Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Ekasakti Sukses Hadirkan Dr. Sara Gabai Ahli Komunikasi Strategik Asia-Pasifik

Fisipol Universitas Ekasakti sukses menggelar Virtual Guest Lecture bertema “Rethinking Sustainability Communication: Rethinking Psychological Distance in Sustainability Challenges through Participatory Media.” (foto; ist)
PADANG, FOKUSSUMBAR.COM - Program Studi Ilmu Komunikasi FISIPOL Universitas Ekasakti kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas wawasan akademik dan memperkuat jejaring internasional melalui penyelenggaraan Virtual Guest Lecture bertema “Rethinking Sustainability Communication: Rethinking Psychological Distance in Sustainability Challenges through Participatory Media.” 

Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 29 Mei 2026 pukul 10.00–11.45 WIB melalui Zoom Meeting ini menghadirkan narasumber internasional, Dr. Sara Gabai, seorang ahli Komunikasi Stratejik Asia-Pasifik yang berbasis di Bangkok, Thailand. 

Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Ekasakti, Prof. Dr. Sufyarma Marsidin, M.Pd., yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya penguatan perspektif global dalam pengembangan ilmu komunikasi di era transformasi digital dan tantangan keberlanjutan global. 

Kegiatan ini dimoderatori oleh Dr. Sumartono, dosen senior Ilmu Komunikasi Universitas Ekasakti, yang memandu jalannya diskusi secara komunikatif, dinamis, dan interaktif.

Kuliah tamu virtual ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa, dosen, dan peserta umum untuk memahami bagaimana komunikasi memiliki peran strategis dalam menghadapi berbagai persoalan keberlanjutan. 

Dalam pemaparannya, Dr. Sara Gabai menjelaskan bahwa tantangan lingkungan dan keberlanjutan sering kali dianggap jauh dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Fenomena ini dikenal sebagai psychological distance, yaitu kondisi ketika individu merasa bahwa isu-isu lingkungan tidak memiliki dampak langsung terhadap diri mereka.

Akibatnya, tingkat kepedulian dan partisipasi publik terhadap isu keberlanjutan menjadi rendah. Menurut Dr. Sara Gabai, tantangan terbesar komunikasi keberlanjutan saat ini bukan hanya bagaimana menyampaikan informasi, tetapi bagaimana membuat masyarakat merasa terhubung secara emosional dengan isu yang disampaikan. 

Selama ini, berbagai kampanye lingkungan sering gagal menciptakan perubahan perilaku karena pesan yang disampaikan terasa abstrak, terlalu global, dan tidak menyentuh realitas kehidupan masyarakat secara langsung. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan komunikasi yang lebih partisipatif dan berbasis pengalaman publik.

Melalui pendekatan participatory media, Dr. Sara Gabai menawarkan perspektif baru bahwa komunikasi keberlanjutan tidak lagi dapat dilakukan secara satu arah. Media partisipatif memungkinkan masyarakat untuk terlibat secara aktif melalui interaksi digital, berbagi pengalaman, hingga kolaborasi komunitas. 

Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam membangun kedekatan emosional masyarakat terhadap isu lingkungan sehingga pesan keberlanjutan menjadi lebih relevan, nyata, dan mendorong perubahan perilaku sosial. 

Dalam diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif, peserta juga diajak memahami bagaimana perkembangan media digital telah mengubah pola komunikasi masyarakat global. 

Kehadiran media sosial, platform digital, dan komunitas virtual memberikan peluang besar dalam membangun kesadaran kolektif terhadap isu lingkungan. Generasi muda, khususnya mahasiswa, dinilai memiliki peran penting sebagai agen perubahan yang mampu memanfaatkan media digital untuk menciptakan kampanye keberlanjutan yang kreatif, edukatif, dan berdampak luas.

Moderator kegiatan, Dr. Sumartono, menegaskan bahwa komunikasi saat ini tidak lagi hanya dipahami sebagai proses penyampaian pesan, tetapi juga sebagai instrumen transformasi sosial. 

Menurutnya, mahasiswa Ilmu Komunikasi harus mampu menjadi komunikator yang tidak hanya cakap secara teoritis, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial terhadap berbagai persoalan global seperti perubahan iklim, krisis lingkungan, dan ketimpangan sosial. 

Ia juga menambahkan bahwa komunikasi yang efektif harus mampu membangun empati publik dan mendorong partisipasi masyarakat secara aktif.

Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pemahaman akademik peserta, tetapi juga memberikan dorongan solutif bagi pengembangan strategi komunikasi yang lebih inklusif dan adaptif di masa depan. 

Di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim, krisis lingkungan, dan transformasi media digital, dunia pendidikan dituntut untuk menghasilkan generasi komunikator yang mampu menciptakan pesan-pesan persuasif berbasis partisipasi publik. 

Oleh karena itu, penyelenggaraan kuliah tamu internasional seperti ini menjadi langkah strategis dalam membangun kapasitas akademik sekaligus memperkuat daya saing mahasiswa di tingkat global.

Selain menjadi ruang pertukaran gagasan akademik, kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi internasional dalam pengembangan ilmu komunikasi. Kehadiran narasumber dari Thailand memberikan perspektif lintas budaya yang memperkaya wawasan peserta mengenai bagaimana isu keberlanjutan dikomunikasikan di berbagai negara Asia-Pasifik. 

Hal ini sekaligus membuktikan bahwa tantangan keberlanjutan merupakan isu global yang membutuhkan kerja sama lintas disiplin dan lintas negara.

Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya sesi tanya jawab yang membahas berbagai isu komunikasi lingkungan, strategi kampanye digital, hingga tantangan membangun partisipasi publik di era media sosial. 

Banyak peserta mengaku memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya pendekatan komunikasi yang humanis, partisipatif, dan berbasis pengalaman masyarakat.

Secara keseluruhan, kegiatan Virtual Guest Lecture ini berlangsung interaktif, inspiratif, dan memberikan wawasan baru mengenai pentingnya komunikasi keberlanjutan yang berorientasi pada keterlibatan masyarakat. 

Program Studi Ilmu Komunikasi FISIPOL Universitas Ekasakti melalui kegiatan ini berhasil menunjukkan perannya sebagai institusi akademik yang responsif terhadap isu-isu global serta konsisten mendorong terciptanya inovasi komunikasi yang berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungan. 

Ke depan, kegiatan akademik internasional seperti ini diharapkan dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas pendidikan, memperluas jejaring global, dan mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan komunikasi di masa depan. (*/sum)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *