Serial Kurenah Malanca : Muncung Bercirit

‎Oleh: Teddy Chaniago*)

MUNCUNG berbaun, sudah biasa. Muncung cipeh biasa pula, tapi muncung bercirit, ini baru masalah karena akan jadi bala bagi siapa saja.
‎
‎Muncung bercirit, pastinya jadi musuh banyak orang. Sebab, selain kemari bergunjing, cuitan dan cerita dari pemilik muncung, dipastikan membuat banyak pihak bertengkar.
‎
‎Pada si Badu, dia katakan si Atai yang kurang ajar. Bertemu si Atai, Badu pula yang dikatakan banyak ulah.
‎
‎Padahal dia tidak tahu kalau keduanya badunsanak. Sanak-sanak jauh dikarenakan lain bapak, lain pula induknya. Tapi kalau keduanya berkumpul, hiruk nagari karena mereka bersatu dengan nama Baduatai.
‎
‎Pemilik muncung bercirit, tak saja berjenis kelamin perempuan, pun mereka yang berkelamin laki-laki.
‎
‎Dampak dari cuitan eh ciritnya adalah lego pagai orang se lepau, orang se jorong, bahkan cakak banyak antar negeri.
‎
‎Inilah yang sekarang terjadi di negeri antah berantah, saling curiga, saling gisia dan saling beruduan.
‎
‎Malanca termasuk menjadi korban, dia diadu dengan Kalapia, dia digesek dengan Sutan Pamenan. Bahkan Karele yang tinggal di rantau pun kena getahnya.
‎
‎Siapa pelakunya? Meski tunjuk mengarah pada satu orang, namun bercabang pada beberapa nama.
‎
‎Kok bisa? Karena mereka berkomplot dan kompak dengan isu yang mereka sebarkan. Bagaikan virus, semuanya menjadi korban.
‎
‎”Ulah sakit hati, semua pihak yang diadunya. Benar-benar bercirit muncung paja tu. Serupa bala saja kurenahnya,” Inyiak  Ketua yang melihat Malanca dan kawan-kawan hanya diam seribu basa.
‎
‎”Biasanya kalau muncung bercirit, isi kepalanya juga cirit,” sambungnya
‎
‎”Kalian dengar kata Inyiak itu, jangan pula kalian bergesekan hanya karena cerita ulek yang disebarkan muncung-muncung bercirit itu,” Tek Upik turut bersuara.
‎
‎Begitulah kondisi negeri kini, mungkin itu akibat galuak-galuak dangkal dan tak pernah melihat negeri orang.
‎
‎Sehingga beraja saja mereka ke hati dan berinduk semang ke pangkal lengan. []

Penulis telah malang melintang di dunia jurnalistik tanah air, pernah mengabdi di Tempo, Jawa Post dan Monitor Depok, menulis biografi sejumlah tokoh dan penulis serial Sutan Batawi*)

Baca Juga :  Hamdanus Imbau KONI Kabupaten/Kota Segera Selesaikan Pendaftaran Porprov XVI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *