Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ,S.Ag, MA.*)
Kepemimpinan adalah sebuah kata sifat yang menggambarkan keadaan, kondisi yang dimiliki oleh seseorang dalam menjalankan fungsinya sebagai pemimpin. Dalam kepemimpinan ini akan nampaklah bagaimana gaya, style, karakteristik dan kemampuan seorang pemimpin dalam membina, membimbing, memengaruhi, memotivasi dan menginspirasi orang yang dipimpinannya untuk bergerak, melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi diri, anggota, kelompok dan orang banyak, sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Membicarakan masalah kepemimpinan, selalu menarik, seksi, tetap aktual dan selalu populer bagi setiap kalangan. Karena dengan kepemimpinan seseorang atau beberapa orang diharapkan terwujudnya sebuah harapan besar, yang dicita-citakan mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia, untuk membawanya kepada kebahagiaan dan kesejahteraan lahir batin.
- Menururt Kurt Lewin ( 1939 ) menyatakan : “ Ada tiga tipe kepemimpinan utama, yaitu : otokratis ( otoriter ), demokratis ( partisipsif ) dan laises-faire ( delegatif ) “, dengan ciri khasnya sebagai berikut :
- Kepemimpinan Otoriter ( Otokratis ), kepemimpinan ini terkonsentrasi pada seseorang dalam mengendalikan organisasi dan tidak melibatkan orang lain. Karakteristiknya, aturan ketat, arahan jelas dan anggota diharapkan patuh dan tidak membantah. Kelebihan gaya ini, keputusan cepat diambil tanpa menunggu. Sedangkan kekurangannya, bisa menurunkan moral, memicu rasa takut dan kreativitas.
- Kepemimpinan Demokratis ( partisipasif ), dalam kepemimpinan ini para anggota dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Meski pun seringkali keputusan akhir tetap berada pada pemimpin, tetapi masukan dari para anggota tetap menjadi pertimbangan baginya. Gaya ini paling efektif untuk kinerja kelompok secsra keseluruhan. Namun keputusan secara demokratis dinilai lambat, butuh proses dan waktu. Tidak cocok buat situasi yang mendesak.
- Kepemimpinan Laisez-faire ( deelegatif ), dalam gaya kepemimpinan ini, menerapkan pendekatan tanpa campur tangan pimpinan, pengambilan keputusan diberikan wewenang kepada para anggota atau pengikut secara mandiri. Gaya ini hanya diberikan wewenang kepada anggota atau pengikut yang terampil, memiliki integritas yang tinggi dan diyakini oleh pimpinan tidak akan menyelewengkan amanah. Kelemahannya, banyak juga di antara anggota, pengikut yang tidak memiliki keterampilan yang memadai dan tidak memiliki sikap mental terpuji.
Sementara itu kepemimpinan menurut para pakar lainnya :
- Jacobs dan Jancques ( 1990 : 281 ) : “ Kepemimpinan adalah sebuah proses memberi arti terhadap usaha kolektif, dan mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha diinginkan untuk mencapai sasaran “.
- Wahjosumidjo ( 1987 : 11 ) : “ Kepemimpinan adalah sesuatu yang melekat pada diri seseorang pemimpin berupa sifat-sifat tertentu seperti kepribadian ( personality ), kemampuan ( ability ), dan kesanggupan ( capability ), kepemimpinan sebagai rangkaian kegiatan ( activity ), pemimpin tidak bisa dipisahkan dengan kedudukan ( posisi ) serta gaya atau perilaku pemimpin itu sendiri “.
- Moejiono ( 2002 ) : “ Kepemimpinan adalah sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya “.
Berdasarkan pendapat para pakar di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah sebuah upaya, kegiatan yang digerakkan oleh seseorang atau beberapa orang yang memiliki kepribadian, kemampuan dan kesanggupan serta kualitas lain yang dimilikinya, dengan gaya kepemimpinan yang otoriter, demokratis dan laisez-fire, semuanya itu dilakukan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Kepemimpinan itu pun tidak bisa dipisahkan dengan pemimpin, yaitu orang yang melakukan tugas dan amanah yang diberikan. Bagaimana pun juga sosok pemimpin dan kepemimpinan seseorang tersebut, merupakan sesuatu yang menyatu dan tak terpisahkan.
Justeru itu seorang pemimpin dengan kepemimpinannya merupakan bagaikan dua sisi mata uang, yang saling memengaruhi. Apabila salah satunya rusak, maka akan berpengaruhlah terhadap nilai atau harga yang semestinya. Boleh jadi harga jual, nilai atau martabat dari kepemimpinan seorang pemimpin yang tidak berintegritas, tidak jujur, tidak amanah dan jauh dari tanggung jawab, dipastikan tidak mendapatkan kepercayaan, legitimasi dari pengikutnya dan tidak akan mendapatkan dukungan dari masyarakat luas.
Sejarah telah mencatat pemimpin dan kepemimpinan umat manusia sepanjang masa
Dalam sejarah umat manusia, telah banyak mencatatkan sejarah pemimpin dan kepemimpinan umat manusia. Sebutlah mulai dari Nabi Adam AS, Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa AS, Nabi Yusuf AS sampai kepada Isa AS dan Nabi Muhammad SAW. Sungguh banyak tercatat para pemimpin dengan segala tipe dan gaya kepemimpinannya.
Nabi Ibrahim AS dengan kepemimpinannya yang ulet, teliti, pemberani dan penuh tanggung jawab. Nabi Ibrahim AS dalam rangka menyadarkan umatnya yang menyembah patung, yang mereka buat sendiri, lalu mereka jadikan tuhan sembahan, pada hal patung itu tidak bisa berbuat apa-apa.
Dengan keberanian yang dimilikinya Nabi Ibrahim AS menghancurkan semua patung sembahan umat di kala itu dan menyisakan yang paling besar. Tatkala Nabi Ibrahim AS ditanya oleh pembesar Babilonia, tanyakanlah kepada patung yang besar ini, jika patung bisa menjawab.
Begitulah sepenggal kisah Nabi Ibrahim AS dalam perjalanan, perjuangan hidupnya membawa umat untuk mentauhidkan dan mengesakan Allah SWT.
Akhirnya Nabi Ibrahim AS mendapatkan hukum besar dari Raja Namruj dilemparkan ke tengah api besar dan membara, yang telah disiapkan sebelumnya oleh antek-antek Raja Namruj. Setelah api padam, Nabi Ibrahim AS dengan langkah santai keluar dari kepingan-kepingan bara api, tanpa merusak, menciderai tubuh Nabi Ibrahim AS.
Di sisi lain juga terkenal para pemimpin yang bukan nabi dan rasul utusan Allah SWT, tetapi dari kalangan bangsawan dan tokoh pada masanya. Di antara para pemimpin yang pernah tenar di masanya adalah Raja Namruj, Raja Firaun, Heraclius, Iskandar Agung atau Iskandar Zulkarnain, Abu Bakar RA, Umar Bin Khatab RA, Usman Bin Affan RA, Ali Bin Abi Thalib, Umar Bin Abdul Aziz, Shalahuddin Al-Ayyubi, Isac Newton, Richard Lion Heart, Napoleon Bona Partai, Abraham Lincoln, Ratu Bulqis, Ratu Elizabeth, Ratu Welhelmina, Jhon F Kennedy, Gamal Abdel Nasser, Muhammad Kemal At-taturk, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, H. Agus Salim, H. M. Natsir dan banyak lagi lainnya.
Di antara pemimpin yang tenar di masanya itu, tidak semuanya yang pro rakyat, berpihak untuk menegakkan kebenaran, keadilan dan menyejahterakan rakyatnya. Banyak di antara mereka selama berkuasa menginginkan agar kekuasaannya lestari, sehingga mereka mendeklarasikan dirinya raja diraja, king of the king. Bahkan, memproklamirkan dirinya sebagai tuhan, apa yang diucapkannya berarti suara tuhan.
Itulah yang diberlakukan oleh para pemimpin dari komunitas Firaun, yang ingin berkuasa selamanya. Kepemimpinan Firaun inilah yang dihadapi oleh Nabi Musa AS. Sehingga puncak pembangkangan Firaun berakhir di laut merah dalam mengejar lajunya kendaraan Nabi Musa AS.
Tatkala rombongan Nabi Musa AS melarikan diri dari kejaran Raja Firaun, ikut juga oligarki ternama Qarun dan pejabat kesayangan Firaun yang bernama Hamman beserta bala tentaranya dan terdesak sampai ke tepi laut. Maka pada saat itu Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa AS agar membelah laut dengan tongkatnya, yang merupakan mukjizat khusus bagi Nabi Musa AS yang dianugerahi Allah SWT kepadanya.
Tatkala rombongan Nabi Musa AS, telah sampai dengan selamat di seberang laut merah, maka Allah SWT menautkan kembali lautan yang tadi terbelah dua oleh tongkat Nabi Musa. Yang akhirnya menenggelamkan Raja Firaun, tokoh oligarki terkaya Firaun dan tokoh birokrat kesayangan Raja Firaun, yang bernama Hamman beserta para rombongannya. Jika ada ditemukan barang berharga di dasar laut atau pun terkubur dibawah tanah, maka dikatakanlah ini adalah harta peninggalan Qarun laknatullah.
Namun, demikian Allah SWT menyisakan jasad Firaun laknatullah , yang dilemparkan ke tepi pantai dijadikannya sebagai mumi, sebagai patung raksasa yang menjadi ikon, destinasi wisata jagad dunia, yang pembelajaran bagi umat yang datang kemudian, yang sampai sekarang bisa disaksikan berupa pyramid di negara Mesir.
Kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW berlaku sepanjang masa
Dari gambaran kepemimpinan sepintas di atas yang terekam dalam lintasan sejarah umat manusia sampai akhir zaman, terdapat pasang surut kepemimpinan dari berbagai periode, masa yang pada dasarnya, kepemimpinan sebelum Rasulullah Muhammad SAW diutus pada umumnya berlaku secara temporal, sesuai dengan masa dan bagi umat tertentu.
Namun demikian tipologi kepemimpinan pra diutusnya Rasulullah Muhammad SAW bisa diambil hikmah, pembelajaran sebagai komparatif, perbandingan mana yang lebih relevan, sesuai dengan kekinian dan masa yang akan datang dan mana pula yang harus ditinggalkan.
Karena banyak bertentangan dengan naluri, hati nurani, terutama bagi umat Islam banyak hal yang sangat tidak relevan dengan ajaran, syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW yang pada prinsipnya mengajak umat manusia untuk mengesakan Allah SWT. Perlu digaris bawahi bahwa kepemimpinan dalam Islam adalah bagian yang tak terpisahkan dengan ibadah kepada Allah SWT, yang suatu saat akan dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT.
Setelah memperhatikan berbagai tipologi kepemimpinan di zaman para nabi dan rasul sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW, begitu juga dengan kepemimpinan para raja dan bangsawan terkenal dalam sejarah umat manusia.
Pada umumnya kepemimpinan yang mereka miliki dan mereka terapkan lebih banyak berpihak untuk melestarikan kekuasaan mereka, dengan berbagai cara mereka lakukan upaya untuk melawan setiap kritik, saran dan upaya perubahan dan perbaikan yang diusulkan oleh rakyat mau pun dari kelompok oposisi di kala itu.
Seperti Raja Firaun dengan komunitas kolusinya, yang terdiri dari kelompok oligarki dibawah kendali Qarun, sedangkan barisan menteri dan birokrat dipimpin oleh Hamman. Bagaimana pun juga Nabi Musa AS mendakwahinya untuk berserah diri kepada Allah SWT, mentauhidkan dan mengesakan Allah SWT serta melarang menzalimi sesama umat manusia. Bagaimana pun usaha Nabi Musa AS bersama saudaranya Nabi Harun AS mendatangi Firaun untuk mentauhidkan, mengesakan Allah SWT tidak pernah diacuhkan oleh Firaun laknatullah, karena hatinya telah terkunci menerima kebenaran.
Rasulullah Muhammad SAW Memiliki Kepemimpinan Paripurna
Kepemimpinan Rasululullah Muhammad SAW bagi umat Islam tidak diragui lagi kehebatan dan keistimewaannya, namun sangat disayangkan para pakar manajemen dan pakar kepemimpinan yang berasal dari umat Islam, tidak banyak menggali dan mendalami kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW.
Para pakar leadership dan manajemen muslim sepertinya lebih doyan dan lebih senang membicarakan kepemimpinan modern, yang ditulis oleh ilmuwan barat yang beraliran orientalis. Bahkan menjadikan buku leadership dan manajemen yang berasal dari kaum orientalis sebagai buku wajib dalam memberikan materi pembelajaran dan pembinaan kepemimpinan.
Mereka lebih bangga memakai literasi yang berasal dari pakar manajemen barat, dibandingkan berpedoman kepada Al-Quran dan Sunnah. Pada hal Allah SWT sendiri telah menyatakan dan mengakui bahwa sungguh pada diri Rasulullah Muhammad SAW itu terdapat suri teladan yang baik bagimu.
“ Laqad kaana lakum fiy rasuulillaahi uswatun hasanatun liman kaana yarjullaaha wal yaumal aakhira wa dzakarallaaha katsiiran “
Artinya : “ Sungguh, telah ada pada ( diri ) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharap ( rahmat ) Allah dan ( kedatangan ) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah “. ( Q.S.33.21 ).
“ Wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiimin “ artinya : “ Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti luhur “. ( Q.S.68.4 ).
Pernyataan dan pengakuan Allah SWT tentang kehebatan dan keistimewaan yang dimiliki oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam Al-Quran, secara kasat mata dan meyakinkan tidak ada seorang pun umat Islam, yang berani menyanggah atau membantah keabsahan ayat Al-Quran.
Tetapi sangat disayangkan sekali, dalam kenyataannya dan praktiknya jauh panggang dari api. Kehebatan, keagungan Rasulullah Muhammad SAW dalam dunia kepemimpinan umat Islam Indonesia khususnya. Seolah-olah tidak terpakai, mereka enggan dan tidak mau memasukkan kiat-kiat rahasia kesuksesan Rasulullah Muhammad SAW dalam memimpin rumah tangga, memimpin umat dan negara.
Padahal tokoh orientalis kesohor Michael H Hart dalam sebuah bukunya “ Seratus Orang Tokoh Yang Berpengaruh “ menempatkan Rasulullah Muhammad SAW pada urutan pertama “ dalam buku tersebut pada urutan kedua adalah Isac Newton, bukan Nabi Isa AS atau Nabi lainnya. Sungguh mengherankan, kenapa pakar leadership dan manajemen muslim belum menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai panutan utama dalam memenej dan mengelola semua lini kehidupan, dengan mengedepankan leadeship dan manajemen Rasulullah Muhammad SAW.
Para pakar leadership dan managemen muslim lebih menyenangi dan menyukai tulisan para sarjana barat, seperti : Georgy R Terry dengan POAK-nya. Frederick W. Taylor dengan teori manajemen ilmiahnya memiliki ciri khas pada tugas-tugas spesifik dan terukur bagi karyawannya. Henri Fayol dengan teori kontingensi, yang meminta seorang manager dalam membut keputusan harus memperhitungkan berbagai aspek. Begitu juga dengan Max Weber dengan teori birokrasi, dengan membagi organisasi menjadi hirarki, membangun garis yang kuat dari otoritas dan kontrol.
Kalau kita perhatikan dengan seksama keberadaan Rasulullah Muhammad SAW dalam menjalankan kepemimpinannya, yang didukung oleh faktor kepribadian, kemampuan, etika, akhlak, budi pekerti luhur. Semuanya itu mengkristal dalam semua tindak tanduknya, dibalut dan dikemas dengan sikap utama yang dimilikinya yaitu : Sidik, Amanah, Fathanah dan Tabligh.
Keempat sikap dasar inilah yang membawa Rasulullah Muhammad SAW sukses dalam semua kehidupannya. Sukses dalam membina rumah tangganya “ Baitiy jannatiy “ artinya : “ Rumah tanggaku surgaku “. Rasululullah Muhammad SAW tidak menyatakan “ My home is my castle “. Karena di istana yang megah tidak menjamin terwujudnya kedamaian, kesenangan, kebahagiaan dan kesejahteraan. Betapa banyak di istana yang serba mewah terjadi perselisihan, perseteruan, perselingkuhan dan pembunuhan.
Sedangkan dalam rumah tanggaku surgaku, dipenuhi kenikmatan, kasih sayang, ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan lahir batin, begitu diungkapkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Sudah sewajarnyalah umat Islam di semua level kepemimpinan dan di mana saja berada, untuk kembali membaca, menelaah, memahami, menghayati dan menguasai kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW untuk diterapkan, dijadikan acuan, pedoman dan tuntunan dalam hidup dan kehidupan sehari-hari.
Sudah saatnya para ilmuwan, para pakar, kaum intelektual muslim di semua bidang keahliannya, untuk berupaya maksimal menjadikan ajaran Islam, Al-Quran dan Sunnah sebagai pedoman dan menjadikannya sebagai tuntunan dalam kehidupan, way of life. Karena Al-Quran isi dan kandungannya meliputi segala hal yng dibutuhkan oleh umat manusia serta menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai rule model, pola dan contoh teladan terbaik dalam semua lini kehidupan.
Kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW selalu mengacu dan menpedomani Al-Quran sebagai konstitusi ( hukum dasar ) dalam menjalani hidup dan kehidupan dunia akhirat. Al-quran hanya membuat prinsip-prinsip umum dan rincian-rinciannya diterangkan, dijelaskan melalui sunah Rasulullah Muhammad SAW dan ijtihad.
Kepemimpinan dalam bidang apa pun dipastikan berhubungan dengan ketaatan dan loyalitas kepada Allah SWT. Dalam kepemimpinan terkecil di rumah tangga, suami adalah pemimpin yang harus ditaati oleh isteri dan anak-anaknya sebagai anggota keluarga. Ketaatan kepada suami dan Ayah dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh hukum Allah SWT, tidak boleh semena-mena.
Begitu juga dalam masyarakat ada yang disebut dengan pemimpin formal dan informal, seperti lurah, camat, bupati, gubernur dan presiden dan warga atau rakyat harus taat, patuh kepada pimpinannya.
Keberhasilan pemimpin formal sangat ditentukan oleh kepemimpinan informal di rumah tangga, dan keberhasilan kepemimpinan rumah tangga adalah anak tangga dasar menuju kesuksesan kepemimpinan di tengah masyarakat. Sebagai contoh dan realitas di berbagai negara di dunia berbicara kepemimpinan, pada dasarnya dimulai dari bawah. Kepemimpinan dari bawah yang berawal dari rumah tangga inilah masyarakat memilih kepemimpinan yang lebih tinggi. Hal ini telah dipraktikan oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam semua lini kehidupannya.
Yang perlu menjadi perhatian bagi umat dan bangsa bagaimana dalam memilih pemimpin dan kepemimpinan serta bagaimana kriterianya.
“ Innallaaha yakmurukum an tu-addul amaanaati ilaa ahlihaa wa idza hakamtum bainan-naasi an tahkumuu bil-’adli innallaaha ni’imma ya’i-zhukum bihii, innallaaha kaana samii-am bashiiraan “.
Artinya : “ Sungguh, Allah menyuruhmu menyampikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya denga adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat “. ( Q.S.4.58 ).
Bila dicermati ayat diatas setidaknya mengandung 4 pesan moral dan etika pemimpin; (1). Allah memerintah untuk menunaikan berbagai macam amanah yang diamanahkan kepada siapa pun yang memberikan amanah; (2). apabila diamanahkan untuk berkuasa, maka laksanakan amanah kekuasaan itu dengan penuh keadilan; (3). perintah dan nasehat ini merupakan perintah yang paling indah untuk dijadikan pedoman; (4). sesungguhnya Allah mendengar perkataan serta melihat gerak gerik kalian dalam perilaku, termasuk ketika dalam berkuasa atau memerintah.
Dengan demikian sangat jelas perintah Allah untuk memberikan dan meletakkan amanah itu kepada yang berhak menerimanya, kepada mereka yang pantas, memenuhi syarat dan kriteria yang ditetapkan dalam memilih pemimpin. Kalau memilih pemimpin yang tidak sesuai dengan syarat, kriteria yang telah disepakati, maka kalian telah berlaku pengkhianatan. Apabila sifat khianat dan pengkhianatan telah merajalela, maka tunggulah ketetapan Allah SWT seperti diungkapkan Rasulullah Muhammad SAW :
“ Idzaa wusidal amru ilaa ghairi ahlihi fantazhiris saa-ata “ artinya : “ Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah kiamat “. ( H.R. Bukhari ).
Kemudian Allah SWT dalam ayat berikutnya menegaskan dan memerintahkan orang beriman untuk mematuhi Allah dan mematuhi Rasul-Nya dan para pemimpin di antara kamu.
“ Yaa ayyuhal ladziina aamanuu athii-’ullaaha wa athii-’urrasuula wa ulil amri minkum fain tanaaza’tum fiy syai-in farudduuhu ilallaahi war-rasuuli in kuntum tukminuuna billaahi wal yaumil aakhiri dzaalika khairuw wa ahsanu takwiilaa “.
Artinya : “ Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul ( Muhammad ), dan Ulil Amri ( pemegang kekuasaan ) di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah ( Al-Quran ) dan Rasul ( sunnahnya ), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama ( bagimu ) dan lebih baik akibatnya”, ( Q.S.4.59 ).
Memperhatikan ayat di atas ada empat pesan etika, moral yang perlu menjadi perhatian bagi umat Islam beriman; (1). perintah taat kepada Allah dan Rasul-Nya; (2). perintah taat kepada ulil amri ( pemerintah/pimpinan ), selama pimpinan itu tidak memerintahkan maksiat; (3). apabila terjadi perselisihan, keputusannya dikembalikan kepada Al-Quran dan Sunnah; dan (4). mengembalikan segala bentuk perselisihan, perbedaan kepada Al-Quran dan Sunnah; adalah suatu penyelesaian terbaik.
Masya Allah wa tabaarakallaah, sungguh mumtaz and amazing, luar biasa sekali Allah SWT menjelaskan dengan rinci dan penuh hikmah tentang pentingnya masalah pemimpin dan kepemimpinan di tengah masyarakat, umat dan bangsa. Dalam hal ini para ulama memberikan kesimpulan terhadap dua ayat di atas sebagai pokok hukum yang menghimpun segala ajaran agama.
Berdasarkan firman Allah SWT di atas betapa penting dan urgennya masalah pemimpin dan kepemimpinan dalam ajaran Islam. Bagaimana pun sosok, kepribadian seorang pemimpin sangat menentukan sekali maju mundurnya sebuah umat dan bangsa, semuanya itu berada pada amanah dan tanggung jawab para pemimpin, penguasa dan pemerintahannya.
Justeru itu, sudah saatnya pemimpin dan kepemimpinan dengan gaya, ala Rasulullah Muhammad SAW yang amat sukses dalam semua lini kehidupannya, dijadikan rule model, pola dan patron dalam membangun umat dan bangsa Indonesia.
Bangsa Indonesia yang kaya dengan sumber daya manusia, sumber daya alam yang melimpah ruah, terdiri dari ribuan pulau, lautan yang luas, masyarakatnya yang majemuk, berbeda budaya dan kepercayaan disatukan oleh falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Semoga para pemimpin umat dan bangsa menyadari betapa besarnya anugerah Allah SWT kepada Bangsa Indonesia, letaknya yang sangat strategis, di kelilingi benua dan dilalui garis khatulistiwa, yang tidak mengenal musim panas dan musim dingin serta dianugerahi Allah SWT sumber daya alam yang luar biasa, emas, perak, nikel, minyak bumi dan semua kebutuhan dunia ada di Indonesia.
Masihkah pemimpin dan kepemimpinan yang dijalankan di negara Indonesia menjauhi rakyatnya atau sudah pro rakyat, mendengarkan keluhan, rintihan nurani rakyat yang semakin hari kehidupannya tidak baik-baik saja, sudahkah menjalankan amanah dengan baik dan maksimal?
Solusinya adalah dengan menerapkan kepemimpinan Rasulullah Muhammad why not, kenapa tidak? Bukankah kehadiran Rasulullah Muhammad SAW menjadi rahmat bagi alam semesta, termasuk bangsa dan rakyat Indonesia ada di dalamnya.
Kepribadian dan kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW telah diakui kesuksesannya dalam semua lini kehidupannya oleh Allah SWT dan umat manusia, apalagi bagi umat Islam sendiri Rasulullah Muhammad SAW adalah panutan sepanjang hayat, darinya diharapkan syafaat dan pertolongannya di yaumil hisab, Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, wallaahu a’lam bish-shawaab.
Penulis : Jurnalis, Aktivis Dakwah Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakankemenag. Dharmasraya.*)






