Lebih mudah takut. Atau menangis, tanpa sebab yang bisa dipahami.
Dan sering kali, orang dewasa baru menyadari, saat perubahan itu sudah terlalu dalam.
Bukan untuk Menyalahkan
Tulisan ini tidak lahir untuk menunjuk siapa yang salah.
Bukan untuk menghakimi orang tua yang menitipkan. Bukan pula untuk mencurigai semua daycare.
Karena kenyataannya, banyak orang tua yang tidak punya pilihan. Mereka bekerja. Mereka berjuang. Mereka mencoba memberi masa depan terbaik untuk anaknya.
Dan daycare, menjadi tempat dan jembatan yang harus mereka percaya.
Namun kepercayaan, tidak boleh berdiri tanpa penjagaan. Tidak boleh berdiri sendiri. Ia harus dijaga. Diawasi. Dirawat.
Daycare bukan hanya ruang bermain. Bukan pula hanya jadwal makan dan tidur.
Melainkan tentang rasa aman yang tidak boleh retak. Tentang pengasuh yang benar-benar siap, sistem yang diawasi dan komunikasi yang terbuka. Ia seharusnya adalah ruang aman, yang tidak boleh retak sedikit pun.
Seorang ibu pernah menyampaikan suara batinnya dengan hati-hati, ketika ia merasa tidak punya pilihan.
“Aku tidak pernah berniat meninggalkan anakku. Aku hanya sedang berusaha tetap kuat, tetap hidup, untuknya.”
Kalimat itu sederhana.
Namun di dalamnya, ada luka yang tidak mudah dijelaskan, ada cinta yang lelah, dan tanggung jawab yang tidak bisa ditunda.
Hari ini, kita mungkin tidak tahu seluruh cerita di balik video itu.
Namun ada satu hal yang tidak bisa diabaikan; anak-anak tidak hanya butuh tempat untuk dititipkan. Mereka butuh tempat untuk benar-benar dijaga. Karena pada akhirnya, yang kita titipkan bukan hanya tubuh kecil itu, melainkan rasa percaya, yang tidak boleh sekali pun dikhianati.
Dan, yang perlu kita jaga hari ini bukan hanya sistemnya, tetapi juga kepekaan hati kita, agar tidak pernah terlambat memahami, tangis yang tidak terdengar
Bogor, 30 April 2026❤️
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




