“Pulang”

Cerpen : Nurul Jannah*)

Pagi itu tidak istimewa. Hanya pagi biasa di Jakarta, dengan langit kelabu, jalanan penuh kendaraan, dan orang-orang yang berjalan cepat.

Di lantai dua belas sebuah gedung perkantoran, Bastian menatap layar laptopnya dengan mata yang mulai perih.

Sudah tiga malam ia pulang lewat tengah malam. Proposal kerja sama itu harus selesai hari ini. Klien besar. Nilai kontraknya tidak kecil. Atasannya sudah berulang kali mengingatkan bahwa proyek ini bisa menjadi penentu promosi.

“Bas, file revisinya sudah?” tanya Dimas dari balik kubikel.

“Sebentar lagi,” jawab Bastian pendek.

Ponselnya bergetar di sisi meja. Di layar, nama yang muncul membuat ujung dadanya menghangat sekaligus sesak.

Ibu.

Bastian menatap nama itu beberapa detik. Jemarinya nyaris menyentuh tombol jawab, tetapi suara atasannya tiba-tiba terdengar dari ruang meeting.

“Bastian! Saya tunggu presentasinya lima menit lagi.”

Ia menelan ludah.

Panggilan itu berhenti sendiri.

Beberapa detik kemudian, masuk sebuah pesan.

“Nak, kalau sempat, telepon Ibu ya. Ibu cuma ingin dengar suaramu.”

Bastian memejamkan mata sebentar. Lalu, seperti yang sering ia lakukan beberapa bulan terakhir, ia menaruh ponselnya telentang di meja dan berkata dalam hati, nanti malam.

Selalu nanti malam. Selalu ada nanti yang terasa lebih aman daripada sekarang.

Padahal ia tahu, yang ditunda-tunda sering kali bukan pekerjaan, melainkan keberanian untuk berhadapan dengan rasa bersalahnya sendiri.

Dua bulan terakhir, Bastian jarang pulang ke rumah ibunya di Solo. Setelah ayahnya meninggal tiga tahun lalu, ibunya tinggal sendiri. Kakaknya menetap di luar negeri. Adiknya ikut suami di Makassar.

Tinggallah rumah tua itu sendiri. Ditemani suara radio yang sering diputar pelan dan beberapa pot bunga yang dirawat ibunya seolah mereka masih hidup bersama.

Awalnya Bastian rutin menelepon ibunya. Setiap malam. Lalu bergeser menjadi dua hari sekali. Kemudian, jadi seminggu sekali. Akhirnya, ketika perlu saja.

Iya, Bu.

Lagi rapat.

Nanti ya.

Sehat.

Pesan-pesan pendek yang praktis, tetapi makin lama terdengar seperti dinding pembatas.

*

Sore itu, presentasi berlangsung kacau. Chaos. Klien meminta perubahan besar. Atasannya tegang. Dimas salah mengirim lampiran. Bastian yang sejak pagi menahan lelah mulai kehilangan fokus.

Ketika rapat berakhir, jam sudah menunjukkan pukul enam lewat. Kepalanya terasa berat.

“Bas, malam ini kita lembur lagi,” kata atasannya.

“Besok draft final harus masuk.”

Bastian hendak menjawab, tetapi ponselnya kembali bergetar.

Kali ini bukan ibunya. Tetangganya di Solo. Bu Rukayah.

Ada sesuatu yang dingin menjalar di punggungnya. Ia mengangkat telepon itu sambil menjauh dari ruangan.

“Assalamu’alaikum, Bu.”

Di ujung sana, suara Bu Rukayah terdengar ragu.

“Wa’alaikumussalam… Nak Bastian, Bu Wiryo tadi pagi sempat jatuh.”

Dunia serasa berhenti .

“Jatuh? Jatuh bagaimana?”

“Tadi habis subuh, katanya mau ambil jemuran di belakang. Mungkin pusing. Untung saya dengar suara ember jatuh. Sudah dibawa ke puskesmas. Sekarang di rumah lagi. Dokter bilang harus ada keluarga yang menemani. Bu Wiryo kelihatan lemah sekali.”

Bastian menempelkan telapak tangannya ke dinding.

“Kenapa saya baru dikabari sekarang, Bu?”

“Bu Wiryo melarang. Katanya jangan ganggu nak Bastian kerja. Katanya nanti juga sembuh sendiri.”

Kalimat itu menancap tajam. Jangan ganggu nak Bastian kerja.

Di belakangnya, suara rekan-rekannya terdengar riuh. Ada yang tertawa hambar, ada yang menggerutu soal revisi, ada yang mengeluh soal lembur. Semuanya mendadak terasa jauh.

“Bu, saya pulang malam ini.”

“Alhamdulillah. Bu Wiryo dari tadi cuma bilang, Bastian jangan diganggu. Ia pasti lagi sibuk.”

Bastian menutup telepon perlahan.

Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam. Ada keinginan kuat untuk langsung berlari ke stasiun atau bandara.

Tetapi di saat yang sama, suara lain di kepalanya berbisik, Tinggal satu malam lagi.

Besok pagi berangkat juga bisa. Proyek ini penting. Kariermu dipertaruhkan.

Suara itu licin. Masuk akal. Dewasa. Profesional. Dan justru karena terdengar masuk akal, ia berbahaya.

Atasannya muncul dari balik pintu ruang meeting.

“Bas, kamu ikut kan malam ini? Saya benar-benar butuh kamu.”

Bastian membuka mulut, menutupnya lagi.

“Ibu saya jatuh,” katanya akhirnya.

Wajah atasannya berubah sedikit, tapi hanya sedikit.

“Parah?”

“Tidak tahu. Lagi di rumah. Harusnya ada yang nemenin.”

Atasannya menghembuskan napas, seperti menimbang angka-angka di kepalanya.

“Kalau malam ini kamu ada di sini, kita bisa selesaikan semuanya. Besok pagi kamu bisa langsung berangkat. Tanggung sedikit lagi.”

Tanggung sedikit lagi.

Kalimat itu juga akrab. Berkali-kali ia gunakan untuk menunda pulang, menunda menelepon, menunda mendengarkan suara ibunya lebih lama.

Tanggung sedikit lagi, Bu. Tanggung minggu depan.
Tanggung bulan depan setelah proyek selesai.

Bastian menatap lantai.

Di kepalanya, kenangan-kenangan kecil mulai menyerbu tanpa izin. Ibunya menunggu di teras sepulang ia main bola saat kecil.

Ibunya duduk semalaman saat ia demam tinggi. Ibunya menjahit seragamnya diam-diam ketika kancingnya lepas. Ibunya menjual gelang tipis satu-satunya agar Bastian bisa membayar uang pangkal kuliah.

Dan kini, ketika perempuan itu jatuh sendirian di rumah, ia masih berdiri di sini, menimbang antara presentasi dan kepulangan.

“Aku… ikut sampai jam sembilan,” katanya akhirnya, dengan suara yang bahkan membuat dirinya sendiri muak.

Atasannya menepuk bahunya.

“Good. Setelah itu silakan berangkat.”

Malam turun tanpa belas kasihan. Jam sembilan berubah menjadi setengah sepuluh. Lalu sepuluh lewat dua puluh. Revisi belum juga selesai.

Bastian bekerja dengan dada tidak tenang. Berkali-kali ia melihat ponselnya. Tidak ada pesan baru.

Ia sempat mencoba menelepon ibunya sekali. Tidak diangkat.

Mungkin tidur, pikirnya.

Atau mungkin terlalu lemah untuk meraih telepon.

Pukul setengah sebelas ia akhirnya keluar gedung, berlari ke parkiran, menyalakan mobil, lalu memesan tiket kereta paling pagi karena semua penerbangan terakhir sudah penuh.

Di dalam mobil, lampu merah terasa seperti ejekan. Ia memukul setir pelan saat terjebak macet.

“Cepat… cepat…”

Tetapi hidup tak pernah tunduk pada panik yang datang terlambat.

Di apartemen, ia melempar pakaian ke tas seadanya. Saat memasukkan charger ke saku depan, matanya menangkap bingkai foto kecil di rak. Dirinya dan ibunya di hari wisuda.

Ibunya tersenyum lebar sekali, seolah seluruh dunia dapat dimuat di wajah itu.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang lama ia abaikan.

Tiga minggu lalu, ibunya menelepon dan berkata,

“Nak, bulan depan bunga melati depan rumah mekar banyak. Kalau kamu pulang, Ibu bikinkan teh melati kesukaanmu.”

Dan ia menjawab sambil mengetik email, “Lihat nanti ya, Bu.”

Lihat nanti ya.

Kalimat yang terdengar ringan, tetapi sekarang seperti batu.

Kereta berangkat pukul lima pagi. Sepanjang malam sebelumnya, Bastian tidak benar-benar tidur.

Di kursi tunggu stasiun, ia menatap orang-orang yang juga bepergian. Ada yang membawa kardus, ada yang menggandeng anak kecil, ada yang tertidur sambil memeluk tas.

Semua orang tampak sedang menuju seseorang. Bastian tiba-tiba merasa dirinya adalah orang paling terlambat di antara mereka.

Ia menelepon Bu Rukayah.

Tidak diangkat.

Ia menelepon lagi.

Tetap tidak diangkat.

Jantungnya mulai berdebar tak karuan.

Begitu kereta bergerak, ia menatap keluar jendela, tetapi tak ada yang benar-benar ia lihat. Sawah, rumah-rumah kecil, pohon-pohon yang melintas cepat, semuanya hanya menjadi bayangan.

Yang nyata hanya dua hal: suara napasnya sendiri yang memburu, dan ketakutan yang terus membesar.

Setiba di Solo, matahari sudah tinggi. Bastian turun sambil setengah berlari. Jalan menuju rumah ibunya terasa lebih sempit dari yang ia ingat.

Rumah-rumah tetangga tampak sama, tetapi ada sesuatu yang asing dalam langkahnya sendiri, seolah kampung itu tahu ia datang membawa keterlambatan.

Di depan rumah, beberapa sandal berjajar.
Bastian berhenti.
Napasnya tertahan.
Pintu rumah terbuka. Di dalam, terdengar suara lirih orang mengaji.

Kakinya mendadak berat, seolah tanah berubah lumpur semua.

Bu Rukayah yang pertama kali melihatnya. Perempuan sepuh itu langsung menutup mulut dengan ujung kerudung.

“Nak…”

Satu kata itu cukup untuk merobohkan dunia Bastian.

“Enggak…” suara Bastian patah.

“Enggak, Bu…”

Bu Rukayah mendekat.

“Bu Wiryo sempat sadar pas tengah malam. Minta dibantu duduk. Katanya sesak. Kami sudah bawa ke rumah sakit, tapi…”

Air mata perempuan itu jatuh.

“Allah lebih sayang…”

Bastian tidak mendengar sisa kalimatnya dengan utuh.

Ia masuk ke ruang tengah dengan langkah limbung.

Di sana, ibunya terbujur kaku. Kerudung putih menutupi rambutnya. Kedua tangannya terlipat. Perempuan yang selama ini selalu tampak sibuk, selalu bergerak, selalu menyambut. Kini diam dalam cara yang tak bisa ditawar.

Bastian berlutut di sampingnya.

“Ibu…”

Hanya itu yang keluar.
Ia ingin berkata banyak hal. Ingin meminta maaf atas semua panggilan yang tak diangkat, semua jadwal pulang yang ditunda, semua jawaban singkat yang miskin kasih. Ingin berkata bahwa ia capek menjadi kuat sendirian di kota besar.

Ia juga ingin bilang bahwa sebenarnya setiap malam ia merindukan masakan ibunya, bau rumah itu, suara sapu lidi di halaman pagi-pagi.

Ia pun ingin bilang bahwa semua pencapaian yang ia kejar tiba-tiba tampak tidak punya arti jika tidak bisa ia ceritakan kepada perempuan ini.

Tetapi di hadapan kematian, kata-kata sering kehilangan fungsinya.

Ia meraih tangan ibunya.

Dingin.

Bastian tersentak seperti anak kecil yang tersesat.

“Ibuuu… aku pulang…”

Suaranya gemetar hebat.

“Ibu, ini Bastian. Ini aku pulang. Ibu bangun yuk…”

Tak ada jawaban.

Tidak ada senyum yang biasa menyambut dengan kalimat, “Ayuk nak, pengin makan apa, ibu masakin..,” atau “Ibu sudah siapin ayam bakar kesukaanmu…,”

Kini, hanya diam yang ada.

Diam yang kejam.

Bu Rukayah lalu menyerahkan sebuah amplop kecil.

“Amplop titipan bu Wiryo untuk Nak Bastian. Kasihkan Bastian, kalau ia datang. Begitu pesannya.”

Tangan Bastian gemetar saat membuka lipatan kertas itu.

Tulisan tangan ibunya sedikit goyah.

Bastian, kalau kamu membaca ini, berarti kamu sudah pulang. Sudah ada di rumah.

Kalau Ibu telpon kamu, itu hanya karena ibu kangen dengar suara kamu. Ibu tahu kamu bekerja keras. Ibu bangga. Sangat bangga.

Hanya saja, kalau bisa, jangan terlalu sering menunda pulang. Rumah ini sepi kalau terlalu lama tidak ada suaramu.

Di lemari, Ibu simpan kemeja biru kesukaanmu yang sudah Ibu cuci dan setrika. Pulanglah Nak. Ibu kangen. Tidak usah bawa apa-apa. Cukup bawa dirimu saja.

Ibu.

Bastian memeluk erat surat itu. Lalu menempelkannya ke dada. Tangis yang sejak tadi tertahan akhirnya pecah tanpa bentuk.

Ia menunduk di sisi jenazah ibunya, bahunya terguncang-guncang.

Di tengah sesak itu, ia baru mengerti satu hal yang selama ini sering ia abaikan. Orangtua tidak meminta apapun. Mereka tidak menuntut hadiah mahal, jabatan tinggi, atau kebanggaan besar.

Mereka hanya ingin satu hal sederhana, yang terasa murah bagi kita, tetapi sangat mahal bagi waktu, yaitu pulang.

*

Setelah pemakaman usai, rumah itu menjadi sangat sunyi.

Sore menjelang, para tetangga satu per satu pulang. Bastian duduk sendiri di ruang tamu. Jam dinding berbunyi pelan. Di meja ada cangkir teh yang tak lagi hangat. Di sudut ruangan, radio kesayangan ibunya masih menyala dengan volume kecil, memutarkan lagu lawas yang samar-samar.

Ia membuka lemari yang disebut dalam surat.

Di sana, benar, tergantung sebuah kemeja biru. Wangi sabun dan matahari masih tinggal di kainnya. Bastian menyentuh lengan kemeja itu perlahan, lalu mendadak tak kuat berdiri.

Ia bersandar pada pintu lemari dan menangis lagi.

Seumur hidup, ia kira kesempatan selalu bisa dicari. Waktu selalu bisa dijadwal ulang. Kepulangan selalu bisa menunggu.

Ternyata tidak.

Ada pintu yang kalau terlambat diketuk, tak akan pernah dibuka lagi.

Malam itu, sebelum tidur di kamar masa kecilnya, Bastian duduk di teras. Pot-pot bunga berjajar rapi. Melati di depan rumah benar-benar sedang mekar. Harumnya semerbak, wanginya memenuhi udara. Ia menatap halaman gelap dan berkata lirih, seolah ibunya masih mendengar dari dapur.

“Ibu, maafkan aku. Terlalu lama belajar menjadi orang sukses, sampai lupa caranya menjadi anak yang berbakti.”

Angin malam bergerak perlahan, menggesek daun-daun kecil di halaman. Tidak ada jawaban. Tetapi entah mengapa, untuk sesaat Bastian merasa rumah itu sedang memeluknya dalam senyap.

Dan justru karena itulah dadanya semakin nyeri. Sebab ia tahu, pelukan yang paling ia rindukan kini tidak lagi memiliki lengan.

Hanya kenangan. Hanya penyesalan. Hanya rumah yang akan selalu menunggu, meski pemilik cintanya telah lebih dulu pergi.

Sejak hari itu, Bastian benar-benar paham, yang terbatas bukan waktu kita untuk pulang, tetapi waktu orangtua kita untuk terus menunggu.

Bogor, 24 Maret 2026❤️

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *