Oleh : Shintalya Azis*)
Ada pekerjaan yang bisa terjadi tanpa sengaja. Orang bisa tidak sengaja memukul. Tidak sengaja menyakiti, dan bisa terjadi tidak sengaja jatuh. Bahkan dalam keadaan tertentu, seseorang bisa melakukan sesuatu yang berakibat fatal tanpa pernah merencanakannya.
Tetapi ada satu hal yang rasanya hampir tidak pernah terjadi secara tidak sengaja atau perbuatan spontan. Tindakan tersebut adalah membayar utang.
Membayar utang membutuhkan kemampuan berfikir, membutuhkan kesadaran. Tidak ada orang yang tiba-tiba berkata, “Waduh, tidak sengaja saya melunasi utang saya.”
Menariknya, berutang justru sering terasa jauh lebih mudah. Dengan tutur kata yang meyakinkan, sikap yang baik, penampilan yang sopan, dan dengan janji akan mengembalikan tepat waktu, maka seseorang bisa mendapatkan kepercayaan orang lain.
“Sebentar saja.”
“Nanti saya kembalikan.”
“Bulan depan, ya.”
“Begitu ada uang, langsung saya bayar.”
Awalnya semua terdengar meyakinkan.
Namun seiring waktu berjalan, bulan berganti bulan. Orang yang berutang mulai sibuk dengan urusannya sendiri. Ia lupa. Bahkan terkadang, seolah mengalami “amnesia.”
Lupa bahwa di balik uang yang pernah diterimanya ada amanah yang harus dikembalikan. Sementara orang yang memberikan pinjaman mungkin juga sedang membutuhkan uang itu.
Utang kemudian bukan lagi sekadar persoalan angka.
Utang adalah persoalan amanah.
Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap persoalan utang. Dalam riwayat dikisahkan bahwa pernah dibawa seorang jenazah kepada Rasulullah ﷺ untuk dishalatkan. Beliau bertanya apakah orang tersebut memiliki utang. Ketika dijawab tidak, maka Rasulullah ﷺ menshalatkannya.
Ini merupakan bentuk penekanan betapa seriusnya persoalan utang, sekaligus pendidikan kepada masyarakat agar tidak meremehkannya.
Ada pelajaran yang sangat dalam di sana.
Utang dapat terus mengikuti seseorang meskipun kehidupannya di dunia telah berakhir.
Hari ini, persoalan ini justru semakin relevan. Utang bukan hanya uang yang dipinjam dari tetangga atau saudara. Ada cicilan, pinjaman pribadi, kartu kredit, paylater, pinjaman daring, utang dagang, bahkan uang yang dipinjam dari teman dengan alasan “sebentar saja”.
Teknologi membuat seseorang semakin mudah mendapatkan pinjaman. Tetapi kemudahan mendapatkan pinjaman tidak otomatis membuat seseorang lebih mudah mempertanggungjawabkannya.
Oleh karenanya, sebelum berutang, sangat penting untuk bertanya kepada diri sendiri dan mempertimbangkan secara dalam, apakah benar-benar membutuhkan, atau hanya menginginkan?
Mengkaji ulang apakah dirinya memiliki kemampuan untuk mengembalikan utang tersebut.
Jika terjadi sesuatu pada dirinya, siapa yang akan menanggung utang tersebut?
Bagi mereka yang sudah terlanjur berutang, jangan berfikir untuk menunggu ditagih.
Jangan menunggu pemberi pinjaman kehilangan kesabaran.
Jangan membuat orang lain merasa bersalah karena menagih haknya sendiri.
Jangan bersembunyi di balik kalimat, “Saya belum punya uang.”
Jika memang belum mampu membayar, berbicaralah dengan jujur. Jelaskan keadaan. Susun kesepakatan dan membayar sedikit demi sedikit sesuai dengan kemampuan yang didorong oleh niat baik.
Terkadang yang sering melukai hati pemberi pinjaman bukan semata-mata keterlambatan.
Tetapi ketika orang yang berutang tiba-tiba menghindarinya, menghilang, dan berpura-pura lupa.
Meminjam uang mungkin hanya membutuhkan keberanian untuk meminta. Tetapi mengembalikannya membuktikan integritas seseorang.
Maka mungkin benar dikatakan bahwa pekerjaan paling mudah adalah berutang, sedangkan pekerjaan yang paling berat adalah membayar utang.
Bukan karena membayar utang selalu membutuhkan uang yang banyak, tetapi karena membayar utang membutuhkan sesuatu yang jauh lebih mahal yaitu kejujuran, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa setiap rupiah yang bukan milik kita merupakan amanah yang harus dikembalikan.
“Jangan sampai kita begitu pandai meminta pertolongan ketika membutuhkan, tetapi begitu sulit ditemukan ketika tiba waktunya mengembalikan.”
Banuayu, Jum’at, 25 September 2026
Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)
