Ketika Kang Dedi Mulyadi Turun Tangan…

Oleh : Herdiyulis, S.H., M.H*)

Ada yang menyebutnya pencitraan. Ada pula yang melihatnya sebagai kepedulian. Saya memilih melihatnya dari sisi yang sederhana: ketika masyarakat sedang tertimpa bencana, ada seseorang yang datang membawa bantuan, hadir di tengah mereka, menyapa, bercanda, berfoto, dan membuat wajah-wajah yang sebelumnya murung kembali tersenyum.

Ketika Kang Dedi Mulyadi turun tangan membantu masyarakat terdampak bencana, dari Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara hingga Nusa Tenggara Timur, saya melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perdebatan tentang popularitas.

Saya melihat kehadiran.

Bukan Sekadar Bantuan, Tetapi Kehadiran

Dalam situasi bencana, bantuan material tentu sangat penting. Namun, kehadiran juga memiliki nilai yang tidak kalah penting.

Pada berbagai aksi kemanusiaannya, KDM hadir langsung di tengah masyarakat terdampak bencana. Bukan hanya menyerahkan bantuan, tetapi juga menyapa, berbincang dan berinteraksi dengan mereka.

Dari berbagai video yang beredar, terlihat bagaimana suasana yang semula penuh kesedihan menjadi lebih cair. Korban tersenyum, bercanda, bahkan berfoto bersama. Untuk sesaat, beban akibat bencana seolah sedikit terangkat.

Di sinilah makna sebuah kehadiran. Ketika seseorang datang langsung, menyapa dan berinteraksi dengan korban, muncul perasaan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi musibah.

Baca Juga :  Perkuat Pengelolaan Aset Telekomunikasi, PLN Icon Plus Lakukan Pemeliharaan Jaringan melalui P3AK di Rokan Hulu

Apakah kita perlu menebak apa yang ada di balik kehadiran itu?

Menurut saya, tidak.

Kita tidak pernah benar-benar tahu isi hati seseorang. Karena itu, biarkan tindakan yang berbicara.

Jika bantuan benar-benar diberikan dan kehadirannya mampu membuat masyarakat merasa diperhatikan, maka ada manfaat nyata yang patut kita apresiasi.

Pencitraan Positif? Mengapa Tidak

Ada yang menilai aksi tersebut sebagai pencitraan politik. Saya tidak ingin membantahnya secara apriori.

Kalaupun disebut pencitraan, saya memilih melihatnya sebagai pencitraan yang positif, sepanjang popularitas yang dimiliki seseorang diikuti dengan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pencitraan memang bisa menjadi kosong ketika hanya berhenti pada kamera. Tetapi ketika popularitas diikuti dengan aksi nyata—memberikan bantuan, hadir langsung di tengah korban, dan membeli kebutuhan bantuan dari masyarakat setempat—maka popularitas tersebut dapat menghasilkan manfaat yang lebih luas.

Ketika kebutuhan bantuan dibeli dari pedagang dan pelaku usaha di sekitar wilayah terdampak, uang yang dikeluarkan untuk bantuan juga ikut berputar di ekonomi lokal. Pedagang mendapatkan pembeli, pemasok mendapatkan permintaan, sementara masyarakat terdampak menerima bantuan yang mereka butuhkan.

Dalam konteks seperti ini, popularitas tidak berhenti sebagai alat membangun citra. Ia dapat berubah menjadi energi kepedulian dan sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Baca Juga :  Bupati Hendrajoni Lepas Tim Penggerak PKK Pessel Ikuti Jambore PKK Sumbar di Bukittinggi

Di sinilah kita perlu belajar melihat sebuah tindakan secara lebih proporsional: bukan hanya dari siapa yang melakukannya, tetapi juga dari apa yang dihasilkannya bagi masyarakat.

Dari KDM, Kita Bicara Tentang Indonesia

Lebih jauh, saya melihat ada pesan yang jauh lebih besar daripada sosok KDM itu sendiri.

Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Timur memiliki karakter, budaya, suku, agama dan kehidupan sosial yang beragam. Namun ketika bencana datang, sekat-sekat itu seharusnya mencair.

Dalam perspektif solidaritas sosial, kehadiran seseorang di tengah masyarakat yang sedang mengalami musibah bukan semata-mata soal bantuan material. Kehadiran juga menghadirkan rasa keterhubungan: bahwa penderitaan mereka diperhatikan dan mereka tidak menghadapi musibah seorang diri.

Sementara dalam perspektif modal sosial, interaksi langsung dapat membangun kepercayaan dan memperkuat hubungan antarmanusia.

Karena itu, ketika korban bencana tersenyum dan merasa diperhatikan, mungkin ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.

Ada solidaritas.
Ada kemanusiaan.
Dan ada pesan bahwa kita, meskipun berbeda daerah, suku dan agama, tetap berada dalam satu rumah besar: Indonesia.

Baca Juga :  Bypass Kota Padang Sedang "Sakit", Jangan Tunggu Korban Jatuh Baru Bertindak

Kita boleh berbeda pandangan tentang Kang Dedi Mulyadi. Kita boleh setuju atau tidak setuju terhadap berbagai tindakannya. Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan kemampuan untuk mengapresiasi sebuah tindakan kemanusiaan.

Sebab pada akhirnya, korban bencana tidak sedang membutuhkan perdebatan tentang siapa yang paling benar.

Mereka membutuhkan pertolongan, perhatian, dan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian sebagai bagian dari Indonesia.

Jika popularitas seseorang mampu mengubah perhatian menjadi bantuan, ikut menggerakkan ekonomi masyarakat setempat, dan membuat mereka yang sedang berduka kembali tersenyum, mungkin kita tidak perlu selalu melihatnya dari sisi negatif.

Karena terkadang, yang paling penting bukan siapa yang datang membawa bantuan, tetapi apakah kehadirannya mampu membuat sesama manusia merasa tidak sendirian. []

Mantan Anggota DPRD Kota Solok 2 Periode*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *