Oleh : Teddy Chaniago*)
MINUMAN kesehatan dan vitalitas terbaik di Ranahminang, tak bisa dipungkiri bernama Teh Talua atau akrab disebut Tea Talua.
Minuman berwarna putih kecoklatan itu, dibuat dari kuning telur ayam kampung atau bebek yang dicampur bubuk teh atau teh sarok, gula, susu dan perasan air jeruk.
Kalau ditanya rasanya, amboi. Mertua lewat di belakang rumah pun tidak kelihatan sama sekali.
Malanca pun suka menginap renungkan minuman tersebut, sebab konsumen teh talua itu terutama pada malam Jumat naik drastis hingga lebih dari 50 persen.
Meski lebih suka minum kopi pahit, namun sekali dua, minuman energi dan vitalitas itu tetap disesapnya.
”Waang indak berbini. Apa pula perlunya waang tau manfaat dan guna teh talua itu,” Tek Upik menggoda Malanca sembari mengerdipkan matanya.
Kurenah Tek Upik, membuat Malanca grogi. Bagaimana tidak meski telah hampir 10 kali kalender berganti, baru kali ini dia dikijok Tek Upik, janda semok yang telah cukup lama dikaguminya.
”Tentu aden perlu bertanya secara seksama, apa pula kelebihan dan untung ruginya minuman spesial di kedai Etek ini,” Malanca bertanya serupa orang pandir saja.
”Itulah makanya, waang selalu saya tawari kopi pahit, sebab kalau terasa nikmat teh talua, takut tak mau pula waang bertemu Sutan Pamenan dan Jang Kampia,” Tek Upik yang berusia tiga tahun lebih tua dari Malanca masih menjawab dengan jenaka.
”Etek jangan membuat hamba yang pandir ini dibelit dalam kebodohan,” balas Malanca pura-pura bloon.
”Tak usahlah Malanca ditawari teh talua, bakal teraniaya piaraan di dalam sarungnya,” Jang Kampia berbicara dari pintu lepau.
”Apa pula hubungan teh talua dengan piaraan saya?,” kali ini Malanca benar-benar bertanya dengan serius.
”Malanca, Malanca, bisa terjaga piaraan waang itu. Kemana pula waang lepaskan. Makin merana pula waang nanti,” kata Tek Upik.
”Ha, ha, ha semiga waang mengerti, karena waang belum cukup umur untuk tau lebih banyak dan banyak tau tentang manfaat teh talua,” Jang Kampia menjelaskan sambil tertawa jenaka. []
Penulis yang malang melintang di dunia jurnalistik tanah air, pernah mengabdi di Tempo, Jawa Post dan Monitor Depok, menulis biografi sejumlah tokoh dan penulis serial Sutan Batawi*)
