Ketika Udara Bersih Menjadi Barang Mahal

Oleh: Dr. Nofi Yendri Sudiar, M.Si.*)

Pagi ini, anak-anak di Kota Padang tidak berangkat ke sekolah. Bukan karena banjir, bukan pula karena gempa. Mereka belajar dari rumah karena udara yang seharusnya bebas dihirup telah menjadi tidak aman.

Kabut asap yang beberapa hari terakhir menyelimuti Sumatera Barat telah membawa persoalan kebakaran hutan dan lahan jauh dari lokasi apinya. Pemerintah Kota Padang akhirnya mengalihkan pembelajaran PAUD/TK, SD hingga SMP ke sistem daring pada 9–11 September 2026. Sebelumnya, kualitas udara dilaporkan mencapai 430 AQI US dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 290,2 mikrogram per meter kubik, masuk kategori berbahaya.

Padang Panjang juga mengalami kondisi tidak sehat. Pada Rabu (9/9), konsentrasi PM2.5 tercatat 72,38 mikrogram per meter kubik dengan ISPU 118,70.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan lagi persoalan daerah tempat api menyala. Atmosfer membuat persoalan lokal dapat berubah menjadi persoalan regional.

Asap Tidak Mengenal Batas Administrasi

Ada satu kekeliruan yang sering muncul ketika kabut asap datang: kita terlalu cepat menyalahkan angin.

Memang benar, angin membawa asap. Namun angin tidak pernah menyalakan api.

Setelah kebakaran terjadi, partikel dan gas hasil pembakaran dilepaskan ke atmosfer. Ke mana polutan itu bergerak kemudian ditentukan oleh arah dan kecepatan angin pada berbagai lapisan atmosfer. Itulah sebabnya wilayah yang tidak mengalami kebakaran besar sekalipun dapat menerima kiriman asap dari ratusan kilometer jauhnya.

Namun untuk memastikan asap di Padang berasal dari Riau, Jambi, Sumatera Selatan, atau daerah tertentu, kita tidak cukup hanya melihat peta hotspot. Dibutuhkan analisis arah angin pada berbagai ketinggian dan, idealnya, analisis back trajectory atau lintasan balik massa udara.

Bukit Barisan membuat persoalan ini semakin menarik. Massa udara yang bergerak melintasi Sumatera harus berinteraksi dengan pegunungan tersebut. Sementara di pesisir barat terdapat pula sirkulasi angin darat-laut dari Samudra Hindia. Karena itu dinamika asap di Sumatera Barat tidak sesederhana menarik garis dari titik api menuju Padang.

Baca Juga :  Kabut Asap Pekat, Sekolah dan Jalanan di Padang Lengang dari Pelajar

Atmosfer Sedang Memberi Sinyal

Kabut asap tahun ini juga harus dibaca dalam konteks dinamika atmosfer yang lebih besar.

Saat ini El Niño menjadi salah satu faktor penting. Ketika El Niño menguat, pusat aktivitas konveksi tropis mengalami perubahan sehingga pada banyak wilayah Indonesia peluang pembentukan awan dan hujan berkurang. Curah hujan yang berkurang membuat tanah, vegetasi, serasah dan lahan gambut kehilangan kelembapannya.

Tetapi harus ditegaskan: El Niño tidak membakar hutan.

El Niño hanya menyiapkan panggung yang lebih kering. Sumber api tetap diperlukan untuk memulai kebakaran. Ketika bahan bakar sudah sangat kering, api yang awalnya kecil dapat berkembang lebih cepat dan menjadi jauh lebih sulit dikendalikan.

Dari Samudra Hindia kita juga mengenal Indian Ocean Dipole atau IOD. Kondisi IOD perlu terus dipantau, tetapi tidak setiap kekeringan di Indonesia boleh serta-merta dikaitkan dengan IOD. Berbagai sistem atmosfer bekerja bersamaan dan pengaruhnya dapat berbeda dari satu wilayah ke wilayah lain.

Ada pula ITCZ atau Intertropical Convergence Zone. Ini adalah zona pertemuan angin di daerah tropis yang menjadi salah satu tempat penting pembentukan awan dan hujan. ITCZ tidak diam di ekuator. Ia bergeser ke utara dan selatan mengikuti siklus musim.

Bagi Sumatera Barat, pergerakan ini sangat penting karena kita berada dekat ekuator. Pergerakan zona konvergensi inilah yang ikut menjelaskan mengapa wilayah ekuatorial Sumatera memiliki dua periode puncak hujan dalam setahun.

Memasuki September, zona konveksi secara klimatologis mulai bergerak kembali menuju ekuator. Karena itu peluang hujan di Sumatera Barat secara bertahap dapat meningkat. BMKG bahkan menetapkan Sumatera Barat dan Riau dalam status waspada hujan sedang hingga lebat pada 9 September.

Baca Juga :  Perkuat Pengelolaan Aset Jaringan, PLN Icon Plus Lakukan Pemeliharaan Rutin di Rokan Hulu

Tetapi satu atau dua kejadian hujan belum tentu mengakhiri episode kabut asap.

Mengapa Asap Bisa Semakin Pekat?

Kepekatan kabut asap tidak hanya ditentukan oleh jumlah titik api.

Ada tiga proses yang perlu dipahami: emisi, transportasi, dan dispersi.

Pertama, seberapa banyak asap dilepaskan oleh kebakaran. Kedua, ke mana angin membawa asap tersebut. Ketiga, seberapa baik atmosfer mampu mencampur dan menyebarkannya.

Proses ketiga sering dilupakan.

Pada malam hingga pagi hari, lapisan atmosfer dekat permukaan dapat menjadi lebih stabil. Turbulensi vertikal melemah dan lapisan pencampuran menjadi lebih rendah. Akibatnya polutan sulit terdispersi ke atas dan dapat terakumulasi dekat permukaan.

Itulah sebabnya kabut yang terlihat semakin pekat tidak selalu berarti jumlah kebakaran pada saat itu tiba-tiba meningkat. Bisa jadi kemampuan atmosfer untuk membersihkan dan mendispersikan polutan sedang melemah.

Hujan memang dapat membantu. Dalam fisika atmosfer dikenal proses wet scavenging: tetesan hujan menangkap aerosol dan partikel asap kemudian membawanya turun ke permukaan.

Tetapi hujan lokal di Padang hanya membersihkan udara Padang untuk sementara. Jika sumber kebakaran masih aktif dan sirkulasi atmosfer kembali membawa asap, kualitas udara dapat kembali memburuk.

Sederhananya: hujan di Padang membersihkan asapnya, tetapi hujan di daerah kebakaran membantu menghentikan sumbernya.

Jangan Menunggu Masker Dibagikan

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah penanganan karhutla kita terlambat.

Saya tidak ingin menyederhanakannya dengan mengatakan pemerintah tidak bekerja. Pemadaman dilakukan, pemantauan hotspot berjalan, modifikasi cuaca dilakukan di sejumlah wilayah, masker dibagikan, dan ketika kualitas udara membahayakan anak-anak, sekolah dialihkan ke pembelajaran daring. Bahkan pemerintah mengingatkan agar tren penurunan hotspot tidak membuat semua pihak lengah.

Baca Juga :  31 SPBU di Sumbar Terkena Sanksi Pertamina, Enam Diusulkan Beralih Pengelolaan

Semua tindakan tersebut penting.

Namun persoalannya adalah kapan kita mulai bertindak.

Ketika masker sudah dibagikan, sekolah sudah ditutup, dan masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah, sesungguhnya kita sudah berada di bagian hilir persoalan.

Padahal teknologi atmosfer hari ini memungkinkan kita mengetahui banyak hal jauh sebelumnya. El Niño dapat dipantau berbulan-bulan sebelumnya. Musim kemarau dapat diprakirakan. Hari tanpa hujan dapat dihitung. Hotspot dapat dideteksi satelit. Kelembapan tanah dapat dipantau. Arah angin dapat dimodelkan. Bahkan lintasan asap dapat disimulasikan.

Dengan kemampuan sebesar itu, paradigma penanganan karhutla semestinya bergeser dari pemadaman menuju pencegahan berbasis prediksi.

Keberhasilan menangani karhutla jangan hanya diukur dari berapa helikopter yang diterbangkan, berapa liter air yang dijatuhkan, atau seberapa cepat api dipadamkan. Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah berapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah sebelum asap terbentuk.

Sebab udara bersih seharusnya bukan barang mahal.

Atmosfer sebenarnya telah memberi kita peringatan. Persoalannya sekarang adalah seberapa cepat kita mampu menerjemahkan peringatan itu menjadi tindakan.

Angin boleh membawa asap ke mana saja. Tetapi manusialah yang harus memastikan apinya tidak pernah sempat membesar.[]

Dosen Fisika Universitas Negeri Padang, Kepala Research Center for Climate Change UNP dan Kepala Pusat Inovasi, Hilirisasi dan Kerjasama Industri LPPM UNP *)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *