Cerpen : Nurul Jannah*)
“Ada perempuan-perempuan yang setiap hari meninggalkan rumah demi menghidupi keluarganya, tanpa pernah tahu bahwa suatu malam, perjalanan itu menjadi perjalanan terakhir dalam hidupnya.”
Malam itu Jakarta masih menyala.
Kota tidak pernah benar-benar tidur. Kereta masih datang dan pergi. Langkah manusia masih tergesa mengejar hidup yang terasa semakin mahal dari hari ke hari.
Di antara kerumunan penumpang yang berdesakan menuju gerbong KRL malam itu, berdiri seorang perempuan muda bernama Nina Kusumaningtyas.
Tubuhnya kecil. Wajahnya tampak lelah. Matanya menyimpan kantuk yang sudah berhari-hari tidak benar-benar lunas.
Namun seperti kebanyakan ibu, Nina terbiasa menyembunyikan lelahnya di balik satu kalimat sederhana,
“Aku nggak apa-apa.”
Padahal sebenarnya, ia sudah sangat lelah dan hampir kehilangan tenaganya. Di dalam tas kain lusuh yang dipeluknya erat, ada satu botol ASI perah.
Bukan barang mahal. Namun di situlah cinta seorang ibu disimpan.
Nina baru dua puluh sembilan tahun. Ia bukan perempuan hebat yang sering muncul di televisi. Bukan perempuan dengan hidup mewah dan mudah.
Ia hanya seorang ibu biasa. Ibu muda yang setiap pagi harus meninggalkan anak kecilnya demi membantu kehidupan keluarganya tetap berjalan.
Anak itu bernama: Karunia Ilham.
Usianya belum genap setahun. Baru sebelas bulan. Masih menyusu.
Masih sering tertidur di dada ibunya sambil menggenggam ujung baju Nina dengan tangan kecilnya.
Dan setiap kali Nina berangkat kerja, selalu ada tangis kecil yang tertinggal di rumah.
Pagi tadi, Karunia rewel sejak subuh. Entah mengapa, anak kecil itu terus memeluk ibunya lebih erat dari biasanya. Nina menggendongnya sambil mencium rambutnya berkali-kali.
Lama sekali. Seolah hatinya berat meninggalkan rumah pagi itu.
“Ibu kerja dulu ya, Sayang…”
Karunia tetap menangis. Tangannya yang kecil menarik-narik rambut Nina pelan.
Suaminya yang melihat itu sempat berkata:
“Hari ini jangan berangkat dulu kalau capek…”
Nina tersenyum kecil. Senyum perempuan yang terlalu sering kalah oleh keadaan, tetapi tetap memaksa dirinya untuk bertahan.
“Kalau aku berhenti, masa depan Karunia gimana?”
Kalimat itu sederhana. Namun di dalamnya ada dunia yang tidak pernah benar-benar dipahami banyak orang: tentang perempuan yang tetap berjalan meski tubuhnya hampir runtuh, karena hidup tidak memberi mereka ruang untuk memilih, apalagi untuk menyerah.
Hari itu Nina bekerja seperti biasa. Tetap menyapa orang dengan ramah. Tetap menyelesaikan pekerjaannya. Tetap terlihat kuat.
Padahal sejak beberapa minggu terakhir, tubuhnya semakin sering gemetar karena kurang istirahat. Karunia sering terbangun tengah malam untuk menyusu.
Paginya, Nina harus bangun jauh waktu sebelum matahari terbit.
Memasak. Menyiapkan pakaian. Merapikan rumah seadanya. Lalu berangkat kerja dengan mata yang belum benar-benar terbuka sempurna. Namun dunia jarang peduli pada lelah perempuan.
Selama mereka masih tersenyum, orang mengira semuanya baik-baik saja.
Malam itu, Nina duduk di sudut gerbong. Kepalanya bersandar pelan di dekat jendela.
Jakarta berlari dalam cahaya lampu yang samar. Ia membuka galeri ponselnya. Video Karunia, anak tercintanya, memenuhi layar.
Tawa kecil anak itu terdengar.
“Mamaa…”
Nina tersenyum sendiri. Matanya mulai basah. Rindu rumah selalu menjadi alasan terkuatnya untuk bertahan hidup.
Ia membayangkan sebentar lagi akan sampai rumah. Membayangkan anaknya yang biasanya langsung merangkak cepat begitu melihat ibunya datang.
Membayangkan tubuh kecil itu tertidur sambil menyusu di dadanya. Hal-hal sederhana. Namun justru itulah surga bagi seorang ibu.
Lalu semuanya berubah. Begitu cepat. Begitu kejam. Benturan keras memecahkan malam.
Suara besi menghantam besi terdengar seperti langit runtuh. Begitu brutal dan memekakkan telinga.
Gerbong terguncang hebat.
Tubuh manusia terlempar satu sama lain. Jeritan pecah di mana-mana.
Lampu berkedip. Lalu gelap total.
Dan waktu, seakan dihentikan paksa oleh takdir.
Di detik itu, Nina tidak sempat memikirkan dirinya sendiri. Tidak sempat takut. Tidak sempat meminta tolong.
Yang muncul di kepalanya hanya satu: Karunia Ilham. Anaknya. Anak kecil yang malam itu masih menunggu ibunya pulang untuk menyusu sebelum tidur.
Dan sepertinya ,tidak ada lagi cinta yang lebih menggetarkan daripada cinta seorang ibu. Bahkan di ambang kematian, yang ia pikirkan tetap anaknya.
Di rumah kecil mereka, malam berjalan lambat. Jam dinding terus bergerak. Namun pintu belum juga terbuka.
Karunia menangis lebih lama dari biasanya. Berkali-kali ia menoleh ke arah pintu, seolah tubuh kecilnya merasakan bahwa ada yang tidak biasa pada malam itu.
Suami Nina mulai panik. Rasa takut dan cemas perlahan memenuhi dadanya. Telepon tidak tersambung. Pesan tidak dibalas.
Dan rumah kecil itu perlahan dipenuhi kecemasan yang sulit dijelaskan dengan kata.
Kabar itu datang menjelang subuh.
Pendek.
Dingin.
Namun mampu mematahkan hidup dalam sekejap.
Nina Kusumaningtyas tidak pulang.
Tangis pecah. Bukan tangis biasa. Tetapi tangis orang-orang yang baru sadar, bahwa kehilangan kali ini tidak main-main, kehilangan yang tidak akan pernah benar-benar selesai.
Tetangga berdatangan. Doa dibacakan. Namun rumah itu tetap terasa kosong.
Di sudut kamar, baju kerja Nina masih tergantung rapi. Botol susu kecil masih tergeletak di meja.
Dan di atas tempat tidur, Karunia terus menangis mencari dada ibunya. Mencari pelukan yang tidak akan pernah kembali.
Karunia Ilham masih terlalu kecil untuk mengerti arti kematian.
Ia hanya tahu, ibunya tidak datang. Tidak menggendongnya lagi. Tidak menyusuinya lagi. Tidak mencium keningnya lagi.
Dan, tidak ada luka yang lebih nyeri daripada seorang anak kecil yang tumbuh bersama kerinduan kepada ibu yang bahkan tidak sempat ia ingat wajahnya dengan utuh.
Nina hanyalah satu dari ribuan perempuan di gerbong KRL.
Perempuan-perempuan yang setiap hari bangun sebelum subuh, pulang saat langit sudah gelap, menyembunyikan lelah, menelan tangis, namun tetap berjalan dan bertahan demi keluarga.
Mereka bukan sedang mengejar kemewahan.
Mereka hanya sedang berjuang agar orang-orang yang mereka cintai tetap hidup lebih baik.
Namun sering kali, perjuangan mereka terlalu sunyi untuk benar-benar dilihat dan dihargai oleh dunia.
Kini kereta tetap berjalan. Rel tetap dipenuhi perjalanan. Stasiun tetap ramai.
Namun di sebuah rumah kecil, ada seorang anak yang akan tumbuh bersama satu pertanyaan yang tidak pernah selesai, “Kenapa ibu tidak pulang malam itu?”
Dan tidak ada jawaban di dunia ini yang benar-benar mampu menenangkan kehilangan seperti itu.
Mungkin beginilah cara Allah memuliakan sebagian perempuan.
Mereka hidup dalam lelah. Mereka wafat dalam perjuangan. Lalu pulang kepada-Nya, membawa cinta yang belum sempat selesai diberikan kepada dunia. “Karena tidak semua syahid gugur di medan perang. Sebagian dipanggil Allah saat sedang berjuang mencari nafkah, demi anak-anak yang mereka cintai lebih dari hidupnya sendiri.”
Bogor, 15 Mei 2026✍️
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




