WiFi Gratis di Mesjid Jihad Simpang Tinju Padang, Cara Kreatif Bikin Anak-Anak Betah dan Rajin Salat

Sekelompok anak-anak tengah asyik main gawai menggunakan WiFi gratis di Mesjid Jihad Simpang Tinju Padang usai shalat Asar, Senin (23/2/2026). (Foto Hendri Parjiga/ fokussumbar.com)

MESJID Jihad Simpang Tinju, Kelurahan Kampung Olo, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, punya cara kreatif agar anak-anak betah berada di rumah ibadah. Masjid yang berada di dekat lapangan Persatuan Sepakbola Kampung Olo Nanggalo (Persekon) itu menyediakan WiFi gratis untuk jamaah, dan fasilitas ini menjadi magnet tersendiri bagi generasi muda.

Pantauan di lokasi, Senin (23/2/2026) siang, belasan anak usia SD dan SMP tampak asyik menggunakan gawai masing-masing. Sebagian mencari tugas sekolah, menonton video pembelajaran, hingga bermain gim daring.

Suasana tetap tertib, sementara kipas angin yang berputar membuat mereka semakin nyaman meski cuaca Kota Padang cukup terik.

Anak-anak mulai berdatangan selepas Salat Zuhur atau setelah mengikuti kegiatan pesantren Ramadan. Mereka bertahan hingga waktu Asar, bahkan ada yang baru pulang sekitar pukul 17.00 WIB.

Tidak hanya anak laki-laki yang memenuhi saf depan masjid, di ruangan sebelah anak-anak perempuan juga melakukan aktivitas serupa. Ada yang duduk bersila, ada yang rebahan sejenak karena berpuasa, namun tetap menunggu waktu salat berjamaah.

Salah seorang siswa kelas VI SD, mengaku senang bisa menghabiskan waktu di masjid.

“Kalau di rumah kadang cepat bosan. Di sini bisa pakai WiFi gratis, cari tugas sekolah, nanti sekalian salat berjamaah,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan siswi kelas VII SMP.

“Kalau ada PR saya kerjakan di sini. Habis itu tunggu Asar. Jadi lebih enak dan ramai sama teman-teman,” katanya sambil tersenyum.

WiFi Gratis Masjid Jadi Pintu Masuk Pembinaan

Tokoh pemuda Kampung Olo, Agung, menyebut penyediaan WiFi gratis di masjid adalah langkah sederhana namun berdampak besar.

“Saya senang sekali melihat anak-anak ramai di masjid. Awalnya mungkin karena WiFi, tapi lama-lama mereka jadi terbiasa salat berjamaah di sini,” katanya.

Menurut Agung, dibandingkan anak-anak keluyuran tanpa pengawasan, lebih baik mereka menghabiskan waktu di lingkungan masjid.

“Daripada main tidak jelas di luar, di sini mereka tetap terpantau. Sambil main, dengar azan, lalu ikut salat. Itu yang paling penting,” tambahnya.

Fenomena WiFi gratis di masjid ini menunjukkan pendekatan dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Kehadiran internet dimanfaatkan bukan hanya sebagai fasilitas teknologi, tetapi juga sebagai sarana mendekatkan anak-anak pada lingkungan ibadah.

Di tengah era digital dan maraknya penggunaan gawai, langkah kreatif seperti yang dilakukan Mesjid Jihad Simpang Tinju menjadi contoh bagaimana masjid bisa menjadi ruang yang ramah anak, nyaman, sekaligus produktif.

WiFi mungkin hanya jaringan tak terlihat. Namun di masjid ini, ia menjadi jembatan—menghubungkan dunia digital dengan saf salat, serta mendekatkan generasi muda pada kebiasaan baik sejak dini. (hendri parjiga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *