“Selamat Jalan, Ramadan”

Oleh : Nurul Jannah*)

Selamat jalan, Ramadan,

Kau hadir seperti rahmat yang jatuh diam-diam ke dalam dada,
menyentuh hati yang kering,
menghidupkan jiwa yang nyaris mati tanpa suara.

Namun kini,
kau pergi seperti angin yang tak bisa lagi digenggam,
pelan dan pasti,
meninggalkan aku,
dalam sunyi yang terasa lebih panjang dari sebelumnya.

Ramadan,
Di setiap malammu,
langit terasa begitu dekat,
seakan doa tidak lagi perlu menembus jarak,
karena Allah berdiri tepat di ambang hati,
menunggu aku pulang.

Namun hari ini,
aku berdiri di tepi perpisahan,
dengan langkah berat dan dada sesak,
dengan tangan gemetar,
dengan hati berdegup,
dengan satu tanya yang tak kunjung ada jawab.

Apakah aku masih akan dipertemukan lagi denganmu?

Berapa banyak malam telah aku sia-siakan,
saat pintu langit terbuka lebar, aku justru tertidur
dalam kelelahan panjang.

Berapa banyak ayat aku lewati,
padahal ia memanggil-manggil namaku,
namun aku abaikan,
seolah hidup ini masih panjang, tanpa batas.

Ramadan,
Kau pergi begitu saja, tanpa menoleh lagi,
tanpa memastikan kesiapan hati ini,
tanpa janji untuk bertemu kembali.

Di situlah sesal terasa, karena belum sepenuhnya mampu menjadi hamba sahaya, saat bersamamu.

Selamat jalan, Ramadan,
kau bukan semata bulan yang singgah,
kau adalah cermin jujur,
saat tak ada lagi hijab dengan Allah.

Ramadan,
kau ajarkan aku lapar,
agar aku sadar betapa seringnya aku rakus.

Kau ajarkan aku haus,
agar aku mengerti betapa seringnya aku lalai.

Kau ajarkan aku diam,
agar aku mendengar,
betapa bisingnya dosa di dalam dada ini.

Jika tahun depan aku masih diberi umur,
izinkan aku menyambutmu
bukan lagi sebagai tamu yang singgah,
tetapi sebagai rumah
yang tak ingin lagi aku tinggalkan.

Namun jika ini pertemuan terakhir, maka saksikanlah, wahai Ramadan,
bahwa di dalam diam ini,
pernah ada hati yang berusaha kembali,
meski tertatih, meski terlambat.

Jangan tinggalkan aku sepenuhnya,
tinggalkan sedikit cahaya di dalam dada ini,
agar diri ini tetap benderang,
setelah kau pergi.

Karena kehilanganmu
bukan semata tentang waktu yang berlalu,
tetapi tentang iman yang diuji, apakah diri ini masih mampu menyala, tanpa engkau di sini?.

Bogor, 19 Maret 2026❤️

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *