PADANG, FOKUSSUMBAR.COM– Dunia kepenulisan di Sumatera Barat semakin seru. Terbaru, Firdaus Abie, mempersembahkan karya sastra berbahasa Minang. Judulnya, “Mangaji Indak Khatam”. Berisi kritik sosial dalam kemasan cerita yang romantis.
Kumpulan Cerpen berbahasa Minang, Mangaji Indak Khatam, sudah dibedah saat ivent Festival Literasi, 2026. Hajatannya dilaksanakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang.
Tak tanggung-tanggung. Tiga orang pembedah dari tiga latar belakang “mangarincangi” buku tersebut.
Kiswati, SS, MPA, Kabid Pembinaan dan Pengawasan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat mengkritisi, buku ini tak biasa.
Ia menilai, penulis termasuk berani menggunakan bahasa yang disebahagian masyarakat dianggap tidak biasa. Kata yang dalam keseharian dipandang kasar, ternyata menjadi “sesuatu” di dalam naskah yang ditulis.
“Materinya sederhana, dipungut dari kisah keseharian masyarakat,” katanya.
Dirwan Ahmad Darwis, Ph.D, sosok yang memiliki perhatian kepada jati diri orang Minangkabau, menemukan bahwa buku ini bukan sekadar kumpulan Cerpen, tetapi “menebarkan” nilai dan pengetahuan tentang keminangkabauan, terkhusus dari bahasa yang digunakan dalam naskah.
“Sangat banyak ditemukan kata atau istilah masa lalu, namun sekarang tidak lagi digunakan orang dalam percakapan sehari-hari,” kata Dirwan yang menyelesaikan gelar doktor setelah menyelesaikan tesis berjudul Adaik “Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) Asas Jati Diri Minangkabau”: Pengetahuan, Sikap dan Amalan Dalam Kalangan Belia, serta pada tahun 2023 menerbitkan buku berjudul Melayu di Tepi Jurang.
Bahren, Pakar Linguistik di Sastra Minangkabau, Unand, menyebutkan, bahasa Minang termasuk salah satu bahasa yang terancam punah. Ketika kumpulan Cerpen ini dihadirkan, mulai hilang kekhawatiran punahnya bahasa Minang.
“Buku ini menjadi jembatan generasi Baby Bomer dengan Generasi Z,” kata Bahren.
Bedah buku dimoderatori Syamdani, Kabid Kebudayaan di Dinas Pendidikan Kota Padang. Ia berhasil membuat suasana hidup, sehingga beragam pertanyaan dari peserta meluncur sangat deras. Peserta terdiri dari pelajar, guru, pegiat literasi dan ASN Pemko Padang dari berbagai disiplin ilmu.
Syamdani kemudian juga menguji “temuan sederhana” Firdaus Abie. Katanya, bicara dalam bahasa Minang juga tak kalah sulit. Maksimal dalam kegiatan resmi, bicara berbahasa Minang hanya bisa dilakukan konsisten selama 2.5 menit, setelah itu kembali ke bahasa Indonesia atau bercampur aduk.
“Iyo indak bisa doh,” kata Syamdani yang mencoba beberapa kali, namun tetap tak mampu lebih dari 2.5 menit.
Peserta lain ada pula yang mencoba saat mengajukan pertanyaan atau pandangan, namun tetap mengalami kesulitan.
“Berbahasa Minang secara lisan sulitnya sangat dirasakan, apalagi jika ditulis,” kata Syamdani yang juga seorang penulis tersebut. (*/jiga)




