Oleh : Arianto, S.Kom., M.Kom*)
HARI Pendidikan Nasional 2026 semestinya tidak lagi cukup dirayakan dengan seremoni. Di usia hampir delapan dekade kemerdekaan, pendidikan Indonesia harus dibaca melalui data bukan sekadar retorika.
Sebab, di balik narasi kemajuan, terdapat fakta empiris yang menunjukkan bahwa pendidikan kita sedang bergerak dalam dua arah sekaligus: maju secara akses, namun tertatih dalam kualitas.
Akses Meluas, Tapi Belum Tuntas
Secara kuantitatif, pendidikan Indonesia menunjukkan progres yang cukup signifikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa angka partisipasi sekolah (APS) untuk usia 7–12 tahun telah berada di atas 90%, menunjukkan hampir universalnya akses pendidikan dasar.
Selain itu, rata-rata lama sekolah pemuda Indonesia mencapai 11,21 tahun pada tahun 2025 mendekati jenjang SMA. Ini merupakan kemajuan dibandingkan dua dekade lalu, ketika banyak anak Indonesia tidak menyelesaikan pendidikan menengah.
Namun, capaian ini menyimpan paradoks. Berdasakan data goodstats.id mayoritas pemuda Indonesia berhenti pada level SMA/SMK (43,75%), sementara hanya sekitar 12% yang mencapai pendidikan tinggi.
Artinya, pendidikan Indonesia masih “mentok” di level menengah belum sepenuhnya menjadi motor penggerak masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge society). Data Universita Indonesia pada tahun 2025 lebih jauh lagi, struktur tenaga kerja menunjukkan bahwa 34,75% pekerja Indonesia masih berpendidikan SD ke bawah.
Ini menandakan bahwa ekspansi pendidikan belum sepenuhnya berdampak pada transformasi kualitas sumber daya manusia.
Kualitas : Alarm yang Tak Bisa Diabaikan
Jika akses menunjukkan kemajuan, maka kualitas pendidikan justru mengirimkan sinyal bahaya. Indikator paling sering digunakan secara global adalah Programme for International Student Assessment (PISA).Hasil PISA 2022 menempatkan Indonesia di peringkat ke-69 dari 80 negara. Skor matematika Indonesia hanya 366 poin, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 472 poin.
Lebih mengkhawatirkan lagi, tren skor menunjukkan penurunan:Matematika turun dari 379 (2018) menjadi 366 (2022), Membaca turun dari 371 menjadi 359 dan Sains turun dari 396 menjadi 383. Artinya, meskipun peringkat Indonesia sempat naik (karena negara lain juga mengalami penurunan pasca-pandemi), kualitas absolut siswa Indonesia justru menurun.
Temuan ini diperkuat oleh Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang menunjukkan: Literasi: 42,3%,Numerasi: 38,7% dan Berpikir kritis: hanya 31,2% ini berdasarkan data hasil PISA tahun 2022.Data ini menggambarkan bahwa mayoritas siswa Indonesia belum memiliki kompetensi dasar abad ke-21: berpikir kritis, problem solving, dan kreativitas.
Dalam perspektif Paulo Freire, kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan masih terjebak dalam model “transfer pengetahuan”, bukan “transformasi kesadaran”.
Ketimpangan: Masalah Struktural yang Persisten
Masalah lain yang tak kalah serius adalah ketimpangan pendidikan. Data menunjukkan bahwa sekitar 17% sekolah di daerah 3T masih belum memiliki akses listrik atau internet memadai.
Di era digital, ini bukan sekadar keterbatasan fasilitas tetapi bentuk ketidakadilan struktural. Ketika siswa di kota menikmati pembelajaran berbasis teknologi, siswa di daerah tertinggal masih berjuang dengan keterbatasan dasar.
Selain itu, indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia stagnan di kisaran 0,73, menunjukkan bahwa pendidikan belum mampu mendorong peningkatan kualitas hidup secara signifikan. Ketimpangan ini memperkuat tesis Ivan Illich bahwa sistem pendidikan modern sering kali mereproduksi ketidaksetaraan sosial.
Infrastruktur dan Sistem: Kemajuan yang Belum Merata
Dari sisi sistem, pemerintah telah melakukan berbagai reformasi, termasuk melalui Kurikulum Merdeka. Data “Rapor Pendidikan Indonesia” 2025 menunjukkan adanya upaya evaluasi sistematis terhadap kualitas pembelajaran, manajemen sekolah, dan kompetensi guru.
Namun, persoalan mendasar tetap ada: kualitas guru yang belum merata, sarana prasarana yang timpang, serta budaya belajar yang masih berorientasi pada nilai ujian. Dalam kerangka John Dewey, pendidikan seharusnya berbasis pengalaman dan refleksi.
Namun praktik di lapangan masih didominasi hafalan dan administrasi.
Perspektif Global: Indonesia dalam Krisis Pembelajaran
Fenomena ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia. UNESCO dalam laporan Global Education Monitoring 2025 menyebut dunia sedang mengalami “krisis pembelajaran”. Lebih dari 250 juta anak di dunia tidak mampu membaca dengan baik meskipun bersekolah.
Namun, bagi Indonesia, tantangannya lebih kompleks karena harus menghadapi tiga lapis masalah sekaligus:Akses yang belum sepenuhnya merata,Kualitas pembelajaran yang rendah dan Ketimpangan sosial-ekonomi yang tinggi
Analisis Filosofis: Kehilangan Arah?
Jika ditarik ke ranah filosofis, kondisi pendidikan Indonesia hari ini menunjukkan adanya “krisis orientasi”. Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan adalah proses memerdekakan manusia. Namun realitas menunjukkan bahwa pendidikan masih sering menjadi alat seleksi sosial.
Jean Piaget menekankan pentingnya konstruksi pengetahuan aktif. Namun praktik pembelajaran masih banyak bersifat pasif.
Carl Rogers menekankan hubungan empatik dalam belajar. Namun sistem pendidikan kita masih birokratis dan administratif. Dengan kata lain, ada jarak antara idealitas filosofis dan realitas empiris.
Maju atau Mundur?
Jika ditanya secara objektif: apakah pendidikan Indonesia maju atau mundur?
Jawabannya: maju secara kuantitatif, stagnan bahkan cenderung mundur secara kualitatif. Kemajuan terlihat pada: Peningkatan akses pendidikan dasar dan menengah, kenaikan rata-rata lama sekolah, digitalisasi sistem pendidikan, namun kemunduran (atau stagnasi) terlihat pada: Penurunan skor PISA, rendahnya kemampuan literasi dan numerasi, ketimpangan pendidikan antarwilayah dan rendahnya kualitas lulusan dalam pasar kerja
Penutup: Data Sebagai Peringatan
Hari Pendidikan Nasional 2026 harus dibaca sebagai “alarm”, bukan sekadar refleksi.Data menunjukkan bahwa kita tidak kekurangan sekolah, tetapi kekurangan kualitas pembelajaran.
Kita tidak kekurangan kurikulum, tetapi kekurangan implementasi yang bermakna.Jika tidak ada perubahan mendasar, Indonesia berisiko masuk dalam apa yang disebut para ahli sebagai learning trap situasi di mana pendidikan terus berkembang secara sistem, tetapi gagal menghasilkan pembelajaran yang nyata.
Maka, tantangan ke depan bukan lagi membangun lebih banyak sekolah, tetapi membangun makna pendidikan itu sendiri. Karena pada akhirnya, seperti diingatkan oleh Aristoteles, tujuan pendidikan bukan sekadar membuat manusia pintartetapi membuat manusia menjadi baik. []
Dosen STMIK JayaNusa Padang (2012-2019), sekarang Mahasiswa Pascasarjana PTK Universitas Negeri Padang*)




