“Yang Tidak Lagi Diam”

Oleh : Nurul Jannah*)

“Di antara derap langkah yang memenuhi jalan, ada suara yang tak lagi mau dipinggirkan, suara yang lahir dari lelah yang terlalu lama dipendam.”

Setiap 1 Mei, jalanan berubah. Bukan oleh padatnya kendaraan, tetapi oleh gelombang suara yang selama ini lama ditahan.

Spanduk terbentang. Langkah kaki berderap. Suara lantang memantul di antara gedung-gedung tinggi, gedung yang selama ini menjadi saksi keputusan, namun tak selalu menjadi ruang bagi mereka yang paling terdampak.

Dan di tengah semua itu, kita dihadapkan pada satu pertanyaan yang sering kita hindari; apakah kita benar-benar memahami arti dari langkah-langkah itu?

Bagi sebagian orang, itu hanya pemandangan tahunan.

Keramaian.

Orasi.

Barisan massa yang memenuhi jalan.

Namun bagi mereka yang berjalan di dalamnya, aksi itu bukan hanya pertemuan semata.

Ia adalah bahasa terakhir
ketika ruang dialog terlalu sempit untuk menampung kejujuran. Ia bukan hanya kumpulan manusia. Ia adalah pengakuan yang dipaksa keluar, bahwa kami ada, kami bekerja, dan kami tidak ingin lagi dianggap tidak terlihat.

Mengapa aksi itu terus hadir?

Karena tidak semua suara didengar dalam keheningan. Karena ada kelelahan yang tidak lagi bisa disembunyikan. Karena ada tuntutan yang terlalu lama ditunda hingga berubah menjadi luka.

Aksi itu tidak lahir dari keinginan untuk gaduh. Ia lahir dari keputusasaan yang mencari jalan. Ia bukan untuk merusak, tetapi untuk mengingatkan, bahwa keadilan yang ditunda terlalu lama pada akhirnya akan menuntut jalannya sendiri.

Siapa saja yang berjalan di sana?

Mereka yang bangun ketika langit belum sepenuhnya terang. Mereka yang pulang saat tenaga hampir habis. Mereka yang bekerja tanpa banyak pilihan.

Di pabrik.

Di jalanan.

Di kantor.

Di proyek.

Mereka yang menggantungkan hidup pada upah yang sering kali cukup untuk bertahan, tetapi belum tentu cukup untuk hidup dengan layak.

Dan jika kita jujur, kita tidak benar-benar berbeda dari mereka. Karena kerja adalah denyut yang menghidupkan kita semua.

Hanya bentuknya yang berbeda. Lelahnya, sering kali sama.

Di mana suara itu lahir?

Di jalanan, iya. Di depan gedung-gedung yang menjadi simbol kekuasaan. Namun sesungguhnya, suara itu tidak bermula di sana. Ia lahir di ruang-ruang sempit yang pengap.Di antara mesin yang tak pernah berhenti. Di balik meja kerja yang dipenuhi target
yang tidak selalu sebanding dengan penghargaan.

Ia tumbuh pelan, hari demi hari, hingga akhirnya tak lagi bisa ditahan.

Kapan perjuangan itu dimulai?

Bukan pada tanggal 1 Mei.
Hari itu hanya titik temu. Hanya panggung bagi suara yang sudah lama dipendam.

Perjuangan dimulai jauh sebelumnya, setiap hari, ketika tubuh dipaksa bekerja meski lelah belum pulih. Ketika waktu bersama keluarga harus dikorbankan. Ketika hidup terasa berjalan, tetapi tidak benar-benar bergerak ke arah yang lebih baik.

Bagaimana wajahnya hari ini?

Kita telah berjalan jauh. Ada aturan yang diperbaiki. Ada kesadaran yang mulai tumbuh. Ada ruang dialog yang perlahan dibuka.

Namun perjalanan ini belum selesai. Masih ada upah yang terasa tidak cukup. Masih ada jam kerja yang melewati batas manusiawi. Masih ada ketidakpastian yang membuat masa depan terasa rapuh.

Kemajuan ada. Tetapi keadilan belum sepenuhnya hadir untuk semua.

Sejauh mana kita melangkah?

Kita tidak bisa menutup mata pada perubahan.

Namun kita juga tidak bisa menutup hati dari kenyataan bahwa masih ada jarak yang menganga antara kerja keras dan kesejahteraan. Masih ada ketimpangan antara kontribusi dan penghargaan. Dan di tengah itu, langkah tetap berderap. Karena bagi mereka, berhenti bukan pilihan. Berhenti berarti menyerah pada hidup yang tak pernah benar-benar berpihak.

Aksi damai setiap 1 Mei sering dilihat sebagai keramaian.

Padahal, ia adalah cermin. Cermin tentang bagaimana kita menghargai kerja. Cermin tentang bagaimana kita memandang martabat manusia. Apakah kita benar-benar mendengar?

Atau hanya melihat dari kejauhan, lalu kembali pada hidup kita seolah tidak ada yang perlu dipikirkan?

Aksi damai bukan tentang suara yang keras. Ia adalah tentang harapan yang tidak lagi mau dipendam. Karena pada akhirnya, yang diperjuangkan bukan hanya upah. Tetapi hak untuk hidup dengan layak. Dengan martabat yang tidak boleh ditawar.

Dengan rasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar tenaga kerja.

Dan mungkin, perubahan tidak selalu dimulai dari jalanan. Tetapi dari keberanian kita, untuk melihat lebih jujur, mendengar lebih dalam, dan berhenti berpaling dari langkah-langkah yang hari ini masih terus menuntut keadilan.

Bogor, 2 Mei 2026🌹

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *