Oleh : Teddy Chaniago*)
Sapantun kudo palajang bukik
Sabik di awak rumpuik di urang
Baitu bana bacinto rumik
Dari muko lapeh ka bulakang
Yo bedo sabana bedo
Akhianyo malapeh hao
Yo rumik sabana rumik
Rumik bana den manyabuik
Lagu Ramon Absen berjudul Kudo Palajang Bukik, terdengar dari sebuah radio rusak di siang itu.
Belaian angin dan kicauan suara burung, melengkapi kantuk yang terus bergelayut di mata Malanca.
Meski tak sempat melayang ke alam mimpi, namun kepala Malanca sempat oleng ke kiri dan juga ke kanan, serupa benar dengan ayunan buliran padi yang terpapar angin siang.
”Hmm, benar-benar makan hati kalau jadi kuda pelajang bukit. Tapi yang kurang benak itu sesungguhnya adalah mereka yang berladang di punggung orang,” Sutan Bandaro yang berada di sisi Malanca memberikan pendapatnya.
Siang itu, lepau Tek Upik masih lengang, baru kedatangan Malanca dan Sutan Bandaro saja. Namun apa yang menjadi buah pikiran Malanca adalah sebuah hal yang lazim saja terjadi.
”Begitulah pakobeh di negeri kita. Kalau untuk bekerja tajak berlebih, giliran makan piring tak cukup,” tambah Sutan Bandaro pula.
”Benar Sutan, delapan dari sepuluh orang yang saya kenal, perangainya seperti itu. Rasa-rasa rumit kita bergaul dengan mereka yang hanya main menang,” ucap Malanca.
”Yang minum di lepau ini juga banyak yang demikian. Giliran berhutang di kedai aden, tapi ketika membawa benggo, minum di tempat lain,” Tek Upik melepaskan uweh-uwehnya.
”Ya, apa yang mau dikata. Begitulah kenyataan yang ada. Bak belut saja perangainya,” imbuh Tek Upik pula.
Sutan Bandaro, Malanca pun Tek Upik memang menyadari, orang kebanyakan kepala saja yang hitam, isinya berbeda-beda.
Kalapia yang selama ini banyak menunjuk ajari paja kapatang, justru dikucilkan dan dijauhi oleh mereka yang sudah makan tangan Kalapia.
”Memang rumit sebenar rumit kalau perangainya ingin berladang di punggung orang. Jadilah mereka yang punya kemampuan kudo palajang bukik,” kata Sutan Bandaro pula. []
Penulis yang malang melintang di dunia jurnalistik tanah air, pernah mengabdi di Tempo, Jawa Post dan Monitor Depok, menulis biografi sejumlah tokoh dan penulis serial Sutan Batawi*)
