Oleh : Nurul Jannah*)
Ketika Semangkuk Teh Mengajarkan Cara Menghormati Kehidupan
“Silakan diminum sebelum tehnya menjadi dingin.”
Kalimat itu diucapkan pelan oleh seorang sensei dengan senyum yang hampir tak pernah lepas dari wajahnya.
Entah mengapa, kalimat sederhana itu masih aku ingat hingga hari ini.
Ketika pertama kali tinggal di Hiroshima untuk menempuh studi doktoral, aku mengira Tea Ceremony hanyalah tradisi minum teh.
Aku membayangkan tidak jauh berbeda dengan kebiasaan minum teh hangat di rumah-rumah Indonesia.
Duduk.
Menuang teh.
Berbincang.
Lalu pulang.
Ternyata aku keliru.
Aku baru memahami bahwa Tea Ceremony bukan tentang teh semata.
Ia adalah pelajaran tentang cara menghargai kehidupan.
Suatu hari, Kima Sensei, salah seorang profesor di kampusku Hiroshima University mengundang beberapa mahasiswa internasional mengikuti Tea Ceremony.
Aku datang dengan rasa ingin tahu yang besar.
Rumah tradisional Jepang itu begitu sederhana.
Lantainya dilapisi tatami.
Di sudut ruangan terdapat gulungan kaligrafi (kakemono) dan rangkaian bunga yang ditata sangat sederhana.
Tidak banyak hiasan.Tidak ada kemewahan. Namun justru kesederhanaan itulah yang menghadirkan ketenangan dan kedamaian.
Aku mulai memahami bahwa masyarakat Jepang tidak selalu mencari keindahan melalui kemegahan.
Mereka justru menemukan keindahan melalui kesederhanaan.
Sebelum memasuki ruang teh, kami diminta melepas sepatu.
Lalu berjalan perlahan. Tidak tergesa-gesa. Penuh hikmah.
Bahkan langkah kaki pun terasa seperti bagian dari upacara.
Aku sempat bertanya kepada Sensei,
“Mengapa semuanya harus dilakukan begitu pelan?”
Beliau tersenyum.
“Karena hidup terlalu sering dijalani dengan tergesa. Di ruangan ini kami belajar memperlambat waktu.”
Jawaban itu membuatku terdiam. Benar, betapa sering kita mengejar waktu. Betapa jarang kita benar-benar menikmati waktu.
Prosesi dimulai.
Tuan rumah membersihkan setiap peralatan teh. Padahal semua terlihat sudah sangat bersih.
Aku kembali bertanya,
“Bukankah mangkuk itu sudah bersih?”
Beliau tersenyum lagi.
“Benar. Tetapi membersihkannya kembali adalah bentuk penghormatan kepada tamu.”
Di Jepang, menghormati orang lain tidak selalu diwujudkan melalui kata-kata.
Sering kali diwujudkan melalui tindakan kecil yang dilakukan dengan sepenuh hati.
Air mulai dipanaskan.
Tidak ada gerakan yang sia-sia.
Setiap gerakan memiliki makna.
Sendok bambu diangkat perlahan.
Bubuk teh hijau (matcha) dimasukkan dengan hati-hati.
Air panas dituangkan.
Lalu pengocok bambu (chasen) digerakkan dengan irama yang indah hingga menghasilkan busa halus.
Aku memandang seluruh proses itu tanpa berkedip.
Begitu takjub, karena setiap gerakan dilakukan dengan kesadaran penuh.
Di sana aku belajar bahwa pekerjaan sederhana pun dapat menjadi karya seni apabila dikerjakan dengan sepenuh hati.
Mangkuk teh kemudian disodorkan di hadapanku.
Sebelum meminumnya, sensei berkata,
“Putarlah mangkuknya dua kali sebelum diminum.”
Aku mengikuti petunjuk itu.
“Kenapa harus diputar?”
Beliau menjawab,
“Bagian depan mangkuk adalah sisi yang paling indah. Memutarnya berarti kita merendahkan hati. Kita tidak menempatkan bibir pada bagian yang dianggap paling istimewa.”
Aku hanya bisa terdiam. Speechless.
Betapa sebuah mangkuk teh mampu mengajarkan kerendahan hati.
Rasa matcha pertama kali yang saya cicipi cukup mengejutkan.
Pahit.
Sangat berbeda dengan teh manis yang biasa aku minum di Indonesia.
Sensei memperhatikan ekspresi spontanku.
“Pahit?”
Beliau tertawa kecil.
“Dalam hidup, tidak semua yang baik selalu terasa manis.”
Kalimat itu begitu sederhana. Dan, aku membawanya pulang hingga hari ini.
Tea Ceremony dibangun di atas empat nilai utama.
Wa. Harmoni.
Hidup selaras dengan manusia dan alam.
Kei. Menghormati.
Bukan hanya menghormati tamu, tetapi juga menghargai benda, ruang, dan waktu.
Sei. Kemurnian.
Membersihkan tangan sebelum memasuki ruang teh hanyalah simbol.
Yang lebih penting adalah membersihkan hati.
Jaku. Ketenangan.
Mampu berdamai dengan keadaan.
Empat nilai itu bukan hanya diajarkan ketika upacara berlangsung.
Nilai-nilai tersebut hidup dalam keseharian masyarakat Jepang.
Selama tinggal di Hiroshima, aku begitu terkesan dengan cara mereka memelihara nilai-nilai itu.
Orang-orang mengantre dengan tenang meskipun kereta terlambat.
Mereka berbicara dengan suara pelan di ruang publik.
Mereka membersihkan ruang kerja sebelum pulang.
Anak-anak sekolah membersihkan kelas tanpa menunggu petugas kebersihan.
Di kampus, mahasiswa mengembalikan kursi ke posisi semula setelah digunakan.
Padahal tidak ada yang mengawasi. Juga tidak ada yang memberi nilai. Semua terasa alami, dilakukan dengan penuh kesadaran.
Aku merasakan betul budaya tidak dibangun melalui slogan. Budaya tumbuh melalui kebiasaan yang diulang setiap hari.
Aku pernah bertanya kepada Tanaka San, seorang teman Jepang, yang berasal dari Kyoto.
“Bagaimana kalian menjaga tradisi seperti Tea Ceremony agar tidak hilang?”
Ia tersenyum.
“Kami tidak memelihara tradisinya. Kami memelihara nilainya.”
Jawaban itu membuatku merenung.
Karena tradisi dapat berubah mengikuti zaman. Dan, nilai yang hidup di dalamnya akan tetap bertahan.
Tea Ceremony masih diajarkan di sekolah-sekolah tertentu.
Banyak universitas memiliki klub chado.
Anak-anak diperkenalkan sejak usia dini. Keluarga juga mewariskan kebiasaan itu dari generasi ke generasi. Agar mereka belajar menghormati orang lain.
Belajar mendengarkan.
Belajar sabar. Belajar hadir sepenuhnya.
Di Indonesia, saya menemukan nilai yang tidak jauh berbeda.
Ketika tamu datang, ibu-ibu segera menyeduhkan teh atau kopi.
Tidak ada upacara resmi.
Namun terasa betul ketulusan di sana.
Ada penghormatan.
Ada keinginan membuat tamu merasa diterima.
Bentuknya berbeda. Namun nilainya serupa.
Aku selalu percaya setiap bangsa memiliki cara sendiri untuk memuliakan tamunya.
Kini, setiap kali menyeduh secangkir teh di rumah, ingatan ini sering kembali mengembara ke Hiroshima. Mengingatkan kembali ruang tatami yang tenang dan damai.
Mangkuk teh yang diputar perlahan.
Gerakan tangan sensei yang penuh kesabaran.
Dan kalimat yang terus bergema dalam hati.
“Dalam hidup, tidak semua yang baik selalu terasa manis.”
Kalimat itu bukan hanya tentang teh semata.
Ia adalah pelajaran tentang kehidupan. Tentang kesabaran.
Tentang penghormatan.
Tentang kehadiran yang utuh.
Tea Ceremony akhirnya mengajarkan kepadaku bahwa kehidupan tidak selalu diukur dari seberapa cepat kita melangkah.
Kadang justru kita perlu berhenti sejenak. Menghela napas. Menikmati hangatnya secangkir teh.
Mendengarkan suara air mendidih. Merasakan kehangatan di sana.
Lalu menyadari bahwa kebahagiaan sering bersembunyi di dalam momen-momen yang tampak sederhana.
Mungkin itulah sebabnya Tea Ceremony mampu bertahan selama ratusan tahun.
Karena ia terus mengingatkan manusia agar tidak kehilangan kemampuan paling mendasar dalam hidup: menghormati waktu, menghargai sesama, merawat ketenangan, dan hadir sepenuhnya dalam setiap perjumpaan.
Dan sejak hari itu aku semakin memahami, secangkir teh ternyata dapat menjadi guru yang sangat bijaksana.
Karena ia mengajarkan cara meminum kehidupan; perlahan, penuh syukur, dan dengan hati yang lapang serta bahagia😍.
Jakarta, 26 Juni 2026






