Menikmati Senja di Braga

Oleh : Nurul Jannah*)

Enam Srikandi dan Senja yang Ingin Kami Simpan

Braga. Braga. Braga.

Selepas seharian menikmati Milad ke-19 Indscript di Savoy Homann, enam Srikandi NJD sebenarnya sudah cukup lelah.

Kaki mulai protes.

Tas, apalagi, terasa semakin berat.

Namun rupanya Bandung belum selesai menggoda kami.

“Ke Braga, yuk!”

Dan seperti biasa, keputusan penting para Srikandi terkadang tidak membutuhkan rapat panjang. Cukup satu ajakan, saling pandang, lalu,

Berangkat!


Braga sore itu begitu hidup.

Orang-orang berjalan menyusuri trotoar. Kafe dan pertokoan ramai. Kamera bersahutan. Bangunan-bangunan tua berdiri anggun, menyaksikan kehidupan baru yang terus bergerak di hadapannya.

Di Braga, masa lalu seperti tidak pernah benar-benar pergi. Ia menetap pada wajah bangunan-bangunan lama, sementara masa kini berjalan riuh di sepanjang jalannya.

Jalan Braga memang menyimpan sejarah panjang. Kawasan ini pernah berkembang menjadi pusat pertokoan dan gaya hidup pada masa Hindia Belanda dan hingga kini tetap menjadi salah satu wajah bersejarah Kota Bandung.

Namun sore itu, kami tidak datang untuk belajar sejarah.

Kami datang untuk menitipkan sedikit cerita pada sejarah Braga.

Berjalan.

Menikmati suasana.

Tertawa.

Dan tentu saja, berfoto.

Sedikit lelah memang.

Sedikit heboh tentunya.

Tetapi banyak bahagia.

Sebab terkadang kita tidak membutuhkan perjalanan jauh untuk merasa hidup.

Baca Juga :  Ketika Langit Berabu

Kita hanya membutuhkan jeda, dan orang-orang yang tepat untuk menikmatinya bersama.

Di tengah keramaian Braga, aku memandangi sahabat-sahabatku.

Enam perempuan.

Enam kehidupan.

Enam cerita.

Di balik setiap senyum, tentu ada perjalanan yang tidak selalu mudah.

Ada keberhasilan yang disyukuri.

Ada kehilangan yang pernah ditangisi.

Ada harapan yang masih diperjuangkan.

Ada pula hari-hari ketika hidup meminta kami tetap berjalan, padahal hati sebenarnya ingin berhenti sebentar.

Namun sore itu, kami memilih meletakkan semuanya.

Tidak membicarakan beban.

Tidak mengejar target.

Tidak perlu menjadi siapa-siapa.

Kami hanya menjadi enam sahabat yang sedang menikmati senja.

Dan ternyata, semakin bertambah usia, kebahagiaan sesederhana itu terasa semakin mahal.

Dahulu kita mengira persahabatan cukup dengan saling mengenal.

Kini kita memahami bahwa persahabatan membutuhkan kehadiran.

Bukan hanya: “Kapan-kapan kita ketemu, ya.”

Sebab kapan-kapan bisa berubah menjadi bulan.

Bulan berubah menjadi tahun.

Dan tanpa kita sadari, orang-orang yang dahulu begitu dekat perlahan hanya menjadi nama yang sesekali muncul di layar telepon.

Mungkin karena itulah Islam begitu indah mengajarkan kita untuk menjaga silaturahmi.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga :  Serial Kurenah Malanca: Hape Seken!

Betapa indahnya.

Silaturahmi bukan hanya tentang datang dan bertemu. Ia adalah ikhtiar menjaga hati agar tetap saling terhubung, ketika kesibukan berkali-kali mencoba menjauhkan.

Panjang usia bukan hanya tentang berapa tahun kita hidup, tetapi juga tentang berapa banyak kebaikan, kasih sayang, dan kenangan yang tetap hidup setelah sebuah pertemuan usai.

Braga pun seperti mengajarkan hal yang sama.

Bangunan boleh menua.

Toko boleh berganti.

Zaman boleh berubah.

Tetapi kenangan akan bertahan selama masih ada hati yang bersedia merawatnya.

Persahabatan pun demikian.

Ia perlu disapa.

Ditemui.

Didengarkan.

Ditertawakan bersama.

Dan yang paling penting, diluangkan waktu.

Sebab waktu bersama orang-orang yang kita sayangi bukanlah waktu luang. Kitalah yang harus meluangkan waktu.


Senja pun akhirnya berlalu.

Kami meninggalkan Braga.

Braga tetap tinggal.

Esok, orang-orang lain akan datang.

Kamera lain akan memotret.

Langkah-langkah baru akan memenuhi trotoarnya.

Namun Sabtu sore milik kami tidak akan pernah datang kembali dalam bentuk yang persis sama.

Itulah mengapa foto-foto sederhana itu menjadi begitu berharga. Karena enam perempuan, di tengah kesibukan hidup masing-masing, memilih berhenti dan benar-benar hadir untuk satu sama lain.

Maka selagi masih bisa bertemu, bertemulah.

Selagi masih bisa bahagia, berbahagialah.

Baca Juga :  Perubahan Perda Pendidikan Sumbar Jadi Sorotan, Fraksi Golkar Dorong Penguatan Beasiswa dan BOSDA

Selagi masih bisa menyambung silaturahmi; jangan menunggu waktu luang. Luangkanlah waktu.

Dan ketika seorang sahabat berkata,

“Yuk, mampir sebentar…”

jangan terlalu cepat menjawab,

“Lain kali.”

Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu berapa banyak “lain kali” yang masih disediakan kehidupan.

Braga. Braga. Braga.

Hari itu kami memang hanya singgah sebentar.

Namun boleh jadi, yang sebentar itulah yang kelak paling lama tinggal di ingatan.

Bertahun-tahun nanti, ketika foto-foto ini kembali terbuka, mungkin usia telah bertambah, langkah tidak lagi secepat hari ini, dan kehidupan telah membawa kami ke jalan masing-masing.

“Ternyata yang paling kami rindukan bukan hanya Braganya. Melainkan kami, enam perempuan yang pernah berjalan bersama, tertawa tanpa beban, menjaga silaturahmi, dan menikmati satu senja yang tidak pernah bisa diulang.”

Kita pernah ada di sana. Kita pernah bersama. Dan kita pernah sebahagia itu. ❤️

Bogor, 8 September 2026

Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *