Cerpen : Nurul Jannah*)
“Kadang keluarga tidak lahir dari darah yang sama, melainkan dari hati yang memilih untuk saling menjaga.”
Jam di dinding laboratorium menunjukkan pukul 02.48 dini hari.
Gedung riset itu biasanya sunyi pada jam seperti itu. Lampu neon putih menyala datar, memantulkan bayangan meja stainless dan tabung-tabung kaca yang berdiri seperti penjaga malam.
Suara pendingin ruangan berdengung pelan, seperti nafas panjang gedung yang belum benar-benar tertidur.
Namun di salah satu sudut ruangan, seorang pemuda masih duduk di depan laptop.
Namanya Omar Al-Hadi.
Mahasiswa doktoral dari Yordania yang baru delapan bulan tinggal di Indonesia.
Di layar laptopnya, grafik penelitian tentang kualitas air bergerak lambat. Data belum juga selesai diolah. Matanya tampak lelah.
Namun yang paling terasa sebenarnya bukan sekadar lelah, melainkan lapar dan sunyi yang datang bersamaan.
Omar menatap jam lagi.
02.50.
Ia membuka tas kecil di samping kursinya. Di dalamnya hanya ada sebotol air mineral dan satu bungkus biskuit.
Itulah bekal sahurnya malam ini.
Ia menarik napas panjang.
Di negaranya, sahur adalah waktu yang penuh suara. Ibunya selalu bangun lebih awal. Panci kecil berdenting di dapur. Aroma roti hangat dan sup lentil memenuhi rumah. Ayahnya sering menyalakan radio dengan suara pelan, cukup untuk menemani pagi yang masih gelap.
Adik-adiknya bercanda. *Rumah terasa demikian hidup.
Namun di laboratorium yang dingin ini, sahur hanya suara plastik biskuit yang dibuka perlahan.
Omar tersenyum kecil pada dirinya sendiri.
“Ini juga kehidupan,” gumamnya pelan.
Ia meneguk air.
Lalu menggigit biskuit itu perlahan, seperti seseorang yang sedang mencoba meyakinkan tubuhnya bahwa kesederhanaan ini sudah cukup.
*
Hari-hari pertama Ramadan di kampus tidak berjalan mudah bagi Omar.
Di laboratorium, mereka sedang mengerjakan eksperimen bersama.
Tim riset terdiri dari lima orang. Selain Omar, ada Riri dari Indonesia, Daniel dari Jerman, Kenzi dari Jepang, dan Andre dari Brazil.
Suatu malam, ketika eksperimen berlangsung hingga larut, Daniel berkata sambil tertawa.
“Omar pasti enak ya. Tidak perlu makan malam.”
Andre ikut tertawa.
“Ya, hemat uang.”
Kenzi tidak ikut tertawa, tapi ia juga tidak berkata apa-apa.
Omar tersenyum tipis.
Namun di dalam dadanya ada ketidaknyamanan yang sulit dijelaskan.
Candaan itu mungkin ringan bagi mereka.
Namun bagi Omar, puasa bukan sekedar tidak makan.
Puasa adalah cara menahan diri. Cara mengingat Allah. Cara merasakan lapar orang lain.
Dan ketika puasa yang menurutnya sakral, dijadikan bahan bercanda, rasanya seperti seseorang menepuk bahu kita sambil tertawa. Tanpa tahu bahwa yang ditepuk sebenarnya adalah luka.
Malam itu Omar pulang lebih cepat dari biasanya.
Di kamar kecil apartemen mahasiswa, ia duduk di tepi tempat tidur.
Ia membuka ponselnya.
Ada pesan dari ibunya.
“Sudah sahur, Nak?”
Omar menatap pesan itu lama. Lalu menjawab singkat.
“Sudah, Bu.”
Ia tidak menulis bahwa sahurnya hanya biskuit.
Ia tidak menulis bahwa malam ini ia sendirian. Karena seorang ibu yang saat ini berada ribuan kilometer jauhnya, tidak perlu ikut merasakan sepi yang sama.
*
Ada satu orang di tim yang sebenarnya memperhatikan semuanya.
Ia adalah Riri. Mahasiswi master yang terkenal ramah, easy going, dan hampir selalu membawa kopi ke mana-mana.
Riri juga berpuasa Ramadan. Namun ia tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana rasanya menjalani puasa sendirian di negeri orang.
*
Suatu malam, ketika hampir semua orang pulang dari laboratorim, Riri melihat Omar masih duduk sendirian.
Jam menunjukkan 02.30.
“Omar belum pulang?”
Omar terkejut.
“Iya… masih ada data yang harus selesai.”
Riri melihat meja kerjanya.
Botol air.
Biskuit.
Hanya itu.
Tidak ada apa-apa lagi.
Ia diam beberapa detik. Lalu bertanya pelan,
“Itu bekal sahurmu?”
Omar tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa.”
Namun Riri tahu, kalimat “tidak apa-apa” sering berarti sebaliknya.
Sebuah Ide Sederhana
Keesokan harinya, Riri mengirim pesan dalam bahasa Inggris di grup internasional tim riset.
“Guys, besok kita eksperimen sampai malam lagi kan?”
“Yess.”
“Probably.”
Riri menulis lagi.
“Kalau begitu, kita sekalian sahur di lab.”
Beberapa detik grup itu diam.
Lalu Daniel membalas,
“Sahur? What is that?”
Andre menambahkan emoji bingung.
Riri menjelaskan,
“Omar puasa. Sahur itu makan sebelum subuh. Kita temani saja.”
Daniel menjawab,
“Oh… saya tidak tahu kalau itu penting.”
Riri mengetik cepat.
“Yes. Very important….”
Lalu ia menambahkan satu kalimat yang sederhana namun kuat: “Kadang teman itu tidak harus memahami semuanya. Cukup hadir.”
*
Malam berikutnya, laboratorium tidak sepenuhnya sunyi.
Pukul 02.20, pintu lab terbuka. Satu per satu anggota tim riset masuk.
Andre datang membawa nasi goreng bungkus.
Daniel membawa roti dan keju.
Kenzi membawa kotak kecil berisi onigiri.
Riri membawa termos teh hangat.
Omar yang sedang mengetik data menoleh, bingung.
“Ini… apa?”
Riri tersenyum lebar.
“Sahur.”
Omar menatap meja yang tiba-tiba penuh makanan.
Matanya berkaca-kaca.
“Tapi kalian tidak perlu…”
Andre menepuk bahunya.
“Bro, kalau kamu bisa puasa seharian, kami bisa bangun sesekali untuk menemani makan sahur.”
Daniel mengangkat roti.
“Ini eksperimen sosial.”
Kenzi berkata pelan,
“Dan… saya ingin tahu bagaimana rasanya sahur.”
Omar tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak Ramadan dimulai di negeri ini, ia tidak makan sendirian.
Sahur yang Menghangatkan
Mereka duduk melingkar di meja laboratorium.
Tabung reaksi dan mikroskop menjadi saksi sahur paling sederhana yang pernah mereka lakukan.
Andre mencicipi kurma yang dibawa Riri.
“Ini manis sekali.”
Daniel geleng-geleng.
“Sekarang saya mengerti kenapa orang Muslim suka kurma saat puasa.”
Kenzi bertanya pada Omar.
“Kenapa harus sahur?”
Omar menjelaskan dengan hati-hati.
“Karena puasa bukan hanya menahan lapar.”
Ia berhenti sejenak.
“Puasa melatih kita untuk sabar, untuk bersyukur, juga untuk mengingat orang lain.”
Omar kemudian melanjutkan.
“Dan sahur membantu kita bertahan.”
Daniel menatap jam.
“Jadi setelah ini… tidak makan atau minum apapun sampai matahari terbenam?”
“Iya.”
Andre bersiul kecil.
“Respect.”
Sunyi sejenak. Namun sunyi kali ini berbeda. Sunyi yang hangat.
Sunyi yang penuh rasa hormat.
Tradisi Kecil
Beberapa minggu kemudian, sahur di laboratorium menjadi kebiasaan kecil.
Tidak setiap hari memang. Namun cukup sering.
Kadang hanya dua orang. Kadang semua anggota tim hadir.
Kadang hanya teh hangat dan roti. Kadang juga nasi padang lengkap.
Namun setiap kali sahur bersama, Omar merasakan kehangatan yang sulit dijelaskan.
Ia tidak lagi merasa jauh dari rumah. Karena ternyata rumah tidak selalu berarti tempat.
Kadang rumah adalah orang-orang yang rela bangun pukul tiga pagi hanya agar seseorang tidak merasa makan sendirian.
Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
Sepuluh malam terakhir sebelum libur Idulfitri tiba, mereka kembali berkumpul di laboratorium.
Sahur sederhana lagi.
Namun kali ini Omar membawa kotak kecil berisi baklava kiriman ibunya dari Yordania.
“Ini dari rumah,” katanya.
Riri mencicipi dan matanya membesar.
“Ini enak sekali!”, teriaknya.
Daniel tertawa.
“Sekarang kita benar-benar internasional.”
Andre berkata,
“Kita harus bikin tradisi ini tiap tahun.”
Kenzi menatap Omar.
“Omar… Ramadan di sini tidak terlalu sepi kan?”
Omar tersenyum.
“Tidak lagi sepi…”
Ia melihat meja laboratorium kini terasa seperti meja makan keluarga.
Wajah-wajah yang dulu terasa asing, kini menjadi dekat.
“Kalian membuat sahur ini terasa seperti rumah.”, kata Omar dengan mata berkaca-kaca.
*
Setelah sholat subuh, mereka keluar dari gedung laboratorium.
Langit mulai berubah warna. Udara pagi dingin. Riri berjalan di samping Omar.
“Awal Ramadan, jauh dari keluarga dan di negeri orang, pasti berat ya?”
Omar tersenyum.
“Iya. Tapi sekarang…”
Omar belum menyelesaikan kalimatnya. Ia menatap langit yang perlahan terang.
“Sekarang saya belajar satu hal penting….”
“Apa?” tanya Riri tak sabar.
Omar berkata pelan,
“Bahwa persahabatan tidak selalu lahir dari kesamaan.”
Ia melihat teman-temannya berjalan di depan.
“Tapi dari niat baik untuk saling menjaga.”
Dan pagi itu, di kampus yang jauh dari tanah kelahirannya, Omar memahami bahwa kadang keluarga tidak datang dari negara yang sama. Keluarga justru hadir dari orang-orang yang memilih untuk peduli
Dan, di antara tabung reaksi, data penelitian, dan lampu laboratorium yang hampir tidak pernah padam, Omar menjadi makin paham bahwa Allah kadang menghadirkan rumah, bukan melalui tempat kita berasal, melainkan melalui orang-orang yang dengan tulus memilih untuk tinggal di hati kita*.
Masya Allah, Ramadan Kareem.❤️
Bogor, 10 Maret 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




