Oleh : Shintalya Azis*)
“Jangan lupa, bawa buah tangan, biar urusan lebih cepat selesai. Ini tata krama yang harus dilakukan.”
Aryo terdiam. Ia tidak setuju dengan pandangan atasannya. Namun, membantah secara langsung terasa seperti mempertaruhkan karier yang telah dibangunnya dengan susah payah.
Di satu sisi, ia ingin pekerjaannya segera selesai dan tidak mengecewakan perusahaan. Di sisi lain, nuraninya menolak cara yang tidak semestinya.
Saat berkemas, pandangannya kembali tertuju pada tumpukan berkas yang telah disiapkannya. Semua lengkap, sesuai persyaratan, dan telah diunggah melalui sistem daring sebagaimana aturan yang berlaku.
Sepanjang perjalanan menuju kantor perizinan, berbagai kemungkinan berputar di benaknya. Bagaimana jika berkasnya ditolak tanpa alasan yang jelas? Bagaimana jika prosesnya diperlambat dengan berbagai alasan yang dibuat-buat?
Meski dihantui keraguan, Aryo memutuskan datang hanya dengan dokumen yang diperlukan. Tidak lebih.
“Tidak masalah,” pikirnya. “Semua persyaratan sudah dipenuhi. Tidak ada alasan untuk takut ditolak.”
Ia memilih menempuh proses sesuai aturan. Baginya, kepatuhan terhadap prosedur bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk penghormatan terhadap integritas dirinya sendiri.
Di tengah perjalanan, sebuah pemikiran sederhana muncul.
“Kadang bukan petugas yang sepenuhnya salah. Kita juga ikut berkontribusi ketika memberikan umpan yang membuat praktik yang keliru terus dianggap wajar.” (*)
#33daysintegritychallenge #aksikita #lawankorupsi # biasakanyangbenar #day13 IG: @aclc.kpk
Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)
