Oleh: Nurul Jannah*)
Ketika Jam Gadang Tidak Lagi Diam
Buku ini tidak hadir hanya sebagai karya sastra bertema sejarah.
Ia juga hadir sebagai ruang ingatan.
Ruang perenungan.
Ruang untuk mendengar kembali suara-suara lama yang hampir tenggelam oleh zaman.
Dan kekuatan buku ini sudah terasa sejak halaman pembuka.
Kehadiran Sastri Bakry, Ketua Festival Literasi Internasional Minangkabau, sebagai pembuka buku, memberi penegasan bahwa karya ini bukan antologi biasa. Ada ruh budaya, ada penghormatan terhadap sejarah Minangkabau, dan ada kesadaran bahwa literasi bukan hanya tentang menulis, tetapi juga tentang merawat ingatan kolektif sebuah bangsa.
Semakin kuat lagi ketika buku ini menghadirkan tulisan tamu dari Yusrizal Karana, penulis Hadiah Ratu Wilhelmina. Kehadiran beliau menjadi jembatan antara sejarah, sastra, dan kesadaran budaya yang lebih luas. Pembaca tidak hanya diajak menikmati cerita, tetapi juga diajak menyelami jejak kolonialisme, identitas, dan perjalanan panjang masyarakat Minangkabau menghadapi perubahan zaman.
Ketika Jam Gadang Menjadi Ruang Ingatan
Selama ini banyak orang mengenal Jam Gadang sebagai:
- ikon Bukittinggi,
- pusat wisata,
- latar foto,
- atau simbol kebanggaan Sumatera Barat.
Namun di tangan tiga penulis ini, Jam Gadang berubah menjadi saksi bisu sejarah, penjaga luka, penampung kenangan, bahkan seperti makhluk tua yang diam-diam menyimpan ribuan cerita manusia.
Kalimat pembuka dalam buku ini langsung memukul kesadaran pembaca:
“Di antara dentang waktu, ada kisah yang tetap setia menunggu untuk didengar.”
Dan memang itulah yang dilakukan buku ini, membuka kembali suara-suara yang terlalu lama tertimbun sejarah besar.
Kekuatan Nurul Jannah: Sunyi yang Menghantam
Bagian tulisan Nurul Jannah adalah salah satu kekuatan emosional terbesar dalam buku ini.
Ia menulis dengan gaya yang cool, tetapi menusuk sangat dalam.
Ia tidak menulis dengan ledakan emosi.
Ia memilih jalan sunyi.
Tidak berisik.
Tidak dramatis berlebihan.
Namun justru karena itu, luka-luka dalam ceritanya terasa nyata.
Dalam cerpen “Jantung Putih Menara”, misalnya, pembaca diajak melihat bagaimana sebuah bangunan megah ternyata dibangun dari:
- tubuh pekerja,
- peluh rakyat
- putih telur rakyat
- dan nama-nama yang nyaris dihapus sejarah.
Kalimat seperti:
“Waktu yang paling kejam adalah waktu yang membuat manusia lupa pada manusia.”
bukan hanya indah secara sastra, tetapi juga meninggalkan gema panjang setelah dibaca.
Nurul tidak menulis sejarah sebagai data.
Ia menulis sejarah sebagai luka yang masih hangat.
Puji Setya Wilujeng: Visual yang Bernapas
Puji Setya Wilujeng menghadirkan atmosfer yang sangat visual dan sinematik.
Tulisan-tulisannya seperti lukisan bergerak:
- kabut,
- jalan sunyi,
- dentang jam,
- tatapan mata,
- dan rasa kehilangan, semuanya terasa hidup di kepala pembaca.
Puji memiliki kemampuan membangun suasana dengan sangat halus.
Pembaca dibuat masuk perlahan ke dunia yang tampak indah, namun diam-diam retak di dalamnya.
Ada romantisme, ada kerinduan, ada luka psikologis yang terasa panjang dan membekas.
Shintalya Azis: Perempuan dan Keteguhan
Sementara itu, Shintalya Azis menghadirkan sisi yang lebih personal dan reflektif.
Ia membawa pembaca masuk ke ruang:
- perempuan,
- kehilangan,
- cinta,
- keteguhan, dan perjuangan menjaga martabat dalam kerasnya sejarah.
Tulisan-tulisannya membuat masa lalu terasa dekat.
Bukan seperti kisah tua yang jauh, tetapi seperti emosi yang masih hidup hingga hari ini.
Buku Ini Tidak Sedang Membicarakan Menara
Inilah kekuatan terbesar Dentang Waktu.
Ia tidak sedang berbicara tentang bangunan. Ia sedang berbicara tentang manusia-manusia kecil, rakyat yang dilupakan, pekerja yang hilang dari arsip,
dan luka yang diam-diam diwariskan dari generasi ke generasi.
Jam Gadang hanyalah pintu masuknya.
Yang benar-benar dibicarakan buku ini adalah: kemanusiaan.
Bahasa yang Indah, Tetapi Tetap Membumi
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah gaya bahasanya.
Puitis tanpa terasa rumit.
Indah tanpa kehilangan makna.
Menyentuh tanpa terasa berlebihan.
Banyak kalimat terasa seperti puisi, namun tetap mudah dipahami.
Misalnya:
“Bukittinggi tidak pernah benar-benar menyambut. Ia hanya membiarkanmu datang…”
atau:
“Menara paling tinggi bukan yang menyentuh langit, melainkan yang sanggup menampung nama-nama yang hampir ditenggelamkan.”
Kalimat-kalimat seperti ini membuat pembaca berhenti sejenak… lalu merenung lama.
Buku yang Membuat Dada Sesak
Buku ini tidak selalu nyaman dibaca. Karena kadang sejarah yang jujur memang sering menghadirkan rasa tidak nyaman.
Ada bagian yang membuat dada terasa sesak.
Ada cerita yang memunculkan kemarahan.
Ada pula halaman-halaman yang membuat pembaca sadar, bahwa selama ini kita terlalu sering menikmati kemegahan sejarah tanpa pernah bertanya siapa yang dikorbankan untuk membangunnya.
Buku yang Penting Dibaca
Dentang Waktu layak dibaca:
- pencinta sastra,
- penikmat sejarah,
- pegiat literasi,
- mahasiswa,
- guru,
- penulis, hingga siapa pun yang pernah berdiri di bawah Jam Gadang tanpa benar-benar mengenalnya.
Karena setelah membaca buku ini, dentang Jam Gadang tidak akan pernah terdengar sama lagi.
Ia akan terasa lebih manusiawi, lebih pilu, lebih hidup, dan jauh lebih bermakna.
Penutup
Pada akhirnya, Dentang Waktu adalah buku tentang ingatan. Tentang bagaimana sejarah tetap hidup, selama masih ada hati yang bersedia mendengar.
Nurul Jannah, Puji Setya Wilujeng, dan Shintalya Azis berhasil menghadirkan karya yang bukan hanya indah secara sastra, tetapi juga penting secara nurani.
Sebuah buku yang membuat pembaca sadar, bahwa bangunan paling megah pun, kadang berdiri di atas suara-suara kecil yang cukup lama dipaksa diam.
Bogor, 26 Mei 2026✍️
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




