Oleh : Nurul Jannah*)
“Bumi tidak marah hari ini. Ia hanya sedang terlalu lama menahan.”
Pagi itu, hujan turun di kota Bogor sejak subuh. Awalnya hanya gerimis. Lalu perlahan berubah deras.
Air mulai memenuhi jalanan. Selokan penuh. Sungai kecil di dekat permukiman pun mulai meluap.
Dan seperti biasa, orang-orang mulai menyalahkan hujan. Padahal hujan datang hanya menjalankan tugasnya.
Yang membuat air tidak lagi punya jalan lapang adalah keberadaan sampah yang selama ini kita biarkan.
Saya berdiri cukup lama di pinggir selokan pagi itu.
Air berwarna cokelat kehitam-hitaman bergerak pelan.Tersendat. Lalu terhenti. Bukan oleh batu besar, apalagi pohon tumbang yang menjadi cerita sehari-hari di Bogor. Tetapi terhentinya air bergerak, dikarenakan banyaknya sampah plastik yang teronggok.
Bekas kantong belanja.
Gelas minuman. Pembungkus makanan. Botol air mineral. Sedotan sekali pakai.
Semua menumpuk di mulut saluran air seperti luka yang tidak pernah selesai.
Dan yang paling menyedihkan, pemandangan seperti itu kini terasa biasa.
Sampai-sampai kita tidak lagi merasa bersalah melihatnya.
Padahal dulu sungai tidak seperti ini. Dulu airnya jernih. Anak-anak bermain tanpa takut. Ikan masih terlihat berenang. Dan siapapun yang melintas di sana tidak perlu menutup hidung.
Hari ini banyak sungai berubah menjadi tempat pembuangan. Karena tanpa sadar kita sendiri yang menyebabkan itu semua terjadi, “Ah… cuma satu plastik.”
Padahal, semua memang selalu dimulai dari kalimat kecil itu.
Cuma satu kantong plastik. Cuma satu sedotan. Cuma satu bungkus makanan. Cuma satu botol minuman.
Namun ketika jutaan orang berpikir sama setiap hari, bumi akhirnya kehabisan napas.
Yang membuat hati ini terasa sesak adalah kenyataan bahwa plastik yang kita pakai hanya beberapa menit ini, bisa tinggal di bumi ratusan tahun.
Kita membuangnya dengan sangat mudah. Namun bumi harus menanggungnya sangat lama.
Sebagian tersangkut di sungai. Sebagian hanyut ke laut. Sebagian tertanam di tanah. Dan sebagian lagi, hancur menjadi partikel kecil yang masuk ke air, ikan, bahkan tubuh manusia sendiri.
Ironis sekali.
Manusia menciptakan plastik untuk mempermudah hidup, lalu perlahan hidup manusia sendiri mulai dikepung olehnya.
Suatu sore saya pernah melihat seorang anak kecil berdiri di pinggir sungai. Ia memegang ranting kecil sambil mengaduk air yang penuh sampah.
Matanya polos.
Lalu ia bertanya kepada ibunya:
“Bu… ikannya sudah tidak ada ya?”
Ibunya diam beberapa detik.
“Dulu ada…” jawabnya pelan.
Kalimat singkat itu terasa menghantam dada.
Karena anak-anak hari ini mulai tumbuh di lingkungan yang perlahan kehilangan bentuk aslinya.
Mereka mengenal sungai sebagai tempat sampah.
Mengenal udara panas sebagai hal biasa. Mengenal banjir sebagai rutinitas tahunan.
Dan tanpa sadar, kitalah yang sedang mewariskan semua itu kepada mereka.
Kadang kita berpikir menjaga lingkungan harus dimulai dari langkah besar.
Harus menunggu kebijakan. Harus menunggu pemerintah. Harus menunggu orang lain bergerak dulu.
Padahal perubahan sering dimulai dari keputusan sederhana seperti menolak sedotan plastik, membawa tumbler sendiri, menggunakan tas belanja kain, atau berhenti membuang sampah sembarangan.
Kelihatannya kecil.
Namun bumi memang diselamatkan oleh kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Yang membuat keadaan semakin menyedihkan, kita
sebenarnya tahu dampaknya.
Tahu bahwa plastik merusak laut. Tahu bahwa sampah menyumbat sungai. Tahu bahwa banjir semakin parah.
Namun masih banyak yang tetap membuang sembarangan, karena merasa “Bukan saya saja.”
Padahal kerusakan besar memang sering lahir dari ketidakpedulian kecil yang dilakukan berjamaah.
Hari ini bumi memang belum benar-benar hancur. Namun tanda-tandanya sudah mulai banyak terlihat, yaitu cuaca semakin panas, sungai semakin hitam, laut penuh sampah, dan banjir datang lebih sering dari sebelumnya.
Bumi tidak sedang membalas dendam. Ia hanya terlalu lama menahan.
Langkah Kecil yang bisa kita lakukan adalah
- Membawa tumbler sendiri
- Mengurangi plastik sekali pakai
- Memilah sampah rumah tangga
- Menggunakan tas belanja kain
- Tidak membuang sampah ke sungai
- Mengajari anak mencintai lingkungan sejak kecil
- Mengurangi budaya konsumtif yang menghasilkan banyak sampah
Kadang kita berpikir, bumi akan baik-baik saja meski satu orang tidak peduli.
Padahal kerusakan tidak datang sekaligus. Ia tumbuh perlahan, dari kebiasaan kecil yang terus dibiarkan setiap hari.
Dan bisa jadi, sedotan terakhir yang kita buang hari ini, sedang menunggu menjadi banjir di masa depan.
Bogor, 14 Mei 2026💕
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




