“Anak-Anak Itu Datang dengan Luka, Pulang dengan Pelukan”

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Padang Panjang, Ny. Maria Feronika Hendri berdialog dengan seorang anak yatim dengan penuh kasih dan sayang. (foto; ist)

PADANG PANJANG, FOKUSSUMBAR.COM – Suasana Aula Hotel Aulia di Padang Panjang, terasa berbeda. Riuh suara anak-anak bercampur dengan lantunan doa, namun di beberapa sudut ruangan tampak mata yang berkaca-kaca.

Ratusan anak yatim berkumpul dalam kegiatan Yatim Fest bertajuk “Dari Luka Menjadi Pembawa Cahaya”, Sabtu lalu (14/3/2026), sebuah pertemuan antara mereka yang pernah kehilangan dengan orang-orang yang datang membawa kepedulian.

Peluk sayang seorang ibu, Ny. Maria Feronika Hendri kepada anak yatim. (foto; ist)

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kota Padang Panjang, Ny. Maria Feronika Hendri, sekaligus menyerahkan bantuan kepada anak-anak yatim. Kehadiran istri orang nomor satu di kota berhawa sejuk itu seolah menjadi simbol bahwa perhatian kepada anak-anak yang kehilangan orang tua bukan sekadar seremonial, tetapi panggilan kemanusiaan.

Sejak pagi, aula itu dipenuhi ratusan anak yatim dari berbagai penjuru kota. Mereka mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari doa bersama, motivasi, hingga sesi berbagi cerita yang membangkitkan semangat. Sebagian anak terlihat ceria, namun tidak sedikit yang masih menyimpan kesedihan di balik senyum yang dipaksakan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPRD Kota Padang Panjang, Imbral, jajaran pemerintah kota, para relawan, serta masyarakat yang ikut memberikan dukungan moral bagi anak-anak yatim.

Dalam sambutannya, Maria Feronika Hendri menyampaikan bahwa anak-anak yatim tidak boleh merasa berjalan sendirian menghadapi kehidupan.

“Di balik luka yang mereka rasakan, tersimpan kekuatan yang luar biasa. Dengan dukungan kita semua, anak-anak ini dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan kelak menjadi pembawa cahaya bagi banyak orang,” ujarnya.

Dialog hangat terbangun bersama Bunda, Ny. Maria Feronika. (foto; ist)

Pada kesempatan tersebut, Maria Feronika juga menyerahkan bantuan yang bersumber dari Badan Amil Zakat Nasional Kota Padang Panjang kepada panitia penyelenggara kegiatan untuk disalurkan kepada para peserta.

Namun momen yang paling membekas justru terjadi di sela-sela acara. Maria Feronika terlihat menghampiri anak-anak satu per satu, menggenggam tangan mereka, bahkan memeluk beberapa di antaranya yang tampak terharu. Suasana aula seketika menjadi hening. Beberapa anak tidak mampu menahan air mata saat merasakan perhatian yang mungkin jarang mereka rasakan.

Seorang anak laki-laki peserta kegiatan dengan suara lirih mengaku sangat bahagia bisa hadir dalam acara tersebut.

“Senang sekali bisa ikut acara ini. Kami merasa diperhatikan. Ketika Ibunda Maria memeluk kami, rasanya seperti dipeluk ibu sendiri,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan seorang anak perempuan yang mengikuti kegiatan tersebut.

“Terima kasih kepada Ibunda Maria dan semua yang peduli kepada kami. Kami doakan Ibunda selalu sehat. Kami ingin menjadi anak yang baik dan bisa membanggakan orang tua kami,” tuturnya sambil menunduk menahan haru.

Tokoh masyarakat Kota Padang Panjang, H. Syafrial, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menilai Yatim Fest bukan sekadar acara berbagi bantuan, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan empati sosial di tengah masyarakat.

“Anak-anak yatim ini bukan hanya membutuhkan bantuan materi, tetapi juga perhatian, kasih sayang dan pengakuan bahwa mereka tidak sendiri. Kehadiran tokoh-tokoh masyarakat yang memeluk mereka hari ini adalah pesan bahwa kota ini masih memiliki hati,” katanya.

Sementara itu, pengamat sosial Sumatera Barat, Dr. Roni Mardiansyah, menilai kegiatan seperti ini memiliki dampak psikologis yang besar bagi anak-anak yang kehilangan orang tua.

“Anak yatim sering menghadapi luka batin yang tidak terlihat. Ketika mereka mendapatkan perhatian, pelukan, dan pengakuan dari lingkungan sosialnya, itu bisa menjadi energi positif yang membantu mereka bangkit dan percaya diri menjalani masa depan,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan sosial yang menyentuh langsung sisi emosional seperti Yatim Fest dapat memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

Di akhir kegiatan, para relawan dan tokoh yang hadir memberikan pelukan hangat kepada anak-anak yatim. Sebagian anak tampak tersenyum, sebagian lagi masih menyeka air mata.

Hari itu, mereka datang dengan cerita kehilangan yang tidak ringan.

Namun ketika meninggalkan aula itu, mereka membawa sesuatu yang baru.rasa diperhatikan, rasa dimiliki, dan keyakinan bahwa di tengah dunia yang kadang terasa sunyi, masih ada banyak tangan yang siap memeluk dan menuntun mereka menuju masa depan. (paulhendri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *