Sebelum Alam Menangis

Oleh: Nurul Jannah*)

Setiap bulan, kita mengenal banyak tagihan.

Listrik.
Air.
Internet.
Berbagai cicilan.
Kartu kredit.

Begitu tanggal jatuh tempo mendekat, kita segera membayar. Kita takut listrik diputus, internet berhenti, atau denda bertambah.

Namun, ada satu tagihan yang hampir tidak pernah datang melalui pesan singkat.

Tidak memiliki nomor rekening.
Tidak mengenal tanggal jatuh tempo.
Tidak pula mengirim surat peringatan.

Tagihan itu datang dari alam.

Kita mengambil air dari Bumi. Menghirup udara. Menggunakan kayu, mineral, energi, pangan, tanah, dan berbagai sumber daya untuk menjalani kehidupan.

Setiap hari.

Tanpa kuitansi.

Tanpa tagihan.

Mungkin karena itulah kita sering merasa semuanya akan tersedia selamanya.

Padahal, tidak.

Pada 30 Juli 2026, dunia melewati Earth Overshoot Day: tanggal ketika kebutuhan manusia terhadap sumber daya dan jasa ekologis telah melampaui kemampuan ekosistem Bumi untuk meregenerasikannya dalam tahun yang sama.

Artinya, secara ekologis, sejak tanggal itu manusia hidup dengan mengambil lebih banyak daripada yang mampu dipulihkan Bumi.

Global Footprint Network memperkirakan manusia saat ini menggunakan alam 73 persen lebih cepat daripada kemampuan ekosistem Bumi untuk beregenerasi; setara dengan kebutuhan sekitar 1,73 Bumi.

UNEP juga mencatat bahwa ekstraksi sumber daya alam telah meningkat sekitar tiga kali lipat dalam lima dekade terakhir.

Tanpa perubahan mendasar, ekstraksi material global diproyeksikan meningkat hampir 60 persen pada 2060 dibandingkan tingkat tahun 2020.

Baca Juga :  Pessel Raih Dua Penghargaan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

Kita mengambil semakin banyak.

Membangun semakin banyak.

Membeli semakin banyak.

Dan membuang semakin banyak.

Sementara itu, Bumi tidak pernah bertambah luas untuk menampung seluruh keinginan manusia.

Di sinilah tagihan mulai datang.

Bukan melalui amplop. Melainkan dalam bahasa yang jauh lebih nyata.

Hutan yang kehilangan tutupannya.

Sungai yang menanggung limbah.

Tanah yang kehilangan kesuburannya.

Udara yang semakin sesak oleh polusi.

Iklim yang berubah.

Keanekaragaman hayati yang terus menyusut.

Dan bencana yang membutuhkan biaya semakin besar untuk dipulihkan.

Bahkan makanan menjadi bagian dari paradoks itu.

UNEP memperkirakan dunia membuang sekitar 1,05 miliar ton makanan pada 2022; setara dengan hampir seperlima makanan yang tersedia bagi konsumen. Dan, pada tahun yang sama, sekitar 783 juta manusia terdampak kelaparan.

Betapa ironisnya.

Kita mengambil hasil dari tanah. Menggunakan air untuk menumbuhkannya. Menghabiskan energi untuk mengolahnya. Mengangkutnya berkilo-kilometer. Membelinya dengan uang.

Lalu sebagian berakhir di tempat sampah.

Barangkali persoalan terbesar kita bukan karena Bumi kekurangan sumber daya.

Barangkali kitalah yang sering kehilangan rasa cukup.

Ingin rumah lebih besar.

Kendaraan lebih baru.

Pakaian lebih banyak.

Makanan lebih berlimpah.

Gawai lebih mutakhir.

Keinginan terus bertambah, sementara daya dukung Bumi tetap memiliki batas.

Padahal, tidak semua yang mampu kita beli harus kita miliki.

Tidak semua yang tersedia harus kita ambil.

Dan tidak semua yang kita inginkan benar-benar kita butuhkan.

Baca Juga :  Wabup Yulian Efi Dukung Promosi Produk Lokal Solok Selatan di AOE 2026

Hidup berkelanjutan bukan berarti berhenti menikmati kehidupan.

Ia mengajarkan kita satu kata yang semakin sulit diucapkan: cukup.

Mengambil secukupnya.

Memperbaiki sebelum mengganti.

Menghabiskan makanan yang telah diambil.

Menghemat air dan energi.

Memilih barang yang benar-benar diperlukan.

Sederhana.

Namun bayangkan jika miliaran manusia melakukannya.

Barangkali perubahan besar memang tidak selalu dimulai dari keputusan besar.

Ia dimulai ketika manusia berani berkata:

“Cukup.”

Cukup mengambil.

Cukup membuang.

Cukup mengejar keinginan yang tidak pernah mengenal garis akhir.


Alam sesungguhnya sudah sangat sabar.

Ia memberi air sebelum kita meminta.

Menumbuhkan pohon jauh sebelum kita membutuhkan teduhnya.

Menyediakan tanah sebelum kita menanam.

Dan menghadirkan udara bahkan sebelum kita menarik napas pertama.

Tetapi kesabaran alam bukan berarti kemampuannya tanpa batas.

Setiap pengambilan yang berlebihan meninggalkan kekurangan.

Setiap pencemaran membutuhkan pemulihan.

Setiap pohon yang hilang membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali.

Dan setiap utang ekologis, cepat atau lambat, akan menghadirkan konsekuensi.

Pertanyaannya hanya satu:

Siapa yang akan membayarnya?

Kita?

Atau anak-anak yang bahkan belum lahir, tetapi kelak harus menanggung akibat dari apa yang hari ini kita habiskan?


Maka, sebelum alam benar-benar menagih, sudah waktunya kita memeriksa kembali cara hidup kita.

Sebab menjaga Bumi berarti menyelamatkan planet yang telah bertahan selama miliaran tahun.

Dan, menjaga bumi sesungguhnya adalah mempertahankan keberlanjutan kehidupan kita sendiri di atasnya.

Baca Juga :  Gelaran OBA ke-9 Tingkat Sumbar di Bukittinggi, Kakankemenag Pessel H. Yufrizal: Tampilkan Kemampuan Terbaik

Besok pagi, tagihan listrik mungkin kembali datang.

Bayarlah.

Tagihan air datang.

Bayarlah.

Namun sesekali, berdirilah di depan jendela dan pandanglah ke luar.

Ada satu tagihan lain yang tidak pernah dikirimkan.

Tagihan itu sedang ditulis, sedikit demi sedikit, oleh cara kita hidup hari ini.

Dan sebelum tagihan itu diwariskan kepada anak-anak kita, mari mulai membayarnya; bukan dengan uang, tetapi dengan perubahan.

Dengan mengambil lebih sedikit.

Membuang lebih sedikit.

Menghemat lebih banyak.

Menanam lebih banyak

Menjaga sepenuh cinta.

Dan belajar merasa cukup.

Sebab Bumi tidak pernah mengirim surat peringatan.

Ia mengirim tanda-tanda.

Sungai yang berubah warna.

Udara yang semakin sesak.

Hutan yang semakin sunyi.

Musim yang semakin sulit dibaca.

Semoga kita cukup peka untuk membacanya.

Karena mungkin pertanyaan terbesar bukan: “Kapan alam akan menagih?”

Melainkan berapa mahal harga yang harus dibayar anak cucu kita jika hari ini kita tetap berpura-pura tidak menerima tagihannya?

Bogor, 29 Agustus 2026

Dosen Sekolah Vokasi IPB University*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *