JODOH

Oleh: Nurul Jannah*)

Jika memang jodoh, sejauh apa pun jalannya, Allah tahu cara mempertemukannya.

Pagi itu ponselku berbunyi. Satu notifikasi WhatsApp masuk.

Bayu Pramana.

Nama yang sudah delapan tahun tenggelam dalam ingatan. Mantan mahasiswa bimbinganku.

Kubuka pesannya.

Undangan pernikahan.

Aku tersenyum.
Alhamdulillah, akhirnya.

Lalu mataku turun pada nama di sebelahnya.

Ratih Kumalasari.

Aku mendadak diam.

Kubaca lagi.

Kudekatkan layar ke wajah, seolah beberapa sentimeter bisa mengubah nama yang tertera di sana.

Ratih? Benarkah Ratih, si bintang itu?

Deg.

Dua-duanya mahasiswa bimbinganku.

“Lho… sejak kapan?”

Tiba-tiba berjubel tanya muncul di benak.

Kubaca sekali lagi.

Tidak berubah.

Bayu & Ratih.

Aku tertawa sendiri.

Ya Allah. Rupanya masih ada satu “bimbingan” delapan tahun lalu yang belum selesai. Hanya dosen pembimbingnya yang tidak diberi tahu.


Delapan tahun sebelumnya.

Bayu duduk di ruanganku membawa draf tugas akhir penuh coretan.

“Bu, masih banyak revisinya?”

“Tidak banyak.”

Wajahnya langsung cerah.

“Cuma hampir semuanya.”

“Ah, Ibuuu…”

Aku tertawa. Bayu pasrah.

Sore berganti giliran. Ratih datang.

Sendirian.

Membawa draf tugas akhirnya.

Topik berbeda. Cerita berbeda. Urusan berbeda.

Aku mengenal keduanya.

Tetapi tak pernah mengenal mereka sebagai “Bayu dan Ratih”.

Lalu mereka lulus.

Meninggalkan kampus.

Masing-masing berjalan membawa kehidupannya sendiri.

Sampai delapan tahun kemudian, dua nama yang dahulu berada di halaman berbeda, tiba-tiba dipertemukan dalam satu undangan.


Aku kembali ke pagi itu.

Menatap layar.

Ketemunya lagi bagaimana?

Baca Juga :  Trail Run Momentum Promosi Jalur Pendakian Gunung Kerinci dan Pariwisata Solok Selatan

Sejak kapan?

Jangan-jangan dulu sudah ada apa-apa, hanya dosennya saja yang tidak peka?

Aku terkekeh sendiri.

Dosen ternyata bisa kepo juga. Lalu pikiranku melompat lebih jauh.

Delapan tahun.

Entah apa saja yang telah mereka lalui.

Mungkin pernah jatuh cinta.

Pernah patah.

Pernah menunggu.

Mungkin pernah menyebut nama lain dalam doa dan mengira nama itulah yang akan tinggal selamanya.

Aku tidak tahu.

Dan aku tidak perlu tahu.

Sebab pagi itu Allah hanya memperlihatkan satu bagian. Dua jalan yang lama berjalan sendiri-sendiri, akhirnya bertemu.

Begitulah jodoh.

Bukan selalu orang yang paling lama ditunggu.

Bukan pula nama yang paling sering disebut dalam doa.

Bisa jadi ia pernah berada begitu dekat, tetapi Allah belum membuat dua hati saling melihat; karena waktunya memang belum tiba.


Sebagai dosen, aku terbiasa dengan metode.

Data harus jelas. Analisis harus kuat. Kesimpulan harus memiliki benang merah.

Tetapi jodoh?

Aku tersenyum.

Bayangkan kalau urusan jodoh pun harus melalui bimbingan.

Ada proposal calon pasangan.

Lalu seminar hasil pendekatan.

Dilanjutkan uji kelayakan calon menantu.

Kemudian sebagai penguji tetiba aku harus berkata,

“Bayu, Ratih, maaf. Hubungan kalian masih revisi mayor.”

Aku terkekeh lagi.

Untung urusan jodoh tidak diserahkan kepada dosen pembimbing.


Aku kembali menatap undangan itu.

Bayu & Ratih.

Ingin rasanya kukirim pesan:

“Selamat, ya. Dulu revisi tugas akhir kalian menjadi urusan Ibu. Sekarang revisi kehidupan silakan diselesaikan berdua.”

Baca Juga :  Aspon Dedi Kembali Pimpin PWI Payakumbuh-Limapuluh Kota, Wako Zulmaeta Tekankan Sinergi Pers Kawal Pembangunan

Jariku hampir mengetiknya.

Lalu kuhapus.

Hm. Delapan tahun berlalu, jangan sampai mereka masih trauma mendengar kata revisi.

Diam-diam kuselipkan doa terbaik.

Semoga kalian bukan hanya dipertemukan, tetapi juga dimampukan untuk saling menjaga.

Sebab menikah bukan akhir sebuah kisah cinta.

Justru di sanalah cinta memulai pelajaran terpanjangnya, yaitu bertahan.

Ketika bunga mulai layu.

Ketika kekurangan mulai terlihat.

Ketika dua kepala ternyata sama-sama keras.

Ketika orang yang kita cintai sedang tidak mudah untuk dicintai.

Sebab cinta yang dewasa bukan sekadar jantung yang berdebar saat bertemu.

Cinta yang dewasa adalah dua hati yang tetap memilih pulang, bahkan ketika hidup tak lagi selalu romantis.


Ponsel kutaruh di atas meja.

Namun nama Bayu dan Ratih masih tinggal di kepalaku.

Aneh sekaligus indah sekali ternyata hidup ini.

Begitulah jodoh.

Menggemaskan. Misterius. Kadang membuat kita tergelak, kadang membuat dada bergetar tanpa tahu mengapa.

Kita sibuk memilih nama.

Allah menyiapkan pertemuannya.

Kita sibuk menentukan kapan.

Allah menyimpan waktunya.

Kita berkata, “Harus dia.”

Allah lebih tahu siapa yang seharusnya tinggal.


Kubuka undangan itu sekali lagi.

Bayu.

Ratih.

Aku tersenyum.

Delapan tahun lalu, mereka datang kepadaku membawa naskah masing-masing. Hari ini, dua nama itu kembali, dalam satu cerita.

Siapa sangka?

Mungkin selama delapan tahun itu mereka berjalan sendiri-sendiri. Melewati jarak, waktu, pertemuan, kehilangan, bahkan mungkin cinta dan luka yang tidak pernah saling mereka ketahui.

Baca Juga :  Klub Petanque Padang Berhasil Gondol Juara Pertama Kejuaraan Walikota Cup

Sampai akhirnya dua jalan itu tiba pada satu titik.

Rupanya, begitulah jodoh bekerja.

Ia tidak selalu membuat dua orang saling jatuh cinta pada pertemuan pertama. Kadang Allah membiarkan dua hati berkelana lebih dahulu; agar keduanya bertumbuh, belajar, bahkan mungkin patah; sebelum akhirnya mengerti kepada siapa hati itu ingin pulang.

Dan pagi itu, setelah delapan tahun, satu undangan menjawab semuanya.

Bayu & Ratih.

Dua nama.

Satu cerita.

Mereka bukan terlambat saling menemukan. Barangkali Allah hanya sedang menjaga waktunya; hingga keduanya benar-benar siap untuk dipertemukan.

Aku menatap layar beberapa detik lebih lama.

Entah mengapa mata terasa hangat.

Sebab mungkin itulah bagian paling romantis dari jodoh: kita tidak pernah tahu siapa yang sedang Allah tuntun menuju kita, sampai suatu hari semua jalan yang berliku berhenti pada satu nama.

Dan ketika waktunya tiba, kita tak perlu lagi bertanya,

“Mengapa baru sekarang?”

Karena hati akhirnya mengerti; bukan terlambat.

Hanya Allah sedang menunggu waktu terindah untuk berbisik, “Sekarang, pulanglah kalian satu kepada yang lain.”❤️

Jakarta, 27 September 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *