Oleh : Dr. Afrinal, MH*)
Husnudzon & Tabayun—Ini adalah salah satu ajaran agama kita Islam yang mulai terabaikan, di era majunya era Tekhnologi saat ini.
Buktinya, banyak bermunculan info sesat dan menyesatkan sebelum di sharing kepada publik. Muaranya, bagi yang mendengar, melihat dan merasakan terkadang membuat seseorang menyesakan dada dan nafasnya hingga perasaannya menggerutu. Tidak hanya sampai di situ, fitnah pun ”mendunia”.
Bila sikap husnudzon & tabaayun ini bila diamalkan setiap muslim yang beriman di pastikan negara ini akan aman-aman saja. Tak akan ada pertengkaran, selisih paham, gibah, caci maki, saling menganggap dirinya hebat, paling benar hingga bisa pula suami dengan istri kan bercerai. Karena, telah selalu bersangka baik terhadap pasanganya dan kawan serta karib kerabatnya.
Sebagai hamba Allah SW, maka salah satu kata kunci paling strategi untuk menghilangkan perasaan buruk serta sikap dendam dan iri kepada orang lain dan orang lain kepada kita sesama muslim dengan baik sangka dan tabayun (konfirmasi).
Maknanya Tabayun di sini adalah konsep Islam yang dipahami untuk meneliti, memverifikasi hingga mengklarifikasi suatu informasi secara mendalam sebelum mempercayai atau mempublisnya. Apalagi, jika sumbernya meragukan.
Guna menghindari fitnah serta kesalahpahaman, sebagaimana yang diperintahkan dan berdasarkan Firman Allah swt dalam Al-Qur’an (Surah Al-Hujurat: 6). Tujuannya adalah mendapatkan kebenaran hakiki dan mencegah kerugian caranya adalah bertanya langsung kepada sumber, memeriksa dan menchek kebenaran fakta dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan (justice) hingga memvonis.
Pada sisi lain, karena mengubah fokus dari keburukan orang lain pada kita dan sebaliknya agar menjadi kebaikan bagi diri sendiri adalah dengan cara memaafkan serta yakin akan balasan Allah.
Firman Allah swt dalam (QS-Al Isra (7).”Jika kamu berbuat baik maka kebaikan itu adalah untuk-mu, jika kamu berbuat keji, keburukan dan kejahatan maka itu pun kembali kepadaMu.“
Sikap tawakal serta selalu bersabar dan berbuat baik, selalu mendekatkan diri kepada Allah juga akan menjadi cara menjadikan hati menjadi bersih. Hilang pula perasaan menyakitkan. Pada tubuh manusia yang tidak beriman mungkin ada dendam yang tidak pernah berkesudahan.
Ini adalah penyakit hati yang merusak hubungan dan keimanan. Pada hal sifat memaafkan dan berbuat baik justru lebih utama daripada membalas dendam, sesuai ajaran untuk membalas keburukan dengan kebaikan (QS. Fussilat: 34).
Pertanyaanya sekarang bagaimana cara menerapkan sangka baik untuk menghilangkan sekaligus menghilangkan rasa dendam. Apa yang terjadi di sebagian wilayah kita Sumatera Barat, Sumut dan Aceh, ditandai dengan terjadinya bencana alam.
Ada galodo, banjir bandang, longsor dan hutan-hutan yang gundul serta bermacam musibah lainnya, memanggil hambanya untuk kembali kepadaNya. Ini sebuah nasehat bagi kita hamba Allah saat hidup di dunia ini.
Mari Berbaik Sangka kepada Allah. Yakini bahwa semua kejadian ada hikmah dan maknanya dan Allah Maha Adil dalam memberikan balasan, ketika hambanya lalai dan lupa dan telah mulai melupakan Sang Penciptanya, karena alasan kesibukan serta kepentingan dunia dibanding kepentingan akhiratnya.
Selain berbaik sangka pada Allah swt, kepada diri sendiri kita di tuntut berbaik sangka pula apalagi kepada orang lain. Karena, tak bisa dipungkiri, diantara kita mungkin saja ada kelebihan dan kekurangan diri, bersyukur, dan tidak merasa paling benar dan hebat serta merasa pintar hal yang perlu dipahami bahwa Allah-lah yang paling sempurna itu.
Berbaik sangka kepada sesama, caranya yang paling utama adalah hindari suudzon (prasangka buruk). Karena ini bisa yang merusak hati dan hubungan, serta berusaha memberi uzur atau alasan baik untuk kesalahan orang lain.
Apa yang dikatakan oleh Guru Bangsa Presiden RI ke-4 (KH. Abdurrahman Wahid-Gus Dur-”Di tengah berbagai tantangan hidup, selalu mengingatkan kita untuk tetap teguh pada prinsip-prinsip kebaikan. Walaupun ada kritik atau bahkan kebencian yang datang dari orang lain, hal tersebut tidak seharusnya mempengaruhi semangat kita untuk terus berbuat baik.
Gus Dur percaya bahwa sikap kita terhadap kebencian orang lain adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus diterima dengan lapang dada. “Jangan terlalu diambil pusing, gitu aja kok repot.
Memaafkan dan berbuat baik, setiap umat manusia sengaja atau tidak sengaja pasti bersifat khilaf (lupa). Maka, ketika ada yang berbuat jahat kepada kita-balas kejahatan dengan kebaikan (QS. Fussilat: 34). Memaafkan adalah jalan terbaik untuk balas dendam yang memuliakan jiwa bukan malah makin membenci.
Bersabar adalah setengah dari keimanan dan akan menolong kita menjaga hati dari sifat negatif, daerah kita saat ini (beberapa daerah mengalami musibah) alam rusak. Pastikan kerusakan yang datang dari Tuhan Yang Maha Esa, adalah salah satu bentuk ujian atau murkaNya kepada kita saat ini. Pastikan kita selalu bersabar. Karena Allah itu selalu bersama orang-orang yang sabar.
Mengingat pahala. Harus pula di sadari bahwa peringatan Allah itu selalumenyukai orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan serta memberi pahala besar bagi yang memaafkan. (QS.Ali Imran:234). Patut pula rasanya kita memahami bahwa kesabaran dan tidak mau marah-marah adalah sikap yang terpuji dan dipastikan orang itu disenangi oleh siapa saja.
Dari beberapa bahan kajian ini kita patut rasanya melihat dampak atau akibat dendam dan pentingnya Husnudzon. Sebagai umat muslim dan berimanya hanya kepada Allah swt, dendam adalah sifat tercela yang membenci dan menjauhkan dari ampunan Allah. Dan kita tidak ingin masuk dalam kategori orang-orang tersebut.
Sifat husnudzon menciptakan ketenangan dan mempererat hubungan tali silaturahmi, dan mencegah perasaan iri dengki. Banyak kita melihat bahwa manusia yang punya perasaan dan suka menyimpan dendam membuat jiwa hina sementara sifat memaafkan membuat jiwa mulia, di sisi Allah swt dan sesama manusia.
Sebagai hamba Allah swt dan umatnya Nabi/Rasullah SAW, bila kita makhluk yang tidak sempurna dan masih jauh dari kesempurnaan, maka dengan menerapkan sikap ini, hati dan perasaan manusia akan bersih, hubungan membaik serta seseorang akan lebih dekat kepada Allah SWT. Amiin. []
Wakil Dekan Fakultas Syariah Bidang AUPK dan Dosen Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang.*)




