“Perjalanan Terakhir”

Oleh: Nurul Jannah*)

Malam itu, Senin, 27 April 2026, tidak pernah disiapkan untuk menjadi duka.

Sekitar pukul 20.50 WIB, di lintasan dekat Bekasi Timur, perjalanan yang seharusnya biasa, perjalanan pulang setelah hari yang panjang, berubah menjadi tragedi yang akan tinggal lama dalam ingatan.

KRL yang membawa harapan pulang, dan Argo Bromo Anggrek yang melaju dalam ritmenya, bertemu dalam satu titik yang tidak pernah diinginkan: sebuah benturan yang merobek waktu.

Bukan sekedar tabrakan. Melainkan pertemuan dua arah yang sama-sama tidak sempat menghindar.

Dan di detik itulah, waktu seperti pecah. Berhenti. Terdiam. Tidak bisa ditarik kembali. Tidak ada yang naik kereta dengan niat untuk berpamitan selamanya.

Mereka membawa hal-hal sederhana: tas kerja, sisa lelah, pesan yang belum dibalas, rencana kecil untuk esok hari.

Namun malam itu, semua yang sederhana berubah menjadi kehilangan.

Update berita terakhir, lima belas nyawa berpulang. Puluhan lainnya berada dalam perawatan intensif. Dan yang paling mengguncang, semuanya perempuan.

Kita perlu berhenti sejenak di sini. Bukan hanya untuk berduka. Tetapi benar-benar untuk merenung. Mengapa mereka? Mengapa perempuan-perempuan itu?

Perempuan adalah penjaga banyak hal yang tidak terlihat.

Mereka yang pulang paling akhir, tetapi bangun paling awal.

Mereka yang menahan lelah tanpa banyak bicara, yang tetap tersenyum meski dunia di pundaknya tidak ringan.

Di dalam gerbong itu, mungkin ada: seorang ibu yang anaknya menunggu di rumah, seorang anak yang menjadi harapan orang tua, seorang perempuan yang sedang berjuang berdiri sendiri.

Dan malam itu, mereka semua…tidak sampai.

Kita sering bicara tentang keselamatan. Tentang prosedur. Tentang sistem. Tentang standar operasional.

Namun tragedi ini mengingatkan kita pada satu hal yang sering luput; bahwa keselamatan bukan hanya aturan. Ia adalah tanggung jawab yang harus dijaga dengan kesadaran penuh

Setiap rel yang dilalui,
setiap sinyal yang dibaca,
setiap keputusan yang diambil, di dalamnya ada nyawa.

Ada kehidupan yang dititipkan.

Tragedi ini bukan hanya soal kecelakaan. Ia adalah cermin. Cermin tentang bagaimana kita memandang keselamatan; apakah hanya kewajiban administratif semata, atau benar-benar prioritas utama?

Cermin tentang bagaimana kita menghargai perjalanan, apakah hanya rutinitas, atau amanah yang harus dijaga sampai tujuan?

Dan lebih dalam lagi, ini adalah pengingat tentang ketimpangan sunyi yang sering tidak kita sadari.

Perempuan, dalam banyak keadaan, berada pada posisi yang lebih rentan, pulang malam, kelelahan fisik dan mental, namun tetap harus menjalani peran ganda tanpa jeda.

Ketika sistem tidak cukup kuat, mereka sering menjadi pihak yang paling terdampak.

Dan malam itu…mereka pula yang membayar harga tertinggi.

Kini, rel akan kembali dilewati. Kereta akan kembali berjalan. Stasiun akan kembali dipenuhi langkah.

Namun bagi sebagian keluarga, waktu akan berhenti di malam itu. Selamanya. Tidak ada kata yang cukup untuk menggantikan kehilangan.

Namun dari luka ini, kita harus belajar, dengan cara yang paling jujur, paling serius, dan paling bertanggung jawab.

Keselamatan harus menjadi yang pertama. Bukan yang terakhir diingat setelah tragedi terjadi.

Karena pada akhirnya, setiap perjalanan bukan hanya perpindahan dari satu titik ke titik lain.

Ia adalah janji. Janji bahwa seseorang akan kembali. Janji bahwa ada pelukan yang menunggu. Janji bahwa hidup masih berlanjut.

Dan ketika janji itu patah, yang tersisa bukan hanya duka, tetapi juga pertanyaan besar yang tidak boleh lagi kita abaikan.

Apakah keselamatan sudah benar-benar menjadi prioritas utama, atau hanya dianggap penting setelah tragedi terjadi?

Apakah sistem yang kita bangun benar-benar melindungi, atau hanya terlihat aman di atas kertas?

Dan, yang paling sunyi apakah kita sudah cukup peduli pada setiap nyawa yang dititipkan dalam setiap perjalanan?

“Semoga mereka yang telah pergi, pulang dalam penjagaan terbaik-Nya. Dan semoga kita yang masih berjalan, benar-benar belajar dari peristiwa ini dan menjadi pengingat terakhir, agar tidak ada lagi kehilangan yang harus kita tangisi di masa depan.”

Tragedi ini tidak boleh berhenti sebagai berita. Ia harus menjadi peringatan. Bahwa setiap kelalaiann punya harga. Dan harga itu adalah nyawa.

Bogor, 29 April 2026❤️‍🔥

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *