Oleh : Idal, M.Pd,.*)
DI era media sosial yang serba cepat, manusia hidup di tengah banjir motivasi instan. Kalimat seperti “Jangan menyerah”, “Cukup berpikir positif saja”, atau “Hidup itu sederhana”, “Yang sabar ya”, “Semangat ya”, sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Sekilas, ungkapan itu tampak memberi semangat.
Namun dalam kenyataannya, hidup tidak semudah yang dikatakan, hidup tidak seindah bait-bait puisi, dan hidup tidak semanis tetesan madu. (Mangecek se nan pandai). Di balik senyum seseorang, bisa saja tersembunyi tekanan mental, beban ekonomi, tuntutan sosial, hingga pergulatan batin yang tidak terlihat oleh orang lain.
Banyak orang menganggap bahwa setiap masalah dapat diselesaikan hanya dengan kemauan kuat. Padahal, ilmu psikologi menunjukkan bahwa kondisi mental manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, mulai dari lingkungan keluarga, tekanan sosial, ekonomi, hingga pengalaman traumatis. Hal inilah yang membuat seseorang tidak selalu mampu “Baik-baik saja” hanya karena diberi nasihat singkat.
Dikutip dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menjelaskan bahwa kesehatan mental adalah keadaan sejahtera yang memungkinkan seseorang menghadapi tekanan hidup, bekerja secara produktif, dan berkontribusi dalam masyarakat.
Namun, WHO juga menegaskan bahwa tekanan sosial dan kondisi hidup yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan mental. Artinya, ketika seseorang mengalami kecemasan, kelelahan emosional, atau depresi, hal itu bukan sekadar kurang bersyukur atau kurang kuat menghadapi hidup.
Fenomena ini semakin nyata pada remaja dan generasi muda. Tekanan akademik, persaingan sosial, standar kesuksesan di media sosial, hingga tuntutan ekonomi sering membuat mereka merasa gagal sebelum benar-benar memulai kehidupan.
Penelitian dalam jurnal Kajian Literatur: Faktor-Faktor Determinan Kesehatan Mental Remaja di Indonesia menyebutkan bahwa bullying, tekanan akademik, pola asuh, dan paparan media digital menjadi faktor penting yang memengaruhi kesehatan mental remaja Indonesia.
Media sosial juga memperparah keadaan. Banyak orang hanya memperlihatkan sisi terbaik hidup mereka sehingga memunculkan budaya perbandingan sosial. Ketika seseorang melihat orang lain tampak sukses, bahagia, dan sempurna setiap hari, muncul tekanan untuk menjadi seperti mereka.
Penelitian mengenai dampak kecanduan media sosial terhadap kesehatan mental remaja menemukan bahwa penggunaan media sosial berlebihan berkaitan dengan kecemasan, stres, hingga depresi.
Ironisnya, masyarakat masih sering meremehkan masalah mental dengan mengatakan, “Itu cuma kurang ibadah”, “Jangan lebay”, atau “Orang lain lebih susah”, “Terlalu kekanak-kanakan”.
Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi dapat memperburuk kondisi seseorang. Banyak individu akhirnya memilih diam karena takut dianggap lemah. Padahal, dukungan emosional dan empati jauh lebih dibutuhkan daripada penilaian sepihak.
Dalam konteks sosial modern, tekanan hidup juga semakin berat karena faktor ekonomi. Kenaikan kebutuhan hidup, sulitnya lapangan pekerjaan, dan ketidakpastian masa depan membuat banyak orang hidup dalam kecemasan berkepanjangan.
Sebuah penelitian tentang tekanan ekonomi terhadap kesehatan mental remaja menunjukkan bahwa kondisi ekonomi keluarga dapat menyebabkan kelelahan emosional dan menurunkan motivasi belajar. Fakta ini memperlihatkan bahwa masalah psikologis sering kali berakar pada persoalan struktural, bukan hanya persoalan pribadi.
Selain itu, budaya produktivitas berlebihan turut menciptakan tekanan baru. Banyak orang merasa harus selalu berhasil, aktif, dan produktif setiap waktu. Ketika gagal memenuhi standar tersebut, mereka merasa tidak berguna.
Padahal manusia bukan mesin. Tubuh dan pikiran memiliki batas kemampuan. Para ahli kesehatan menegaskan bahwa stres kronis dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental, termasuk gangguan tidur, kecemasan, dan penurunan daya tahan tubuh.
“Tidak semudah yang dikatakan” juga berlaku dalam memahami perjuangan orang lain. Seseorang yang terlihat diam belum tentu tidak sedang berjuang. Orang yang tersenyum belum tentu benar-benar bahagia.
Karena itu, empati menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan sosial. Mendengarkan tanpa menghakimi sering kali lebih berarti daripada memberi nasihat panjang yang belum tentu sesuai dengan kondisi seseorang.
Di sisi lain, masyarakat perlu mulai memahami bahwa mencari bantuan psikolog atau konselor bukan tanda kelemahan. Justru, itu adalah bentuk keberanian untuk menyelamatkan diri sendiri. Kesadaran tentang kesehatan mental harus dibangun melalui pendidikan, keluarga, dan lingkungan sosial agar stigma negatif perlahan hilang.
Pada akhirnya, hidup memang tidak sesederhana kata-kata motivasi yang sering berseliweran di layar ponsel. Setiap manusia memiliki luka, beban, dan perjuangan yang berbeda. Apa yang tampak mudah bagi seseorang, bisa menjadi sangat berat bagi orang lain.
Oleh sebab itu, sebelum menghakimi, manusia perlu belajar memahami. Sebelum memberi nasihat, manusia perlu belajar mendengarkan. Sebab kenyataannya, hidup memang tidak semudah yang dikatakan. []
Guru SMPN 18 Padang dan Dosen Luar Biasa UIN Imam Bonjol Padang *)




