Jangan Panik, Bu!

Oleh: Nurul Jannah*)

Catatan PKL Empat Mahasiswa yang Membuat Dosen Pembimbingnya Menua Lebih Cepat

Pukul 16.48.

Hari terakhir PKL.

TING!

Masuk notifikasi WhatsApp grup bimbingan di ponsel bu Gadis.

Nando: Alhamdulillah, kami masih hidup Bu.

Bu Gadis tidak langsung menjawab.

Hampir empat puluh hari membimbing Nando, Neo, Danar, dan Abel membuatnya memahami satu hukum tidak tertulis: semakin menenangkan kalimat pembuka mereka, semakin mencurigakan kelanjutannya.

Ia merespon cepat; ada apa?

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Hilang lagi.

Bu Gadis mulai istighfar. Lalu sebuah foto masuk.

Empat mahasiswa berdiri di depan gerbang perusahaan. Tersenyum lebar.

Di belakang mereka ada mobil perusahaan.

Ban depannya kempis.

NANDO???

Nando: Bukan kami, Bu!

Neo: Benar, bukan kami, Bu.

Abel: Ada saksi.

Danar: Demi gorengan enak, Bu.

Bu Gadis menutup wajah.

Kalau saja empat puluh hari sebelumnya ada yang memberi tahu bahwa PKL akan menguji kompetensi akademik sekaligus kestabilan denyut jantung dosen pembimbing, mungkin Bu Gadis akan lebih siap.

Sayangnya, tidak ada.


TING!

Pukul 05.47 pagi.

Hari ketiga PKL.

Nando: Bu, mohon izin melaporkan. Kami semua sehat.

Bu Gadis yang baru membuka sebelah mata langsung duduk.

Kalimat kami semua sehat pada pukul 05.47 pagi tidak terdengar seperti kabar baik. Lebih mirip pengantar menuju musibah.

Memangnya ada apa?

Tidak ada jawaban.

Dua menit.

Lima menit.

Delapan menit.

Dalam delapan menit itu Bu Gadis sudah membayangkan mereka tersesat di area produksi, terkunci di gudang, tercebur kolam pengendapan, atau tanpa sengaja menekan tombol EMERGENCY.

Akhirnya Neo membalas.

Tidak ada apa-apa sih, Bu.

Bu Gadis mengembuskan napas.

Lalu pesan kedua masuk.

Hanya mau nginfoin, Nando tadi dikejar angsa.

Bu Gadis memejamkan mata.

Baru hari ketiga.

Dan entah mengapa, angsa pun ikut terlibat dalam proses pendidikan.

Sebenarnya keempat mahasiswa itu luar biasa pintar.

Secara akademik sangat oke, excellent.

Secara perilaku, Allah Maha Mengetahui.

Nando adalah ketua kelompok hasil pemilihan demokratis yang beberapa hari kemudian membuat anggota kelompoknya mempertimbangkan kembali manfaat demokrasi.

Ia memiliki bakat langka: terlihat sangat yakin bahkan ketika salah total.

“Percaya gue. Kantin lewat sini.”

Dua puluh menit kemudian mereka berdiri di depan instalasi pengolahan air limbah.

Abel berkacak pinggang.

“Mana kantinnya?”

Nando mengamati bangunan di depannya dengan serius.

“Kayaknya pindah.”

“Yang pindah kantinnya atau kepala lu?”

Neo tertawa kecil.

Neo memang paling pendiam. Lebih suka mengamati.

Namun, sekalinya bicara, biasanya langsung mengenai sasaran. Dan sasarannya hampir selalu teman sendiri.

Baca Juga :  200 Atlet Ramaikan KickBoxing Championship II Padang, Ajang Pemanasan Jelang Porprov

Danar lain lagi. Prinsip hidupnya sederhana: apa pun masalahnya, makan dulu.

Baginya lapar bukan kondisi biologis. Lapar adalah keadaan darurat nasional.

Sementara Abel adalah satu-satunya bimbingan bu Gadis yang masih berusaha menjaga kelompok itu tetap berada di jalur akademik.

Setidaknya sampai hari keempat.

Sesudahnya, Abel mulai mempertanyakan banyak hal.

Termasuk takdirnya sendiri.


Beberapa hari kemudian, laporan dari lapangan masuk melalui whatsApp grup

Bu, observasi proses produksi sudah selesai. Data awal juga sudah dikumpulkan.

Bagus.

Nando menambahkan, namun ada sedikit insiden, Bu.

Bu Gadis mulai curiga pada kata sedikit.

Foto masuk.

Empat mahasiswa memakai helm keselamatan.

Tiga tersenyum.

Danar, celananya basah sampai lutut.

Danar kenapa?

Abel menjawab: Masuk selokan, Bu.

Kenapa bisa masuk selokan?

Neo: sedang mengikuti alur limbah perusahaan bu.

Bu Gadis menatap layar kembali.

Observasi lapangan tidak berarti kalian harus masuk ke dalam saluran limbahnya.

Maaf, kami terlalu fokus, Bu. Danar berusaha menambahkan.

Tapi Abel segera mengoreksi; danar menyusuri saluran sambil diskusi tentang gorengan, Bu.

Dan, hari itu metode observasi lapangan mendapat satu tambahan penting: objek diamati, data dicatat, gorengan boleh didiskusikan, tetapi langkah kaki tetap harus dijaga.


Setelah insiden selokan, keadaan sempat terkendali.

Sampai suatu siang Abel menelepon.

“Bu…”

“Ya Abel…”

“Jangan marah dulu….”

Bu Gadis langsung menepi, mencoba mencari tempat duduk nyaman.

Ia mulai hafal. Ada kalimat-kalimat tertentu yang masuk kategori early warning system.

“Nando hilang, Bu.”

“Lhoh?”

“Bukan hilang permanen.”

Bu Gadis mengernyit.

“Nando tadi pamit mengambil foto. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Tidak kembali.”

“Lalu?”

“Telepon tidak diangkat. Kami semua mencari. Petugas ikut mencari. Setengah jam kemudian Nando ditemukan.”

“Ditemukan di mana?”, bu Gadis mulai tidak sabar.

“Di kantin. Sedang makan soto. Ini Nandonya bu.”

Abel menyerahkan cellphone ke Nando.

“Kenapa kamu tidak memberi tahu teman-temanmu?”

“Saya kira mereka tahu, Bu.”

“Kamu bilang mau mengambil foto!”

“Iya, Bu. Sudah.”

“Terus kenapa ke kantin?”

“Maaf bu, wangi bawang goreng kantin begitu menggoda. Jadilah, saya makan soto.”

Bu Gadis menarik napas panjang.

Rupanya dalam penelitian lapangan ada variabel pengganggu yang belum banyak dibahas dalam literatur: aroma bawang goreng.


Hari-hari berikutnya tidak selalu lucu. Bahkan sore itu mereka bersitegang.

Data belum lengkap. Abel merasa paling banyak mencatat. Nando merasa sudah membagi tugas.

Neo merasa koordinasi mereka kacau.

Baca Juga :  4 Atlet Sumbar Bela Indonesia di Asian Games 2026, KONI Tegaskan Pembinaan Berkelanjutan

“Danar!”

“Apa?”

“Kita lagi serius diskusi!”

“Iya.”

“Kok kamu masih mengunyah?”

“Kalau aku ikut marah, datanya juga nggak tiba-tiba lengkap.” jelas Danar, sembari memandangi gorengannya.

Semua diam.

Menyebalkan memang. Tetapi masuk akal.

“Aku capek! Kita datang ke sini buat PKL, bukan wisata!”, Abel mulai tidak sabar.

Nando pun tersinggung.

“Emang gue nggak kerja?”

“Aku nggak bilang begitu!”

“Terus?”

Neo yang sejak tadi diam, akhirnya bicara.

“Kita semua kerja. Cuma kita belum benar-benar bekerja sebagai tim.”

Hening.


Malam itu Bu Gadis janjian bervideo call ria dengan mereka.

Empat wajah muncul di layar.

Tidak ada yang tersenyum.

Bu Gadis mendengarkan satu per satu.

Lalu bertanya, “Kalian tahu sebenarnya kalian sedang belajar apa?”

“PKL, Bu,” jawab Nando.

“Bukan.”

Mereka diam.

“Kalian sedang belajar bekerja dengan tim.”

“Pintar sendirian tidak cukup. Data bagus juga tidak cukup. Kalian harus belajar mendengar, berbagi tugas, berkomunikasi, bertanggung jawab, dan mengakui kalau salah.”

Abel mengucek mata.

Nando menunduk.

Neo mengangguk.

Danar, pelan-pelan mengambil gorengan.

“Danar.”

Tangannya berhenti di udara.

“Taruh dulu.”

“Iya, Bu.”

**

Pagi berikutnya: TING!

Nando: Bu, kami sudah rapat.

Abel: Pembagian tugas sudah diperbaiki.

Neo: Data yang kurang sudah kami petakan.

Danar: Bu, saya sekarang bagian dokumentasi.

Bu Gadis tersenyum.

Akhirnya, cahaya peradaban mulai terlihat.

Lalu Danar mengirim foto.

Tiga temannya sedang makan bakso.

Bu Gadis menatap layar.

DANAR. Dokumentasi KEGIATAN PKL.

Beberapa detik kemudian: Oh. Cahaya peradaban rupanya padam kembali.


Setelah itu mereka memang berubah.

Pelan-pelan.

Nando masih percaya diri sebagai penunjuk arah, tetapi sekarang Abel membawa peta sebagai tindakan mitigasi risiko.

Neo mulai bicara sebelum keadaan telanjur kacau.

Abel belajar bahwa bertanggung jawab tidak berarti harus mengerjakan semuanya sendiri.

Danar pun mulai memahami bahwa semua ikut bertanggung jawab menyelesaikan laporan.

Beberapa karakter memang tidak membutuhkan pengembangan. Hanya membutuhkan stok sabar.

Laporan PKL mulai berbentuk.

Data semakin rapi. Analisis semakin tajam.

Mereka mulai saling mengecek pekerjaan, berbagi tugas, mengingatkan jadwal, dan berani berdiskusi dengan staf perusahaan.

Tanpa mereka sadari, empat kepala dengan empat kekacauan perlahan mulai bergerak sebagai satu tim yang kuat.


Lalu sampailah pada pukul 16.48 itu.

Hari terakhir.

Bu, kami masih hidup.

Mobil perusahaan.

Ban kempis.

Nando tertuduh.

Neo menjadi saksi.

Abel menyiapkan alibi.

Dan Danar bersumpah, demi gorengan enak.

Bu Gadis mengetik: Jadi ban itu benar-benar bukan kalian?

Empat jawaban masuk hampir bersamaan.

Baca Juga :  JKA Hormati Jasa Senior, Hadirkan Masjid Ali Mukhni dan RS Muslim Kasim

BUKAN, BU!

Bu Gadis mengembuskan napas.

Empat puluh hari PKL resmi selesai. Kesabaran dospem belum tentu pulih.


Beberapa minggu kemudian, laporan selesai. Nilai sudah keluar. Mereka berlima makan bersama di saung pak Raden.

“Bu,” tanya Abel, “selama PKL, Ibu paling takut kalau kami lapor apa?”

Bu Gadis tidak perlu berpikir.

“Nando hilang.”

Meja langsung pecah oleh tawa.

“Kalau yang paling bikin Ibu bangga?” tanya Neo.

Bu Gadis memandang mereka.

Nando yang masih percaya diri meskipun kadang salah arah. Neo yang sekarang lebih berani bicara. Abel yang tidak lagi merasa harus mengerjakan semuanya sendiri. Dan Danar yang mulai mengurangi makan gorengan.

“Ketika kalian bersitegang.”

Empat wajah berubah bingung.

“Kok malah waktu kami bersitegang, Bu?”

“Karena setelah itu kalian belajar menjadi tim.”

Danar mengangkat tangan.

“Berarti masuk selokan ada manfaatnya juga, Bu?”

“DANAAAR.”

Tawa kembali pecah.

Beberapa saat kemudian Danar mengangkat tangan lagi.

“Bu.”

“Apa lagi?”

“Besok kita makan bareng ya?”

“Boleh.”

“Di mana?”

Bu Gadis berpikir sebentar. Lalu menunjuk Nando.

“Terserah Nando. Dia yang jago nunjukin jalan.”

Hening. Satu detik. Dua detik.

Lalu tiga suara meledak bersamaan.

“JANGAN NANDO YANG NUNJUKIN JALAN!”

Nando protes.

“Eh, gue sekarang udah hafal jalan!”

“Ke mana?”

Nando terdiam. Menoleh ke kanan. Ke kiri. Lalu menjawab mantap,

“Ya… pokoknya jalan.”

Meja itu meledak oleh tawa.

Bu Gadis ikut tertawa. Untuk pertama kalinya, diskusi dengan empat mahasiswa itu tidak lagi terdengar seperti alarm bencana.

Mereka memang pernah salah jalan. Dikejar angsa. Masuk selokan. Bersitegang hingga hilang gara-gara aroma bawang goreng.

Tetapi akhirnya mereka menemukan arah yang jauh lebih penting yaitu arah untuk tumbuh bersama.

Barangkali memang begitulah pendidikan bekerja.

Tidak semua pelajaran terbaik lahir di ruang kelas. Ada yang lahir dari salah jalan, selokan, semangkuk soto, sebungkus gorengan, perdebatan sengit, tawa; dan teman-teman yang memilih tetap berjalan bersama.

Sebab tugas seorang dosen pembimbing lapangan bukan memastikan mahasiswanya tidak pernah tersesat.

Kadang, cukup menemani mereka sampai tahu bagaimana menemukan jalan pulang. ❤️

Bogor, 22 September 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *