Oleh: Nurul Jannah*)
“Sudah delapan bulan kami tidak pernah bertengkar,” kata Bayu bangga.
Rahma berhenti menuangkan teh. Dinda dan suaminya saling berpandangan kagum.
“Wah, apa rahasianya, Mas?”
Rahma tersenyum. Bayu tidak tahu, delapan bulan tanpa pertengkaran itu justru menjadi masa paling sepi dalam pernikahan mereka.
15 Oktober 2006, Dua puluh tahun lalu
Hujan mengguyur halte kecil dekat stasiun Solo Balapan. Bayu berdiri menggigil, memeluk jaket yang sengaja disimpannya untuk Rahma.
“Mas masih di sini?” Rahma terkejut.
“Memangnya aku harus ke mana?”
“Sudah hampir tiga jam!”
Bayu tertawa, lalu menyampirkan jaket ke bahunya.
“Aku takut kamu datang dan enggak menemukan aku.”
“Kalau aku enggak datang?”
“Ya, aku tunggu.”
“Sampai kapan?”
“Sampai kamu percaya aku enggak akan meninggalkanmu sendirian.”
Rahma tersipu. Sore itu, di bawah hujan yang tak kunjung reda, ia jatuh cinta pada lelaki yang rela kedinginan agar dirinya merasa hangat.
Ia tak pernah membayangkan, kelak lelaki yang sama akan membuatnya menggigil oleh kesepian.
“Mas, besok temani aku ke dokter, ya?”
Bayu masih menatap laptop.
“Besok ada rapat penting. Kamu bisa sendiri, kan?”
“Bisa. Tapi aku ingin Mas ikut.”
“Kita sudah bukan pengantin baru. Jangan manja begitu.”
Rahma terdiam. Ia bukan takut pergi ke rumah sakit sendirian. Ia hanya ingin menghadapi kabar apa pun bersama orang yang dicintainya.
“Ya sudah, Mas.”
Bayu kembali bekerja.
Sejak malam itu, “ya sudah”, dua kata itu perlahan menjadi cara Rahma menyembunyikan kecewa.
Malam setelah kunjungan Dinda, Bayu menemukan buku bersampul biru di meja kerja istrinya. Buku itu tergeletak di antara tumpukan kertas, dengan sebuah pena terselip di halaman tengah, Ia membukanya dan membaca catatan-catatan pendek.
25 Januari 2026.
Aku ingin bercerita. Bayu bilang lelah. Aku menunggu sampai tertidur.
1 Februari 2026
Aku membeli baju biru, warna kesukaannya. Bayu tidak menyadari. Tidak apa-apa. Besok kupakai lagi
5 Februari 2026.
Bayu membawa bunga. Aku senang sekali. Aku kira spesial untukku, ternyata semua karyawan mendapatkannya. Bunga itu kusimpan di vas. Setidaknya Bayu pernah mengirim bunga untukku
12 Februari 2026.
Aku bilang merasa kesepian. Bayu menjawab, “Kamu terlalu sensitif.”
18 Februari 2026
Hari pertama aku tidak memprotes apa pun. Bayu terlihat senang.
25 Februari 2026
Seminggu tanpa pertengkaran. Bayu bilang rumah kami akhirnya damai. Padahal, aku sedang belajar tidak berharap agar tak terus-menerus kecewa.
Di bagian belakang terselip hasil pemeriksaan rumah sakit, sehari setelah Bayu menolak menemaninya.
Dokter menemukan kelainan yang perlu diperiksa lebih lanjut. Aku takut sekali.
Aku menelepon Bayu tiga kali. Tidak diangkat. Ketika petugas bertanya siapa yang menjemput, aku bilang suamiku sedang dalam perjalanan menjemput, padahal aku tidak tahu ia sedang di mana.
Bayu memejamkan mata. Ia ingat hari itu. Rapatnya selesai lebih cepat, tetapi ia memilih makan siang bersama rekan-rekan kantor. Sementara Rahma menunggu dengan ketakutan di ruang rumah sakit, ia sedang tertawa menikmati makan siangnya.
Tangannya gemetar membaca catatan berikutnya, bertanggal 24 Februari 2026.
Alhamdulillah, hasil pemeriksaan lanjutanku baik.
Dulu, Bayu selalu menjadi orang pertama yang ingin kuberi kabar. Ketika takut, aku mencarinya. Ketika bahagia, aku ingin segera mendengar suaranya. Sekarang, bahkan kabar bahwa aku baik-baik saja pun tidak tahu harus kubagikan kepada siapa.
Aku harus terbiasa melewati semuanya tanpa dia.
Bayu menutup buku itu.
Dua puluh tahun lalu, ia rela menunggu Rahma tiga jam di bawah hujan karena takut perempuan itu datang dan tidak menemukannya. Kini, ia justru membiarkan perempuan yang sama, menunggu, hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian darinya.
Dan yang paling menyakitkan, selama itu Bayu merasa telah menjadi suami yang baik.
“Mas masih ingat warung nasi goreng dekat stasiun?” tanya Rahma.
“Yang dulu kita makan sepiring berdua?”
“Mas pernah janji kalau sudah punya uang, kita makan di restoran mahal.”
Bayu tertawa. “Sekarang kita sudah sering makan di restoran mahal, kan?”
“Iya.”
“Terus?”
Rahma menatap Bayu.
“Dulu kita makan sepiring berdua, rasanya bahagia, ya, Mas? Sekarang makanan apa pun bisa kita beli, tapi mau ngobrol sebentar saja susah.”
Bayu menghela napas, matanya masih tertuju pada ponsel.
“Rahma, mulai lagi, deh.”
“Aku cuma kangen ngobrol santai Mas.”
“Kan tiap hari kita ketemu.”
Rahma terdiam.
Bayu kembali sibuk dengan ponselnya.
Rahma memandangi lelaki di sebelahnya. Jarak mereka tak sampai sejengkal, tetapi rasanya begitu jauh untuk dijangkau.
Padahal Rahma belum selesai bicara. Sayangnya, Bayu sudah selesai mendengarkan.
“Rahma.”
Rahma sedang melipat pakaian ketika Bayu duduk di tepi ranjang.
“Aku baca buku birumu. Maaf.”
Rahma menghentikan kegiatannya.
“Mas sudah baca?”
“Kenapa enggak bilang kalau kamu sesedih itu?”
“Aku sudah bilang, Mas. Berkali-kali malah. Tapi setiap aku cerita, Mas selalu sibuk menjelaskan; aku enggak seharusnya merasa begitu.”
“Aku pikir kita baik-baik saja.”
Rahma memandang Bayu tanpa ekspesi.
“Kenapa kamu diam?”
Rahma meletakkan pakaian di pangkuannya.
“Aku kangen mas Bayuku yang dulu. Yang mau dengar ceritaku sampai selesai. Sekarang, kita serumah, makan semeja, tapi entah kenapa aku merasa menjalani semuanya sendirian.”
“Aku masih ada di sini Rahma.”
“Iya, Badan memang ada. Tapi hati, tidak ada”.
Bayu terdiam.
Bayu ingin menjelaskan bahwa ia bekerja keras demi keluarga. Namun, malam itu ia menyadari bahwa kesibukan tidak dapat dijadikan alasan untuk terus mengabaikan perasaan istrinya.
Untuk pertama kalinya, Bayu tidak membela diri.
“Maafkan aku, Rahma”
Rahma menangis. Bayu tak bergeming. Baru malam itu ia menyadari, betapa lama istrinya menangis tanpa pernah benar-benar ia dengar.
Dua hari kemudian.
Bayu mengajak Rahma makan malam di warung nasi goreng dekat stasiun. Meja dan kursinya telah berganti, tetapi aroma bawang putih yang ditumis masih sama.
“Kenapa ke sini?” tanya Rahma.
“Karena dulu aku pernah menunggumu tiga jam di halte depan.”
Rahma tersenyum getir.
“Rahma, aku enggak mau janji muluk-muluk.”
“Aku mau belajar hadir. Kalau kamu cerita, aku dengarkan Kalau kamu butuh ditemani, aku ada untukmu.”
Hujan mulai turun.
Rahma menatap lelaki di hadapannya. Lelaki yang dahulu rela menunggu berjam-jam, tetapi kemudian lupa bahwa istrinya pun ingin ditunggu, didengar, dan ditemani.
“Lalu, kenapa mengajakku ke sini?”
“Karena aku ingin mengingat lagi bagaimana caranya mencintaimu.”
Rahma menangis. Kali ini, Bayu membiarkan istrinya menumpahkan luka tanpa menyela, tanpa membela diri.
Dua bulan kemudian, Dinda kembali berkunjung.
“Kalian kelihatan lebih bahagia. Masih enggak pernah bertengkar?”
Bayu tertawa.
“Justru minggu lalu kami bertengkar.”
“Lho, kok malah ketawa?”
“Karena sekarang kalau Rahma kecewa, dia bilang. Dan aku sedang belajar mendengarkan.”
Rahma menyikut lengannya.
“Belajar, ya. Belum lulus.”
“Siap, Bu Guru.”
Mereka tertawa.
Dinda tidak tahu, bagi Rahma, keberanian untuk kembali mengungkapkan rasa diabaikan adalah langkah kecil yang telah lama diperjuangkannya.
Malam harinya
Rahma membuka kembali buku birunya.
Hari ini aku marah karena Bayu lupa menjemputku. Dulu, ia akan membela diri. Hari ini ia meminta maaf. Lalu kami makan malam dan tertawa.
Bayu muncul membawa dua cangkir teh.
“Masih menulis tentang aku?”
“Iya.”
“Yang jelek-jelek?”
“Yang jujur.”
Bayu mengusap lembut rambut Rahma.
“Tulis juga aku sedang berusaha jadi suami yang lebih baik.”
“Nanti, kalau sudah terbukti.”
Bayu tertawa, lalu duduk di sampingnya.
“Rahma?”
“Hm?”
“Kalau aku bikin kamu kecewa lagi, bilang, ya.”
“Kalau aku diam?”
Bayu memandang istrinya.
“Aku dekati. Aku tanya baik-baik. Aku enggak mau lagi menganggap diammu berarti bahagia.”
Di luar, hujan turun perlahan. Bayu menarik selimut kecil untuk menutupi kaki istrinya, seperti dahulu ia menyampirkan jaket di halte.
“Mas?”
“Iya..?”
“Terima kasih sudah mau mendengarkan.”
Bayu mengecup keningnya.
“Maaf aku baru sadar setelah kamu begitu lama memendam semuanya.”
Rahma menutup buku birunya. Bayu mematikan lampu meja. Beberapa saat mereka hanya mendengarkan hujan.
Di meja, buku biru itu masih terbuka. Halaman berikutnya kosong.
Rahma meraih pena, tetapi belum tahu mau menulis apa. Bayu tidak bertanya. Ia hanya membiarkan lampu meja tetap menyala, lalu merapikan selimut di kaki istrinya.
“Besok kita sarapan bareng ya,” seru Bayu tiba-tiba.
Di halaman kosong, ujung pena Rahma akhirnya bergerak.
Besok pagi, kami akan sarapan bersama.❤️
Jakarta, 24 Oktober 2026
Penulis | Akademisi | Pemerhati Lingkungan*)
