REUNI

Oleh : Nurul Jannah*)

Reuni bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa waktu berlari jauh lebih cepat daripada yang pernah kita bayangkan.

Di hadapan sang waktu, kita belajar bahwa yang paling layak dibanggakan bukanlah siapa yang paling tinggi jabatannya atau paling banyak hartanya, melainkan siapa yang tetap rendah hati, menjaga persahabatan, dan meninggalkan jejak kebaikan dalam kehidupan orang lain. Sebab kenangan hanya menjadi indah apabila mengajarkan kita menghargai hari ini dan mempersiapkan diri menyambut hari esok.

Sabtu pagi itu, telepon genggamku berkali-kali berbunyi. Satu demi satu foto mulai memenuhi layar. Ada tawa yang terasa begitu akrab. Ada wajah-wajah yang pernah mengisi salah satu bab terindah dalam hidupku.

Ada senyum yang seketika membawaku pulang ke masa ketika seragam putih abu-abu masih menjadi pakaian sehari-hari, ketika cita-cita terasa begitu dekat, dan ketika persahabatan tumbuh tanpa syarat, tanpa pamrih.

Hari itu, halaman SMA Negeri 2 Surakarta di Margoyudan kembali dipenuhi kebahagiaan. Bukan oleh para siswa yang baru memulai perjalanan hidup. Melainkan oleh kami, Fisika Dua SMADA Surakarta 1987, yang dipertemukan kembali setelah tiga puluh sembilan tahun.

Tiga puluh sembilan tahun. Hampir empat dasawarsa.

Waktu telah mengubah banyak hal. Usia bertambah, wajah berubah, rambut yang dahulu hitam perlahan dihiasi uban. Namun ada satu hal yang tidak berhasil disentuh oleh waktu: persahabatan yang tumbuh di ruang kelas yang sama.

Kami memulai perjalanan dari bangku yang sama. Namun kehidupan mengantar kami menuju jalan takdir yang berbeda-beda.

Ada yang menjadi dokter. Ada yang menjadi jenderal. Ada yang menjadi pendidik. Ada yang menjadi pengusaha. Ada yang mengabdi sebagai aparatur negara. Ada pula yang telah menikmati masa pensiun.

Allah menuliskan kisah kami dengan alur yang berbeda, tetapi berasal dari halaman pertama yang sama.


Sejak pagi, foto demi foto terus berdatangan. Kulihat kembali gerbang sekolah yang dahulu kulewati hampir setiap pagi. Koridor yang pernah menjadi saksi langkah-langkah kecil kami menuju masa depan. Pepohonan yang masih berdiri teduh, seolah tetap setia menjaga ribuan kenangan yang pernah tumbuh di bawah rindangnya.

Baca juga:  Semarak HUT ke-33 Lubuk Basung, Event Trabas Extreme Gunung Silayang Tantang Adrenalin Rider

Lalu satu demi satu wajah yang begitu akrab memenuhi layar gawai. Ratmi. Yulius. Suluh. Wing. Dewi. Atik bersama suaminya, Giardia. Zulkarnaen. Suko. Bekti. Nurani. Maemun. Indarwati. Kusno. Agus Taufik. Hariyadi.

Aku memandangi foto-foto itu dengan bahagia. Ada senyum yang tetap sama seperti tiga puluh sembilan tahun lalu. Ada sorot mata yang kini jauh lebih teduh setelah melewati begitu banyak musim kehidupan. Ada keriput yang diam-diam bercerita tentang perjuangan, pengorbanan, dan kesabaran yang tak pernah terlihat ketika kami masih duduk di bangku SMA.

Namun ada satu hal yang tidak berubah. Tatapan mata yang saling mengenali. Tatapan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang pernah bertumbuh bersama.

Sejujurnya, hatiku pun ingin berada di sana. Ingin sekali lagi melangkah melewati gerbang sekolah itu. Ingin duduk di ruang kelas yang dahulu menjadi tempat kami menulis mimpi-mimpi masa depan. Ingin mendengar sapaan yang begitu akrab, “Nurul… Alhamdulillah, akhirnya datang juga.”

Ingin tertawa tanpa memikirkan waktu. Ingin kembali menjadi anak SMA, walau hanya beberapa jam.

Namun pada hari yang sama, Allah menugaskanku berada di belahan bumi yang lain. Aku sedang menjalankan amanah audit lingkungan di Padang, Sumatera Barat.

Ada tanggung jawab yang harus kutunaikan. Ada amanah yang tidak mungkin kutinggalkan. “Maafkan aku, sahabat-sahabatku… kali ini aku belum bisa pulang.”

Namun Allah selalu mempunyai cara yang indah. Walaupun ragaku berada di Padang, ternyata sebagian diriku tetap hadir di Surakarta. Bukan melalui langkah. Melainkan melalui sebuah buku. Pelabuhan Cinta.

Ketika kulihat buku itu berada di tengah sahabat-sahabatku, dadaku mendadak terasa hangat. “Nurul memang tidak hadir. Tetapi rindunya telah lebih dahulu sampai.”

Tanpa kusadari, mataku mulai berkaca-kaca. Saat itulah aku memahami, karya mampu melangkah lebih jauh daripada pemiliknya. Ia mengetuk pintu yang tak sempat kita datangi, menyampaikan rindu yang tak sempat kita ucapkan, dan menyapa sahabat-sahabat yang belum sempat kita jumpai.

Baca juga:  Tikus Berdasi dan Kroco Mumet

Aku hanya bisa membayangkan suasana di sana. Pasti penuh cerita. Penuh tawa. Penuh kenangan.

Barangkali terdengar suara,

“Masih ingat guru Fisika kita?”

Lalu yang lain menyambung,

“Masih ingat waktu praktikum Kimia yang membuat satu kelas panik?”

Yang lain kembali tertawa,

“Masih ingat siapa yang paling sering dipanggil ke depan kelas oleh guru Matematika kita?”

Dan ruangan pun dipenuhi gelak tawa.Seolah tiga puluh sembilan tahun hanyalah jeda yang sedikit lebih panjang.

Namun di balik bahagia itu, aku yakin setiap hati diam-diam mengucapkan syukur, “Alhamdulillah… Allah masih mempertemukan kita.”

Sebab setelah tiga puluh sembilan tahun. Tidak semua nama masih dapat dipanggil. Tidak semua kursi masih terisi. Tidak semua senyum masih dapat dibalas. Karena itulah, setiap perjumpaan menjadi sangat mahal.


Melihat foto-foto yang terus memenuhi layar gawai, aku merasa kembali muda. Dulu kami berbicara tentang nilai rapor. Hari ini kami berbicara tentang anak-anak. Tentang cucu. Tentang kesehatan. Tentang sahabat yang telah lebih dahulu dipanggil pulang.

Dulu kami berlomba menjadi yang terbaik. Kini kami memahami bahwa menjadi manusia yang membawa manfaat jauh lebih penting daripada menjadi manusia yang paling berhasil.

Dan semakin bertambah usia.Yang paling dirindukan ternyata bukan masa mudanya. Melainkan orang-orang yang pernah mengisi masa muda itu.

Untuk sahabat-sahabat tercinta. Fisika Dua SMADA Surakarta 1987. Selamat bereuni. Selamat menikmati setiap sapaan hangat. Selamat mengulang tawa yang dahulu memenuhi ruang kelas kita.

Maafkan, kali ini aku belum dapat hadir. Namun percayalah. Doaku duduk di antara kalian. Dan buku Pelabuhan Cinta telah menjadi utusan kecil yang membawa rinduku kembali ke Margoyudan.

Semoga Allah masih mengizinkan kita bertemu lagi. Dengan tubuh yang lebih sehat. Hati yang lebih lapang. Dan rasa syukur yang semakin dalam. Karena akhirnya kita memahami. Reuni bukan lagi tentang siapa yang paling pintar. Bukan pula tentang siapa yang paling berhasil. Reuni adalah cara Allah mempertemukan kembali anak-anak yang dahulu membawa mimpi, lalu melepaskan mereka menjalani takdir masing-masing.

Baca juga:  Antusiasme Mahasiswa Warnai Diskusi Perdana "Sore Bacarito" Universitas Ekasakti

Dan ketika kelak satu demi satu nama hanya tinggal kenangan. Semoga yang tetap hidup bukan hanya foto-foto lama. Melainkan doa-doa yang terus mengalir dari hati yang pernah duduk di bangku yang sama, tertawa di kelas yang sama, dan saling menguatkan mengejar masa depan.

Lalu, bayangkan, setelah tiga puluh sembilan tahun berlalu. Masih ada yang memanggil nama kita dengan senyum yang sama, “Nurul… kamu masih ingat aku, kan?”

Pada detik itu, seluruh jarak luruh. Seluruh kesibukan kehilangan makna. Seluruh pencapaian mendadak terasa kecil. Yang tersisa hanyalah rasa syukur karena Allah masih mengizinkan kami saling mengenali.

Dan barangkali. Itulah persahabatan yang sesungguhnya. Bukan yang selalu hadir setiap hari. Melainkan yang tetap hidup, meski dipisahkan puluhan tahun, kota yang berbeda, dan jalan hidup yang tak lagi sama.

Maka apabila suatu hari nanti nama kita tak lagi dipanggil dalam daftar hadir dunia, semoga masih ada sahabat yang mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa sepenuh hati, “Ya Allah… terima kasih karena dahulu Engkau pernah mempertemukan kami. Ampunilah sahabatku. Lapangkan kuburnya. Pertemukan kami kembali di surga-Mu.”

Sebab pada akhirnya, reuni yang paling indah bukanlah ketika kita kembali bertemu di sekolah yang sama. Melainkan ketika, atas rahmat Allah, kita dipertemukan kembali di tempat yang tidak lagi mengenal perpisahan.

Jakarta, 13 Juli 2026

Dosen IPB University, penulis dan penggiat literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *