Oleh : Prof. Dr. Elfindri, SE, MA *)
HEBOH yang diidiskusikan tentang paradox Sumatera Barat melihat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak setinggi yang diharapkan, padahal bilamana dilihat pada data lain, pemerataan kita semakin baik, kemiskinan kita semakin rendah, dan capaian Indeks Pembangunan bahkan masuk peringkat tinggi di Indonesia. Dibuat sebuab “tagline” data yang ada merupakan di atas kertas.
Tapi apa gagasan yang lebih bisa diupayakan untuk memperbaiki paradox itu? Tulisan ini akan sumbangkan.
Investasi Hulu-Hilir
Selama ini kita mengupayakan agar pertanian bisa lebih maju. Kenapa selain terkait dengan kemiskinan, masanya sekarang lebih diprioritaskan pada sektor pertanian. Di dalamnya ada perkebunan, kelautan, peternakan, dan jenis pertanian.
Kita perlu menyeleksi lagi, mana diantara jenis pertanian (pemenuhan pangan carbohidrat, dan protein) dan kelautan (ikan komersial) yang akan dipilih dan diutamakan.
Tentunya dengan pertimbangan pasar yang luas kelayakan hulu (peningkatan mutu bibit), kelayakan proses (kualitas petani, budidaya, dan pemahaman), organisasi, hilirisasi hasil hasil dan marketing.
Masing masing daerah mesti memilih lagi sub bagian yang akan dijagokan, agar bisa dihasilkan dengan produktivitas tinggi, dan efisiensi produksi.
Sebenarnya Sumatra Barat akan diuntungkan jika bisa lebih cepat menyiapkan program nasional yang dilaksanakan di kabupaten kabupaten, diantaranya perluasan kebun Kopi, Kelapa, Cokelat, dan penghijauan hutan produktif khusus pangan (Sukun, Sagu dan Nira) dan buah buahan (Nangka, Jengkol, Durian, Alpukat, Manggis dan jenis buah lainnya).
Sumatera Barat juga masih belum banyak menghasilkan bumbu bumbuan serta tanaman rempah.
Kabupaten seperti Mentawai, Pesisir Selatan, Kota Padang, Agam dan Pasaman Barat masih belum terlihat upaya yang terarah untuk memanfaatkan laut sebagai bagian yang masih berpotensi untuk digarap. Agromarine, dalam pemeliharaan ikan komersial mesti dilanjutkan, termasuk budidaya udang.
Growth Poles
Kita telah mendengar diperlukan pengembangan pusat pusat pertumbuhan yang menjadi engine, motor penggerak ekonomi. Selama ini Sumatra Barat memang lebih banyak tergantung pada hasil Semen Padang.
Namun inovasi dan inisiative untuk melahirkan produk turunan Semen masih belum kelihatan, padahal semenjak 30 tahun terakhir kita sudah membangun infrastruktur, perumahan dan fasilitas publik lainnya.
Kenapa produk turunan Semen tidak serta merta berkembang? Karena investasi R@D masih terbatas dilakukan, sehingga akhirnya Semen Padang terjebak dengan produksi yang tidak competitive dibandingkan dengan Semen Impor.
Perkembangan bangunan, infrastruktur jalan serta fasilitas penunjang belum didukung oleh upaya untuk menyediakan hasil hasil produk ikutan, khususnya yang berbahan baku Batu Alam, Kapur, Marmar yang masih potensi semua itu tidak terjadi, dan tentu potensi serapan tenaga kerja menjadi tiada.
Bisa lebih cepat diinisiasi kemungkinan untuk membuat pabrik pupuk yang masih besar keperluan untuk mendukung proses reboisasi dan pertanian pada umumnya pada masa datang.
Akhir ini ada rencana lagi oleh Danantara untuk menemukan dan mengaktifkan kembali produksi Batu Bara Sawahlunto, semoga saja kandungan batu bara yang tersedia cocok, dan kembali daerah sekeliling Sawahlunto akan semakin memperoleh manfaat hendaknya, termasuk transportasi kereta api terbuka lagi yang akan membawanya.
Kajian masih tetap relevan untuk menemukan sumber bahan biji besi, dan emas, yang bisa merupakan perluasan dari growth poles di Sumatra Barat.
Konsep Growth Poles Perraux tidak saja diterjemahkan menemukan “main purposive industires” seperti Semen, namun juga berbagai program pelayanan publik yang diinisiasi oleh pemerintah pusat.
Mentawai sangat potensi menyediakan Penjara Nasional untuk para koruptor dan penyandang psikotropika. Jika saja 15.000 orang kapasitas Lapas sebagai pusat pertumbuhan pelayanan bagi Napi dan Penderita Paikotropika, maka dengan sendirinya koneksi penerbangan akan terbuka jalur Medan-Padang Mentawai, Jakarta Padang Mentawai, termasuk arus kapal cepat dari Jakarta Bengkulu, Sibolga, Aceh dan Nias.
Kenapa karena efek kunjungan yang diakibatkan dengan keberadaan Lapas Koruptor tidak kecil artinya. Daerah Mentawai akan semakin banyak dikunjungi oleh turis keluarga dan asing.
Penghijauan Hutan
Sumatera Barat juga bisa berperan sebagai hub-hulu, penyedia bibit dalam prosss penanaman kembali hutan hutan yang sudah rusak di Sumatera. Selain upaya untuk menghasilkan Carbon, akan diperlukan penyediaan bibit, teknisi, pupuk dan sejenisnya dalam upaya melakukan pengjijauan hutan kembali.
Kalkulasi sederhana saja, untuk sebagai penyedia bibit Cokelat bersertifikat, dengan 2.5 juta bibit selama 1 tahun, diperlukan tenaga kerja 100 orang rutin, dengan modal kerja sekitar Rp 50 Milyar. Ini baru untuk pembukaan lahan cokelat seluas 25.000 Ha. Belum lagi perluasan perkebunan Kopi, Kelapa, dan tanaman produktif lainnya.
Bank Nagari atau BRI bisa lebih aktif menyediakan pembiayaan untuk membiayai program penghijauan ini. Jika tidak kita hanya main aman dan menunggu takdir baik saja. []
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas *)




