Oleh : Nurul Jannah*)
“Di hari orang-orang saling berjabat tangan, ada hati yang diam-diam belajar memaafkan dirinya sendiri.”
Pagi itu, takbir belum sepenuhnya reda. Gema itu masih berputar di langit, menyentuh dinding rumah, lalu turun perlahan, mengendap di dalam dada.
Hari itu, orang-orang datang. Berpakaian rapi, membawa senyum yang hangat, dan satu kalimat yang terus berpindah dari bibir ke bibir.
“Mohon maaf lahir dan batin.”
Orang-orang menyebutnya halal bihalal. Namun di balik kalimat yang terdengar sederhana itu,
tersimpan perjalanan batin yang tidak ringan.
Memaafkan tidak cukup hanya diucapkan. Dan, meminta maaf, selalu butuh keberanian.
Ruang yang Mengembalikan
Halal bihalal adalah tradisi khas Indonesia yang hadir setelah Idul Fitri. Sebuah momen ketika hubungan yang sempat retak diberi kesempatan untuk diperbaiki, ketika jarak yang terbentuk perlahan didekatkan kembali.
Di ruang ini, kata “maaf” tidak lagi menjadi basa-basi, melainkan pengakuan jujur bahwa pernah ada luka, pernah ada keliru, dan kini ada niat untuk memperbaiki.
Ia menyentuh semua. Keluarga yang pernah terdiam dalam jarak, sahabat yang menjauh tanpa penjelasan, hingga hubungan-hubungan yang perlahan kehilangan hangatnya.
Bahkan diri sendiri.
Karena tidak semua luka datang dari luar. Ada yang lahir dari pilihan yang diambil dengan ragu, dari kata yang terucap tanpa sempat ditahan, atau dari penyesalan yang terlalu lama dibiarkan tinggal di hati.
Di situlah halal bihalal menemukan maknanya yang paling dalam, mengembalikan yang sempat hilang arah.
Biasanya ia hadir setelah Idul Fitri, di hari-hari ketika pintu rumah terbuka, ketika langkah-langkah kembali pulang, bukan hanya ke tempat tinggal, tetapi ke hati yang pernah ditinggalkan.
Mengapa Kita Membutuhkannya
Karena manusia tidak pernah benar-benar bebas dari salah.
Dalam perjalanan hidup, ada kata yang terlalu tajam, ada sikap yang meninggalkan bekas, ada diam yang justru melukai lebih dalam daripada pertengkaran.
Semua itu, jika dibiarkan, akan menumpuk, pelan, diam, lalu menjauhkan tanpa terasa.
Halal bihalal hadir sebagai jeda. Bukan jeda biasa, melainkan titik henti yang memaksa hati untuk menoleh ke dalam.
Sudahkah kita meminta maaf dengan sungguh-sungguh? Sudahkah kita memaafkan tanpa syarat? Ataukah masih ada yang diam-diam kita simpan di dalam hati?
Yang membuatnya penting bukan tradisinya, melainkan keberanian yang tumbuh di dalamnya.
Keberanian untuk berkata, “Aku salah.”
Dan yang lebih berat lagi,
“Aku memaafkan.”
Semua itu tampak sederhana, menatap, mengulurkan tangan lalu mengucapkan maaf. Namun di balik itu, ada proses yang tidak terlihat, gengsi yang runtuh, ego yang diluruhkan, dan hati yang akhirnya memilih untuk jujur.
Tradisi ini tumbuh dari sejarah bangsa, sejak masa awal kemerdekaan, ketika perbedaan mengancam persatuan. Saat itu jalan yang dipilih bukan perdebatan, melainkan saling memaafkan.
Dari sanalah ia berkembang, dari rumah ke rumah, dari generasi ke generasi, menjadi cara bangsa ini merawat hubungan.
Karena pada akhirnya, manusia selalu membutuhkan jalan untuk pulang. Dan, halal bihalal bukan tentang siapa yang lebih dulu mengulurkan tangan, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berani menurunkan ego.
Sebab dalam hidup yang singkat ini, tidak semua hubungan mendapat kesempatan untuk diperbaiki. Dan sering kali, yang paling menyakitkan bukan pertengkaran, melainkan kesempatan berdamai yang tidak pernah diambil.
Maka, satu jabat tangan yang tulus… kadang mampu menyelamatkan hati yang hampir hilang arah.
Bogor, 26 Maret 2026❤️
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




