“Benteng Cinta”

Cerpen : Nurul Jannah*)

Kasih tak sampai: cinta yang tidak diperjuangkan, akan berbuah penyesalan tiada akhir

Palembang, 1967.

Kampus itu tidak megah. Bangunannya sederhana, cat dindingnya memudar dimakan usia.
Kursi-kursi kayu tua mengeluarkan bunyi lirih, setiap kali digeser atau diduduki.

Namun di sanalah mimpi- mimpi tumbuh.
Pelan.
Sunyi.
Tetap hidup, meski tanpa sorak.

Di antara lorong-lorong kampus itu, berjalan seorang perempuan bernama Sekar Arum.

Ia dikenal rapi.
Tenang.
Berjarak.

Putri keluarga bangsawan Palembang.

Setiap langkahnya seperti diukur. Setiap kata yang keluar seperti sudah disaring sejak dari rumah.

Ia tidak pernah benar-benar bebas.

Ia tumbuh menjadi perempuan yang hampir tidak pernah keliru, kecuali dalam memilih untuk dirinya sendiri.

Di sisi lain kampus, ada nama yang sering disebut dan dielu-elukan para mahasiswi.

Baskara.

Ia terpilih sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa. Bukan karena paling vokal serta paling menonjol leadershipnya, namun juga paling bisa dipercaya.

Ia tidak banyak janji. Namun setiap yang ia ucapkan, ia tepati.

Pagi hari, sebelum kelas dimulai, ia sudah berada di masjid kampus.

Membuka pintu.
Menyapu lantai.
Menggelar sajadah.

Hampir selalu sendirian. Kadang hanya ditemani suara angin.

Ia juga dikenal sebagai remaja masjid yang tidak pernah lelah mengajak teman-temannya shalat. Tanpa memaksa, tanpa menghakimi.

Ia tidak pernah berusaha terlihat baik. Ia hanya menjalani hidup dengan cara yang lurus.

Dan entah sejak kapan, Sekar mulai memperhatikannya. Pertemuan mereka tidak pernah direncanakan. Hanya berpapasan di lorong kampus.
Saling mengangguk. Lalu sesekali berbicara.

Tentang kuliah.
Tentang buku.
Tentang masa depan.

Namun di balik percakapan yang sederhana itu, ada rasa indah yang tumbuh,
diam-diam,
tanpa izin,
tanpa suara, namun diam-diam mengambil tempat di hati.

  • Suatu sore, hujan turun deras di halaman kampus.

Mahasiswa berlarian mencari tempat berteduh.
Langit menjadi gelap lebih cepat.

Sekar tertahan di bawah selasar.

Lalu Baskara datang.

Menawarkan payung tua yang ujungnya sedikit miring.

“Pulang?” tanyanya singkat.

Sekar mengangguk.

Mereka berjalan berdampingan.
Tanpa menyentuh.
Tanpa mendekat.
Hanya langkah yang disamakan.

Air hujan jatuh di ujung payung. Sebagian tetap mengenai bahu mereka.

Sekar tidak berbicara.
Namun untuk pertama kalinya, ia merasa ringan.

Ia tidak menjadi anak bangsawan.
Tidak sedang menjaga citra.
Ia merasa tidak perlu menjadi siapa-siapa.
Hanya menjadi dirinya sendiri. Tanpa beban.

Dan justru karena itu, ia mulai takut.

  • Malamnya, ayahnya memanggil. Suasana rumah terasa lebih dingin dari biasanya.

“Kamu kuliah untuk masa depan keluarga,”

suara ayahnya datar, tetapi terdengar keras di dalam,

“bukan untuk memilih laki-laki sembarangan. Tanpa asal usul jelas.”

Sekar menunduk.

Tidak ada nama yang disebut. Namun semuanya sudah jelas. Dalam keluarganya, cinta tidak pernah menjadi dasar keputusan.

Yang dihargai adalah nama.
Yang dijaga adalah martabat.

Sekar ingin berkata, bahwa ia bukan laki-laki sembarangan. Ia laki-laki yang bertanggung jawab. Memiliki keberanian dan harga diri.

Namun kalimat itu tertahan. Dan malam itu, seperti sebelumnya, ia kembali memilih diam.

*

Waktu berjalan.
Semester berganti.
Hari kelulusan pun tiba.

Kampus ramai.
Tawa terdengar di mana-mana.
Foto diambil.
Harapan diucapkan.

Namun di tengah keramaian itu, ada dua orang yang berdiri dalam jarak yang begitu dekat.

“Aku akan ke Jakarta. Melanjutkan karirku di sana,” kata Sekar hati-hati.

Baskara mengangguk. Seperti sudah tahu.

“Aku tetap di sini. Mengajar.”

Hening. Terlalu banyak yang tidak berani ia ucapkan. Lalu, untuk pertama kalinya, Baskara melangkah sedikit lebih dekat.

“Sekar… kalau kamu mau, kita bisa mulai dari awal. Di mana saja.”

Kalimat itu sederhana.

Namun bagi Sekar, itu adalah pintu. Pintu yang selama ini hanya ia pandangi, tanpa pernah ia buka.

Dan justru karena itu, ia takut.

*

Malam itu, sebuah surat datang. Tulisan tangan Baskara.

Aku akan menunggumu di terminal besok pagi.
Kalau kamu datang, kita pergi bersama. Kalau tidak pun aku memahami keputusanmu.Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, aku memilihmu.

Sekar membaca surat itu berulang kali. Tangannya dingin. Dadanya berdebar.

Malam terasa panjang, seolah waktu sengaja berhenti untuk menunggu jawabannya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia tidak hanya diminta untuk dicintai, tetapi diminta untuk berani memilih.

  • Pagi itu, Sekar sudah siap.

Bukan sebagai putri bangsawan. Bukan sebagai anak yang selalu patuh. Hanya sebagai perempuan yang ingin memilih hidupnya sendiri.

Ia melangkah keluar kamar.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Lalu suara ayahnya menghentikannya.

“Kalau kamu keluar hari ini… jangan pernah kembali.”

Langkah itu terhenti. Dan untuk kedua kalinya dalam hidupnya, Sekar memilih diam.

*

Di terminal, Baskara menunggu.

Bus datang dan pergi silih berganti. Orang-orang naik dan turun. Suara mesin bercampur dengan teriakan penjual.

Ia tetap berdiri.
Menunggu satu orang.
Satu keputusan.
Satu keberanian.

Yang ternyata tidak pernah datang.

*

Beberapa hari setelah kelulusan, ia memenuhi janjinya pada Sekar dan pada diri sendiri.

Ia pulang ke kampungnya. Menjadi guru di sana.
Mengajar anak-anak membaca. Mengajar mereka menulis masa depan mereka sendiri.

Hal yang tidak pernah ia lakukan untuk dirinya sendiri.

Sementara itu, Sekar pergi ke Jakarta.

Bekerja.

Menikah.

Hidup dalam kecukupan. Tidak ada yang kurang Semua berjalan begitu sempurna.

Namun setiap hujan turun, ia berhenti sejenak. Seolah ada bagian dalam dirinya yang memanggilnya kembali..

Seolah ada satu versi dirinya yang tertinggal,
di kampus,
di bawah payung tua,
di pagi yang tidak pernah ia datangi.

  • Tahun-tahun berlalu.

Hingga suatu sore, langkah Sekar terhenti di sebuah masjid tua.

Di sana ia melihat Baskara.

Rambutnya telah memutih. Langkahnya melambat.
Namun matanya tetap sama, teduh bagai telaga.

Dan keteduhan itu, justru yang membuat Sekar hampir runtuh.

“Aku menyesal…” bisik Sekar.

Baskara tersenyum tipis.

“Tidak semua orang diberi keberanian pada waktu yang tepat.”

Sekar menatapnya nanar, seperti putus asa.

“Kalau waktu bisa diulang… apa kamu masih memilihku?” tanya Sekar pelan, penuh keraguan.

Baskara diam lama.

Lalu menjawab pelan,

“Tidak.”

Sekar terdiam.
Tubuhnya terasa beku.

“Karena yang aku tunggu dulu adalah Sekar, yang tidak pernah datang.”

Baskara berjalan meninggalkannya.
Tanpa menoleh lagi.

Seolah satu kisah telah selesai baginya. Tanpa sisa.

Sekar masih berdiri kaku di depan masjid itu.

Hujan mulai reda.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia memahami,
yang hilang bukan Baskara. Yang hilang adalah dirinya sendiri, pada pagi ketika ia memilih untuk tidak menemui Baskara.
Puluhan tahun silam.

Ia tidak terlambat datang. Tapi ia memang memilih untuk tidak datang waktu itu.

Sekar hanya bisa menatap punggung Baskara yang semakin menjauh.

Sekar ingin memanggilnya.

Ingin berlari menghampirinya.

Ingin berteriak memintanya untuk tidak pergi.

Namun kakinya tidak bergerak. Diam. Seperti dulu. Seperti hari ketika ia memilih tidak datang.

Hujan kembali turun. Lebih deras dari sebelumnya. Orang-orang mulai berlindung.
Masjid kembali ramai.

Dan di tengah suara hujan yang semakin deras, Sekar akhirnya terduduk di anak tangga. Wajahnya pias.

Tangannya gemetar. Karena ia tahu, kali ini, ia kembali terlambat. Baskara telah pergi.

*

Beberapa hari kemudian, ia datang lagi.

Ke masjid yang sama. Di waktu yang hampir sama. Seolah berharap waktu bisa diulang hanya dengan mengulang langkah.

Baskara tidak ada. Yang ada hanya ruang yang pernah ia duduki.

Kosong.

Bisu.

Seperti menutup dirinya dari siapa pun yang datang terlambat.

Sekar bertanya pada penjaga masjid.

“Bapak, yang sering ke sini, Pak Baskara…”

“Oh, Pak Guru itu?”

Sekar menahan napas.

“Iya, beliau ke mana?”

Penjaga itu menjawab ringan, tanpa tahu bahwa kalimatnya akan menghancurkan hati Sekar.

“Sudah beberapa hari ini tidak ke sini. Katanya pindah. Melanjutkan pengabdian di tempat lain. Tidak meninggalkan alamat.”

Sekar terdiam. Tidak bertanya lagi. Tidak mencari tahu lagi.

Hujan masih turun.
Sekar memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, ia sadar, yang hilang bukan alamat, bukan jarak, bukan waktu. Tetapi kesempatan yang sudah ia lepas dengan sadar.

Ia melangkah ke sudut masjid. Tempat Baskara dulu duduk. Ia berdiri cukup lama di situ.

Seolah berharap kursi itu masih menyimpan sisa kehadiran. Namun yang tersisa hanya kosong, yang tidak bisa diisi ulang oleh siapa pun.

Hujan mulai reda. Tinggal gerimis. Tinggal perih yang dirasakan Sekar kini.

Sekar mencoba memejamkan mata sekali lagi. Menikmati perih yang nyata.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak lagi menyalahkan keadaan.

Tidak lagi menyalahkan ayahnya. Tidak lagi menyalahkan waktu.

Karena akhirnya ia mengerti, yang ia sesali adalah ia pernah dipilih, namun memilih untuk tidak datang. Membiarkan Baskara menunggunya di satu pagi tanpa kepastian apapun.

Bogor, 28 Maret 2026❤️

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *