Longsor Menghadang, Tekad Pejuang Porprov Sumbar Tak Pernah Tumbang

Material longsor masih menimbun badan jalan Silaing, Kamis (30/7/2026) malam. (Foto KONI Sumbar)

MALAM itu langit Lembah Anai tampak tenang. Tidak ada hujan deras. Tidak ada angin yang menderu. Alam seolah sedang bersahabat.

Namun, Kamis (30/7/2026) pukul 19.40 WIB, ketenangan itu pecah dalam hitungan detik.

Dentuman keras menggema dari lereng perbukitan di kawasan Silaiang, Kilometer 65. Tanah, batu, dan pepohonan meluncur deras, menutup seluruh badan jalan. Jalur utama Sumatera Barat lumpuh.

Kendaraan dari dua arah berhenti. Tidak ada yang bisa melintas.

Di antara ratusan kendaraan yang terjebak, terdapat satu rombongan yang membawa misi besar bagi olahraga Sumatera Barat.

Mereka bukan atlet. Bukan pula pelatih.

Mereka adalah orang-orang yang bekerja jauh dari sorotan. Orang-orang yang selama berbulan-bulan berkeliling daerah demi memastikan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026 benar-benar kembali digelar setelah vakum selama delapan tahun.

Rombongan itu terdiri atas Ketua Panitia Persiapan Porprov XVI Sumbar, Dr. Septri, anggota Steering Committee Fazril Ale dan Dafrawira de Hansen, anggota Bidang Sarana dan Prasarana Firman Okta, anggota Humas Ridho Syarlinto, Technical Delegate IODI Sumbar Thomi Rohmin Dharu, serta tiga staf sekretariat, Ibnu Aldafi, Johanes BS Pasaribu, dan Abdurrouf.

BACA JUGA :  Mahasiswa KKN Tematik UNP Pasang Reflektor Jalan untuk Tingkatkan Keselamatan Pengendara di Kelurahan Gantiang

Sejak pagi mereka menempuh perjalanan panjang. Agenda mereka bukanlah seremoni, melainkan memastikan kesiapan daerah yang akan menjadi tuan rumah Porprov, mulai dari Kota Sawahlunto, Kota Solok, Kabupaten Tanah Datar, Kota Bukittinggi hingga Kabupaten Limapuluh Kota.

Mereka memeriksa venue, berdiskusi dengan panitia daerah, mengecek kesiapan teknis, hingga memastikan setiap kabupaten dan kota siap menyambut pesta olahraga terbesar di Ranah Minang pada 2–14 Oktober 2026.

Namun malam itu, semua rencana seketika berhenti.

Longsor menutup jalan.

Hingga pukul 00.00 WIB, Jumat (31/7/2026), material batu masih terus berjatuhan dari tebing. Tidak seorang pun berani mendekat. Lampu kendaraan memantul pada bongkahan batu raksasa yang menutup jalan, sementara suara reruntuhan sesekali memecah sunyi malam.

Tak ada yang tahu kapan jalan akan kembali terbuka.

Lebih dari Sekadar Sebuah Kejuaraan

Bagi sebagian orang, Porprov mungkin hanya sebuah kompetisi olahraga.

Namun bagi ribuan atlet Sumatera Barat, Porprov adalah panggung impian.

Ajang ini sempat terhenti selama delapan tahun. Delapan tahun yang terlalu panjang bagi atlet muda yang setiap hari berlatih dengan keterbatasan fasilitas, biaya, dan waktu.

BACA JUGA :  Demi Tingkatkan Mutu Pelayanan RSUD M. Zein Painan Gelar Forum Komunikasi Publik, Tampung Masukan Stakeholder

Banyak di antara mereka menggantungkan harapan pada Porprov untuk menunjukkan kemampuan, membuka jalan menuju tingkat nasional, bahkan membela Indonesia.

Karena itulah, setiap tahapan persiapan memiliki arti yang sangat besar.

“Kalau kami tidak mengawal ini, siapa lagi?” ujar Septri di tengah malam yang mencekam itu.

Bukan longsor yang paling mereka khawatirkan.

Yang lebih mereka takutkan adalah jika mimpi ribuan atlet kembali tertunda.

Longsor Menutup Jalan, Bukan Menutup Tekad

Panitia Porprov Sumbar beristirahat menunggu petugas membersihkan material longsor yang menimbun jalan di Silaing. (Foto KONI Sumbar)

Di tengah dinginnya malam Lembah Anai, mereka memilih menunggu dengan sabar.

Secangkir kopi hangat dan mi instan menjadi teman mengusir lapar. Sesekali terdengar tawa kecil untuk menghilangkan ketegangan. Tidak ada keluhan. Tidak ada penyesalan.

Yang ada hanyalah keyakinan bahwa perjuangan menghidupkan kembali Porprov memang tidak pernah mudah.

Di balik megahnya pembukaan nanti, di balik sorak-sorai ribuan penonton, ada perjalanan panjang yang mungkin tak pernah diketahui publik.

BACA JUGA :  Lomba Palai Bada dan Lamang Golek Semarakkan HUT RI ke-81 di Pesisir Selatan

Ada rapat yang tak terhitung jumlahnya.
Ada perjalanan lintas daerah yang melelahkan.

Ada malam-malam yang harus dijalani jauh dari keluarga.

Dan malam itu, ada longsor yang memaksa mereka berhenti.

Tetapi hanya kendaraan mereka yang berhenti.
Semangat mereka tidak.

Silaiang malam itu menjadi saksi bahwa membangkitkan kembali Porprov setelah vakum delapan tahun membutuhkan lebih dari sekadar anggaran dan jadwal. Tapi membutuhkan ketulusan, keberanian, dan orang-orang yang rela bekerja tanpa banyak dikenal.

Pukul 19.40 WIB jalan memang tertutup.
Namun tekad para pejuang Porprov Sumbar tidak pernah ikut tertimbun.

Sebab mereka percaya, perjuangan ini bukan untuk mencari nama, melainkan memastikan mimpi ribuan atlet Sumatera Barat tetap hidup.

Dan selama tekad itu masih menyala, tidak ada longsor yang mampu menghentikan langkah menuju Porprov XVI Sumatera Barat 2026. (Ridho Syarlinto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *