Sumatera Utara Kaya Sejarah, Tetapi Miskin Keseriusan Mengelolanya

Penulis bersama karib kerabat di Istana Maimun, ikon pariwisata Sumateta Utara. (foto; ist)

Oleh : YURNALDI*)

Sumatera Utara sesungguhnya bukan daerah yang miskin destinasi wisata.
Yang miskin adalah keseriusan menjadikan sejarah dan budaya sebagai kekuatan besar pariwisata.

Daerah ini memiliki hampir semua syarat untuk menjadi pusat wisata budaya kelas dunia. Ada Danau Toba yang mendunia. Ada peradaban Batak dengan filosofi dan adat yang kuat. Ada jejak Kesultanan Melayu Deli di Kota Medan. Ada peninggalan kolonial, gereja tua, rumah adat, musik tradisional, ulos, gondang, tarian, sastra lisan, hingga jejak perdagangan internasional masa lampau.
Tetapi kekayaan itu seperti berjalan sendiri-sendiri tanpa arah besar.

Kita sering bangga mengatakan Sumatera Utara adalah provinsi multikultural. Namun dalam praktiknya, sejarah dan budaya masih diperlakukan sekadar pelengkap seremoni, bukan sebagai investasi peradaban dan ekonomi masa depan.

Istana Maimun sebagai salah satu ikon wisata sejarah Melayu kelas dunia. (foto; ist)

Lihatlah bagaimana banyak situs sejarah dibiarkan menua.

Istana Maimun yang seharusnya menjadi ikon wisata sejarah Melayu kelas dunia, justru sering dikritik karena kawasan sekitarnya semrawut dan kurang tertata. Pengunjung datang, berfoto, lalu pulang tanpa mendapat pengalaman sejarah yang kuat.

Taman Sri Deli pernah menjadi ruang sosial penting Kesultanan Deli, tetapi gaung sejarahnya nyaris tenggelam. Banyak generasi muda bahkan tidak memahami hubungan historis antara taman itu, Istana Maimun, dan Masjid Raya Al Mashun sebagai satu kesatuan peradaban Melayu Deli.

Di kawasan Danau Toba, persoalannya berbeda lagi.

Pemerintah terlalu sering menjual panorama, tetapi kurang serius menjual narasi budaya. Padahal wisata modern dunia hari ini tidak lagi cukup hanya dengan “pemandangan indah”. Wisatawan global mencari cerita, pengalaman otentik, identitas lokal, dan kedalaman budaya.

Sayangnya, banyak kampung wisata masih berhenti pada urusan gerbang warna-warni, spot foto, dan acara seremonial.

Padahal kekuatan terbesar Sumatera Utara justru ada pada cerita:
legenda Sigale-gale,
filosofi Dalihan Na Tolu,
sejarah migrasi Batak,
kejayaan Kesultanan Deli,
musik gondang,
tradisi tenun ulos,
hingga jejak sastra dan pers yang lahir dari tanah ini.
Ironisnya, narasi besar itu belum dikelola secara modern.

Museum banyak yang sunyi.
Pusat dokumentasi budaya minim.
Pertunjukan seni tradisional hidup musiman.
Pemandu wisata sejarah masih terbatas.
Digitalisasi arsip budaya berjalan lambat.
Dan promosi internasional sering kalah jauh dibanding daerah lain.

Akibatnya, pariwisata budaya di Sumatera Utara belum benar-benar menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang besar.

Padahal kalau serius dikelola, kawasan sejarah dan budaya bisa hidup 24 jam:
ada festival rutin,
pertunjukan seni harian,
wisata malam budaya,
museum interaktif,
jalur wisata sejarah,
kuliner tradisional,
pertunjukan musik etnik,
hingga pusat literasi budaya Melayu dan Batak.

Yang dibutuhkan bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi keberanian membangun visi kebudayaan.
Sebab budaya bukan hanya warisan masa lalu.
Budaya adalah industri masa depan.

Negara-negara maju memahami hal itu. Mereka menjaga bangunan tua bukan karena nostalgia semata, tetapi karena sadar sejarah adalah aset ekonomi, diplomasi, pendidikan, dan identitas bangsa.

Sementara di sini, kita sering lebih cepat membangun pusat perbelanjaan dibanding membangun pusat kebudayaan.

Lebih sibuk mengejar proyek jangka pendek dibanding merawat memori kolektif masyarakat.

Kalau keadaan ini terus dibiarkan, Sumatera Utara akan tetap dikenal memiliki sejarah besar, tetapi gagal mengubah sejarah itu menjadi kekuatan wisata dunia.

Padahal daerah ini punya semua modal: alam yang megah, budaya yang kaya, sejarah yang panjang, dan masyarakat yang kreatif.

Yang belum hadir sepenuhnya hanyalah kemauan besar untuk menjadikan budaya sebagai arah pembangunan, bukan sekadar slogan pidato pariwisata.

Medan, 25/5/2026 []

Penulis : Wartawan Utama, Editorial Kompas 1995-2011.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *