Mix Media | 50 x 60 cm | 2026
Oleh : Nurul Jannah*)
“Ia tidak pernah pergi, kita yang perlahan meninggalkannya.”
Di hadapan lukisan ini, kita tidak hanya melihat, kita justru ditarik masuk ke dalam tubuh bumi yang retak, yang menyimpan banyak luka.
Lapisan demi lapisan tanah itu tidak rata. Ia bergelombang, patah, dan penuh serpihan, seperti sejarah panjang yang pernah dirawat, lalu perlahan dilukai oleh tangan-tangan yang lupa diri.
Ranting-ranting yang melintang itu seperti urat nadi bumi, yang mencoba tetap mengalir meski terhimpit.
Daun-daun yang mengering, yang ditempelkan dengan jujur, bukan hanya ornamen, mereka adalah saksi bisu dari kehidupan yang pernah hijau, lalu dibiarkan gugur tanpa sempat dipeluk kembali.
Dan lihatlah, tulisan-tulisan itu hadir di atas daun, seolah wahyu yang diturunkan bukan di langit, melainkan di tubuh bumi yang sedang terluka.
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik.”(QS Al-A’raf: 56)
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.”(QS Ar-Rum: 41)
Ayat itu tidak lagi terdengar sebagai nasihat. Ia berubah menjadi teguran yang hidup.
Lukisan ini seperti berbicara dengan pelan, tetapi menembus sangat dalam, bahwa kerusakan itu bukan datang tiba-tiba, ia tumbuh dari pilihan-pilihan kecil yang kita abaikan, dari keserakahan yang kita anggap biasa, dari diam yang kita kira tidak berdosa.
Namun, di antara retakan itu, masih ada warna hijau yang bertahan.
Masih ada kehidupan yang menolak menyerah. Masih ada harapan yang tidak mau padam.
Seperti bumi, yang meski dilukai berkali-kali, tetap memilih untuk menunggu.
Menunggu manusia kembali. Menunggu kesadaran tumbuh. Menunggu tangan yang sama yang merusak, berubah menjadi tangan yang merawat.
Karya ini bukan hanya lukisan. Ia adalah cermin yang jujur. Yang memaksa kita bertanya, bukan tentang apa yang terjadi pada bumi, tetapi tentang apa yang telah kita lakukan padanya.
Dan mungkin, di titik paling sunyi itu, kita akan mendengar satu bisikan yang tidak bisa lagi diabaikan.
Bumi tidak pernah meninggalkan kita. Kitalah yang perlahan meninggalkannya.
Bogor, 16 April 2026❤🔥
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




