“Pohon di Depan Rumah”

Oleh: Nurul Jannah*)

Pohon itu masih berdiri. Tegak dan rindang. Batang tuanya semakin besar. Akar-akarnya pun semakin mencengkeram tanah. Dahannya terus menegak, seolah memeluk langit.

Kemudian muncul sebuah pertanyaan yang membuat diri ini terdiam.

Sudah berapa banyak jasa yang diberikan pohon itu kepada keluarga kami?

Belum sempat menemukan jawabannya, pertanyaan lain sudah datang menyusul.

Sudah berapa kali kami mengucapkan terima kasih kepadanya?

Jawabannya sangat memalukan; hampir tidak pernah mengucapkan terima kasih.

Padahal pohon itu telah hadir jauh hari ketika tangis bayi masih sering terdengar dari dalam rumah. Ketika sepeda-sepeda kecil bersandar sembarangan di teras. Ketika sandal anak-anak berserakan ke mana-mana.

Ketika ibu sibuk memanggil dari dapur.

“Ayo mandi dulu… sudah sore!”

Dan seperti kebanyakan anak-anak, panggilan itu sering dianggap angin lalu.

“Sebentar, Bu!”

Padahal “sebentar” bisa berarti satu jam. Anak-anak tetap berlarian. Dan pohon itu menjadi saksi semua kegembiraan tersebut.


Setiap sore halaman rumah berubah menjadi dunia kecil yang penuh tawa. Ada yang bermain petak umpet. Ada yang bermain bola. Ada yang membuat benteng dari kardus bekas. Ada pula yang sibuk memanjat akar pohon sambil membayangkan dirinya sedang menjelajahi hutan.

Suatu sore, sebuah bola plastik tersangkut di dahan yang cukup tinggi.

“Aduh… bolanya nyangkut!” teriak Bima adik terkecilku.

“Ambil dong!”

“Kamu saja!”

“Nggak berani.”

“Ayo panjat!”

Akhirnya Batara, kakakku memberanikan diri memanjat. Baru beberapa langkah naik, suara ibu langsung terdengar dari teras.

“Turun!”

“Sebentar, Bu…”

“Tidak ada sebentar. Turun sekarang juga!”

“Tinggal sedikit lagi.”

“Yang sedikit itu biasanya yang bikin jatuh.”

Anak-anak tertawa. Yang memanjat turun sambil cemberut. Yang lain tetap menertawakan. Dan kalau saja ia bisa tertawa, mungkin pagi itu seluruh daunnya akan bergoyang menahan tawa.


Tahun demi tahun berlalu. Musim berganti. Panas datang. Hujan datang. Kemarau datang. Pohon itu tetap berada di tempat yang sama.

Ketika matahari begitu terik, ia memberi keteduhan. Ketika hujan turun deras, ia menahan sebagian air agar tanah tidak cepat terkikis. Ketika burung-burung mencari tempat singgah, dahannya menjadi rumah sementara. Ketika angin bertiup kencang, ia berdiri paling depan menghadapi cuaca.

Ia memberi tanpa pernah menghitung. Melindungi tanpa pernah meminta balasan.

Waktu pun terus berjalan. Anak-anak tumbuh dewasa. Satu per satu meninggalkan rumah. Ada yang kuliah. Ada yang bekerja. Ada yang menikah. Ada yang tinggal di kota lain. Ada yang pulang hanya pada hari-hari tertentu.

Rumah yang dahulu riuh perlahan menjadi sepi. Tidak lagi terdengar rebutan bola. Tidak lagi terdengar suara sepeda jatuh. Tidak lagi terdengar teriakan petak umpet menjelang magrib.

Pohon itu tetap di sana. Menjaga semua kenangan agar tidak ikut pergi.

Suatu hari, sahabatku Shinta datang berkunjung ke rumah bersama Rhea, cucu tercintanya. Rhea, sang cucu menatap pohon tua itu dengan penuh rasa ingin tahu.

“Nenek…”

“Iya?”

“Pohon itu umurnya berapa?”

“Tua sekali.”

“Lebih tua dari Nenek?”

Pertanyaan itu membuat seluruh rumah tertawa.

“Nenek masih menang.”

Rhea berhenti sejenak. Lalu kembali bertanya.

“Kalau pohon itu bisa bicara, dia bakal ngomong apa?”

Pertanyaan polos itu membuat hati ini tercekat.

Ya, kalau pohon itu bisa bicara, apa yang akan ia katakan?

Mungkin ia akan berkata, “Aku ingat ketika kalian masih berlarian di bawahku. Aku ingat ketika ayah pulang kerja menjelang senja. Aku ingat ketika ibu menyapu halaman setiap pagi. Aku ingat ketika kalian bertengkar karena hal-hal kecil lalu berbaikan sebelum malam. Aku ingat suara tawa yang memenuhi rumah ini. Aku ingat ketika semuanya masih lengkap.”

Kalimat terakhir itu terasa seperti mengetuk pintu kenangan. Iya, ketika semuanya masih lengkap. Ada ayah. Ada ibu. Ada anak-anak. Ada cerita.

Barangkali pohon itu juga akan berkata, “Terima kasih karena kalian membiarkanku tumbuh.”

Cinta kepada bumi sering kali dimulai dari tempat yang paling dekat. Dari halaman rumah. Dari sebatang pohon. Dari rasa syukur terhadap kehidupan yang selama ini hadir tanpa banyak suara.

Dan, pagi itu, tangan ini perlahan menyentuh batang pohon tua itu Kasar. Kokoh. Hangat oleh sinar matahari yang mulai turun. Entah mengapa dada ini terasa penuh. Seolah ia tahu bahwa akhirnya ada yang datang untuk menyampaikan kalimat sederhana, “Terima kasih…”.

Karena pada akhirnya, yang paling berjasa adalah yang selalu setia bersama. Menemani musim berganti. Menemani anak-anak bertumbuh. Menemani keluarga melewati tawa dan air mata. Menjadi saksi ketika rumah ramai. Menjadi saksi juga ketika rumah mulai sunyi.

Tetap setia berada di tempat yang sama, sekalipun waktu telah mengubah segalanya. Maka jika suatu hari melewati pohon tua di depan rumah, berhenti lah sejenak. Pandanglah ia, di balik batang yang kokoh dan rindang itu, tersimpan ribuan kenangan yang selama ini tersimpan rapih untuk kita.

“Terima kasih telah tumbuh bersama keluarga kami. Terima kasih telah memberi teduh selama puluhan tahun. Terima kasih telah menghasilkan udara sehat setiap saat. Terima kasih telah menjadi rumah bagi burung-burung kecil. Terima kasih telah menjadi bagian dari sejarah keluarga kami😍.

Jakarta, 13 Juni 2026

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *