Sehari Sebelum Merdeka

Oleh: Nurul Jannah*)

Sudahkah Kita Pantas Mewarisi Kemerdekaan?

Pagi, 16 Agustus 2026

Aku berdiri di depan rumah, memandangi Merah Putih yang bergerak pelan ditiup angin. Besok, Insya Allah, Indonesia akan kembali memperingati hari kemerdekaannya.

Delapan puluh satu tahun merdeka.

Entah mengapa, pagi ini aku tidak ingin bertanya apa yang telah negeri ini berikan kepadaku.

Aku justru bertanya kepada diriku sendiri: Apa yang sudah aku berikan kepada Indonesia?

Pertanyaan sederhana. Namun, aku membutuhkan waktu untuk menjawabnya.

Aku lahir ketika Indonesia sudah merdeka. Tidak pernah berlari menghindari peluru. Tidak pernah bersembunyi dari tentara penjajah. Tidak pernah meninggalkan rumah karena perang.

Ketika aku membuka mata, negeri ini sudah memiliki nama, bendera, lagu kebangsaan, dan tanah yang dengan bangga bisa aku sebut rumah.

Aku menikmati kemerdekaan yang harganya dibayar oleh orang-orang yang bahkan tidak pernah mengenal namaku. Mereka berjuang untuk masa depan yang belum sempat mereka lihat. Dan, salah satu bagian dari masa depan itu adalah aku. Adalah kita

Lalu, dengan apa kita membalasnya?


Di ujung jalan, seorang petugas kebersihan sedang menyapu. Ia memungut plastik dari selokan, lalu melanjutkan pekerjaannya.

Tidak ada kamera. Ia hanya melakukan bagian kecil yang menjadi tanggung jawabnya.

BACA JUGA :  Teh Talua Palinggam Juara Lomba HUT ke-81 RI Antarwartawan

Aku pun faham, Perjuangan ternyata tidak pernah berakhir. Ia hanya berganti bentuk.

Dahulu orang mempertahankan negeri ini dengan bambu runcing dan mempertaruhkan nyawa. Hari ini kita mempertahankannya dengan kejujuran, ilmu, kepedulian, kerja keras, dan keberanian untuk tidak ikut merusak.

Dengan tidak membuang sampah ke sungai. Tidak mengambil yang bukan hak kita. Tidak mengurangi timbangan. Tidak merusak hutan demi keuntungan diri sendiri. Tidak menyalahgunakan amanah. Dan, tidak membiarkan perbedaan mengubah saudara menjadi musuh.

Karena musuh negeri ini hari ini tidak selalu datang membawa senjata. Kadang, ia tumbuh diam-diam di dalam diri kita sendiri.

Ia bernama keserakahan, kebohongan, kebencian, dan ketidakpedulian.


Aku kembali menatap Merah Putih.

Ternyata mencintai Indonesia tidak cukup dengan berdiri tegak ketika Indonesia Raya dinyanyikan.

Cinta kepada negeri justru diuji setelah lagu itu selesai.

Ketika kita kembali bekerja. Ketika tidak ada yang melihat. Ketika ada kesempatan untuk curang, tetapi kita memilih tetap jujur.
Ketika kita harus memilih antara kepentingan sendiri dan kebaikan bersama. Ketika kita memiliki kesempatan mengambil lebih banyak, tetapi memilih berhenti, karena tahu ada hak orang lain yang harus dijaga.

BACA JUGA :  Ketua PWI Pesisir Selatan, Robby Oktora Romanza Apresiasi 11 Wartawan Lolos OKK PWI Sumbar

Di sanalah nasionalisme menemukan wajahnya yang sesungguhnya.

Besok pagi, Insya Allah sang saka Merah Putih akan dikibarkan. Upacara akan dilaksanakan. Indonesia Raya akan berkumandang.

Namun, aku ingin membawa kemerdekaan lebih jauh dari lapangan upacara.

Ke rumah. Ke kelas. Ke tempat kerja. Hingga ke setiap keputusan kecil yang kita buat, ketika tidak ada yang menyaksikan.

Sebab Indonesia tidak hanya dibangun oleh keputusan besar di ibu kota.

Indonesia dibangun setiap hari oleh jutaan manusia yang memilih tetap benar, bahkan ketika tidak ada yang melihat.


Pagi ini aku akhirnya membuat satu janji kecil kepada sang saka Merah Putih: Indonesia, aku memang tidak ikut memperjuangkan kelahiranmu. Aku datang ketika kemerdekaan telah tersedia.

Aku menerima negeri ini ketika darah para pejuang telah mengering dan suara tembakan telah lama berhenti.

Oleh karena itu, izinkan aku membayar utangku dengan satu cara yang masih mampu kulakukan, yaitu dengan menjagamu.

Menjaga tanahmu agar tidak semakin terluka. Menjaga airmu agar tetap mengalir jernih. Menjaga persaudaraan agar perbedaan tidak berubah menjadi kebencian. Dan menjaga kejujuran agar negeri ini tidak kehilangan kehormatannya.

Agar kelak, ketika anak cucu kita berdiri di bawah Sang Saka Merah Putih, mereka tidak perlu bertanya mengapa generasi sebelum mereka membiarkan negeri ini rusak.

BACA JUGA :  Wako Yota Balad Pimpin Upacara Apel Kehormatan dan Renungan Suci HUT RI ke 81

Sebaliknya, mereka dapat memandang Merah Putih dengan bangga dan menyampaikan apresiasi:

“Terima kasih. Mereka telah menjaganya untuk kita.”

Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang negeri yang berhasil diwariskan kepada kita. Kemerdekaan adalah tentang negeri seperti apa yang kelak kita wariskan.

Dirgahayu, Indonesiaku.

Delapan puluh satu tahun usiamu. Semoga semakin panjang usia kemerdekaanmu, semakin dewasa pula cara kami mencintaimu.

Semoga kita tidak hanya pandai mengibarkan sang saka Merah Putih, tetapi juga memiliki keberanian untuk menjaga segala yang dahulu diperjuangkan di bawahnya.

Sebab bendera itu tidak hanya membutuhkan angin agar tetap berkibar.

Ia membutuhkan kita agar perjuangan di baliknya tetap hidup.❤️

Jakarta, 16 Agustus 2026

Dosen IPB University, Penulis dan penggiat Literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *